Rabu, 26 Juli 2023

Saat Usiamu 25 Nanti

 


Apa kabar ? Ada disini yang usianya 25 tahun, atau mungkin yang sedang berjalan menuju angka itu, atau yang sama denganku, yang sudah melebihi angka itu ? 


Saat usia 25 tahun, aku lulus menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil. Saat usia 25 tahun, aku belum menikah sementara teman-teman sudah menggendong anak. Aku iri, namun seiring berjalan waktu, takdir menyibak sedikit demi sedikit kebaikan Allah yang tidak bisa aku lihat.


Saat usia belum 25 tahun, bagaimana jika aku menikah. Apakah aku bisa menjadi PNS ? Mungkin saja tidak, meski mungkin juga bisa. Namun satu yang aku sadari, kita punya porsi hidup masing-masing. Aku lulus CPNS meski jodohnya datang lebih lama, teman jodohnya datang lebih awal, namun berakhir tidak kuliah. 


Teman-teman bahagia hanya tinggal di rumah, membesarkan anak, meraup pahala. Namun aku, banting tulang menafkahi diri sendiri. Ternyata, teman-teman yang sudah menikah pun memikirkan keuangan keluarga. Saat keuangan itu drop, ia juga harus bekerja dengan ijazah seadanya. Sedang aku sudah bekerja, penghasilan stabil, sedikit tidak, bisa membantu perekonomian saat membangun rumah tangga nanti. 


Lagi, ini bukan tentang membandingkan. Ini tentang bagaimana kita harus berfikir luas, saat nanti usia sudah 25 tahun. Sebab, akan banyak penghakiman dari orang-orang tanpa gelar hukum.


"Kapan nikah?"


"Kenapa belum juga nikah?"


"Sudah sarjana kok belum kerja!"


"Sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya jadi pengangguran"


Saat usiamu 25 nanti, apapun yang terjadi, percayalah itu sudah tertakar. Sudah ada sisi baiknya, cobalah untuk menyibak tabir rahasianya. Terima, maknai.



Senin, 01 Mei 2023

FACE



Kenapa belum menikah?

Kapan akan menikah?

Temen-temannya sudah menikah semua?

Pemilih ya?

Kasihan dia, belum menikah!

Dia menikah saja dengan cowok itu!

_________💜________

Aku pernah dikenalkan pada laki-laki oleh teman kajian, aku merasa cocok dan dia pun sama. Namun ketika melihat wajahku, tiba-tiba ia berkata bahwa kita tidak cocok. Lalu pergi, dan satu tahun kemudian dia menikah.

Aku juga pernah dikenalkan pada laki-laki oleh teman kuliah, kita nyambung saat berbicara. Hanya saja tidak pernah bertemu, aku tak ingin terlalu nyaman. Belajar dari pengalaman kemarin, aku berinisiatif mengirimkannya foto. Lalu setelah itu, tidak ada chat di antara kita.

Dua kali, aku sudah tidak ingin dikenalkan meski masih banyak teman yang menawarkan. Aku akan memilih sendiri, sesuai inginku. Namun aku tak banyak bergaul, tak punya sircle teman laki-laki. Usia semakin betambah, pertanyaan 'kapan menikah' makin sering terdengar. Terlebih saat teman main terakhir juga menikah.

Bukan mati rasa, hanya malas merasa. Seperti, sudah tahu endingnya. Namun beberapa waktu lalu, seorang teman kerja meminta ijin untuk mengenalkanku pada seorang laki-laki yang berprofesi sebagai Apoteker dengan pendidikan terakhir Strata dua. Aku mencoba sekali lagi, mungkin ia merasa cocok dari biodata yang aku tulis. Tak ada yang spesial, aku menulis sejujur-jujurnya, bahkan tentang wajah. 'Aku mempunyai wajah dgn bibir yg tak rata, TIC facial dextra sebutannya'.

Setelah bertukar biodata, teman menyampaikan, ingin melihat wajah. Aku mengirimkannya, sesuai dugaan, teman berkata

"Cantik, tapi ia ingin membicarakan dulu dengan orangtuanya"

Aku tertawa, padahal itu alasan untuk menolak.

Aku memang tidak pernah bisa mendapatkan laki-laki sendiri, selalu dari teman, selalu dikenalkan. Hanya sekali, aku bisa mengenal laki-laki secara langsung. Dia teman sekolah, seorang laki-laki yang aku cinta selama masa sekolah. Terjeda selama masa perkuliahan, lalu takdir membuat rasa itu kembali, tentu dengan aku yang menghubungi lebih dulu.

Menghubunginya lagi penuh pertimbangan 

"rasa itu gag akan kembali lagi kan, gag mungkin kan" setelah yakin aku bisa mengendalikan diri, barulah aku mengirimkannya pesan singkat. 

Aku menghubunginya karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Namun ternyata salah, aku jatuh untuk kedua kalinya pada laki-laki yang sama. Ketahuilah, ini juga cinta sebelah pihak. Cinta yang juga tertolak karena wajah.

Aku mencintainya sangat dalam, hingga aku merasa, tak akan bisa melupakannya. Aku mengajaknya menikah, meski aku tahu ia tak ada rumah, aku tak masalah tinggal dengan mertua. Aku mengenal diriku, aku bisa beradaptasi, aku bisa membuat mereka nyaman dengan ku. Hingga tak masalah, jika memang harus tinggal bersama.

Dia bukan seorang sarjana, aku tetap memintanya untuk menikah denganku, ia hanya tidak kuliah tapi bukan berarti dia bodoh, lagi pula gen otak anak di ambil dari gen ibu. Meski aku tidak pintar, namun aku tidak keberatan jika nanti anak-anak ku mewariskan otak atau cara berfikirku.

Bahkan saat aku tahu dia tak mempunyai pekerjaan, aku tetap mau menikah dengannya. Aku merasa, gaji PNS bisa untuk hidup, asal jangan untuk memenuhi gaya hidup. Intinya, aku buta saat itu. Aku menerima semua kurangnya, aku menerima ia yang seorang perokok, aku menerima ia dengan rambut gondrongnya. Aku menerima ia dengan dirinya, hanya saja aku tak punya wajah yang ia cari.

Aku berfikir, aku harus melupakannya. Teman-teman juga berkata, bahwa aku harus move on. Mereka memberi saran, dengan menyibukkan diri kita bisa cepat melupakan seseorang. Memang benar, saat tugas negara begitu banyak, aku lupa. Namun saat sepi melanda, aku teringat kembali. Ingin menghubungi, atau memberi kode agar ia yang menghubungi.

Dari saran teman-teman, tak ada satu cara pun yang benar-benar bisa membuatku melupakannya. Bahkan dengan cara mencari keburukannya sekali pun, bukankah aku sudah mengatakan, aku menerima baik dan buruknya, kurang lebihnya. Sebenarnya, aku tahu satu cara move on paling cocok untuk ku, hanya saja aku tak mau melakukan dengan cara itu.

Setiap keluar, atau saat bertemu dengannya, aku merasa tidak dihargai, bahkan sebagai teman. Padahal ia yang sering berkata 

"kita temanan saja" namun nyatanya ia tak bisa memperlakukanku seperti temannya.

Aku melihat, ia memperlakukan ku seperti seorang yang malu terhadap orang lain. Ia malu bersama dengan ku, kenapa harus malu jika kita  berteman. Mau jelek atau buruk rupa, tak pernah ada teman yang malu dengan temannya.

Perlakuan seperti itu yang tidak pernah bisa aku terima, hingga akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan cara terakhir. Sebuah cara yang cocok untukku melupakan segala hal-hal tak baik yang ingin aku lupakan, salah satunya cinta dan laki-laki. Menjadi fangirl, kebetulan saat itu juga tengah viral salah satu member BTS 'Jeon Jungkook' yang membawakan main song untuk pembukaan piala dunia Qatar.

Aku mencari tahu tentang mereka, hingga aku tahu tentang fakta bahwa mereka terkenal bukan hanya karena wajah 'plastik' yang kata kebanyakan orang. Namun lebih dari itu, mereka terkenal karena perjuangannya, kerja keras dan prestasinya. Mereka mulai dari agensi atau perusahaan kecil, lalu tumbuh dan melahirkan banyak karya yang membuatku terpesona.

Kata teman "jangan jadi anak kpopers, jangan menggilai oppa-oppa, kafir."

Aku bukan kpopers, aku bukan penggemar, aku juga tak mengidolakan mereka. Aku menganggap mereka teman, apa tak boleh berteman dengan yang beda agama? Saat duduk di bangku kuliah atau saat berada di dunia kerja, kita bebas berteman dengan siapa saja, termasuk dengan mereka yang berbeda agama. Lantas sekarang, mengapa tak boleh berteman dengan BTS?

Karena gag pernah bertemu? Ini pertemanan virtual, teman online.

Sekarang, untuk dia yang pernah aku cintai sangat dalam. Untuk dia yang sempat aku terima baik buruk kurang lebihnya, sudah tidak ada apa-apa dihati, hidup, dan fikiran. Bahkan aku berfikir 

"kok bibirnya hitam, kok rambutnya gag cocok, kok kulitnya jadi gelap, kok gag bersih, kok gag cakep seperti dulu."

Memang benar quotes yang berbunyi 'bukan tampan yang membuat cinta, tapi cintalah yang membuat seseorang terlihat tampan'.

Ternyata selama ini, aku memang mencintainya dengan tulus, bukan karena fisik atau wajah. Cintaku membuat ia terlihat tampan, cintaku membuat ia terlihat sempurna. Buktinya, setelah cinta itu tak ada, ia tak terlihat tampan, ia cacat. Detik ini, jangankan buruk dan kurangnya, baik dan lebihnya saja aku tak bisa terima.

________💜________

 "Kita berteman saja"

Ya, seperti inilah aku berteman. Cuek, bukan prioritas, respect hanya ketika ingin. 

Sedikit Quotes yang aku petik dari kutipan leader BTS

"Bahkan jika kamu tidak sempurna, kamu adalah edisi terbatas" -Kim Namjoon-

Bagaimana pun keadaan wajahku, meski bibir tak rata dan simetris. Aku adalah edisi terbatas, aku limitid edition, aku satu-satunya yang Allah ciptakan seperti ini. Aku langka, dan ini bukan kekurangan, tapi keunikan. Aku unik! Ini adalah wajah yang paling pas untuk ku, sebab Allah adalah sebaik-baiknya pencipta.


______To Be Continue 💜______

Jumat, 10 Maret 2023

Flash Fiction

 


"Kencan yuk, ke perpustakaan"

Lalu dia duduk dengan bukunya, aku pun asik dengan bacaanku. Satu jam setengah tanpa obrolan, dia berkata

"Sudah selesai?"

"Belum" jawabku.

"Pinjem aja, lanjut baca dirumah"

Setelah itu, kita berjalan menuju parkiran.

"Mw kencan kemana lagi?"

"Pantai?"

"Boleh"

Sesampai disana, dia bertanya tentang buku yg aku baca.

"Buku apa yg kau baca?"

"Buku fiqih wanita"

"Bukankah itu sudah kau khatam"

"Baca ulang, agar tambah mantap. Bukankah banyak juga para ulama yg suka membaca satu buku lebih dari sekali"

"Benar, di buku Gila Baca Ala Ulama aku pernah membaca itu. Bahkan ada quotes yg aku suka, membaca satu buku sebanyak tiga kali lebih bermanfaat dari pada membaca tiga buku dengan sekali baca"

Aku tersenyum, sambil berkata 

"aku suka"

"Aku tahu" timpalnya.

"Apa yg kau tahu?"

"Kau menyukaiku"

Dari senyum, menjadi tawa. Dia memang paling hebat, dalam hal membuatku bahagia.

"Tapi bukan itu, aku suka kau yg mampu mengingat isi dari buku yg kau baca, meski kau lakukan hanya sekali"

"Itu nilai lebihku sehingga membuat lisanmu tak berat berkata 'iya' saat aku mengajakmu menikah"

Aku merangkul lengannya, menyandarkan kepalaku dibahunya. Entah kapan senja akan datang.

_________________

Selasa, 03 Januari 2023

SENJA DI HUBBULWATHAN

Bertemu kembali tanpa sengaja, setelah melewati banyak senja di tempat yang berbeda. Banyak kata yang terjalin dipertemuan pertama, salah satunya cinta.

"apa kau sudah mempunyai seseorang yang kau cintai?"

"iya"

"seorang laki-laki?"

"tentu saja"

"siapa?"

"aku tidak bisa menjelaskan detailnya, mungkin hanya inisial namanya saja"

"boleh, tidak apa-apa"

"inisial M"

"Muhammad?"

Aku terdiam

"kenapa kau tidak ingin menikah dengan ku?" lanjutnya.

"sudah berapa kali aku katakan, aku tidak menemukanmu dalam istikharahku."

"tapi aku menemukanmu"

"sudahlah Joe"

"baiklah, aku tidak ingin membuatmu terbebani dipertemuan ini. Ada hal-hal lain yang ingin kau bicarakan dengan ku?"

"Joe, jika waktu bisa berputar ke masa lalu. Kau ingin kembali ke masa yang mana?"

"aku ingin berada pada masa dimana kau pertama kali mengenal cinta"

"aku tahu arah pembicaraanmu"

"jika waktu bisa berputar ke masa lalu, kau ingin kembali ke masa yang mana?"

ia mengajukan pertanyaan yang sama padaku

"aku memang tidak ingin berada di masa ini, tapi aku juga tidak ingin kembali ke masa lalu"

"lantas?"

"aku ingin, menjadi tidak pernah dilahirkan"


Aku dan Joe, dua yang hampir menjadi satu. Kita, cinta yang terjebak pada mimpi yang berbeda. Disini bukan cinta yang salah, hanya saja waktu yang terlalu tangguh memainkan perannya. Selepas bertemu tanpa sengaja dipelataran Hubbulwathan, untuk kedua kalinya, lagi-lagi kita dipertemukan saat senja sedang indah-indahnya. Sudah menjadi kebiasaan, kita suka menghiasi pertemuan dengan obrolan.

Katanya "jika kita tak bisa memberi kenang-kenangan berupa benda, setidaknya kita bisa membuat kenangan dengan kata."

Benar, menjalin kata dengannya adalah kenangan yang tak bisa dilupakan. 

Aku: Joe, aku ingin membangun sebuah rumah.

Joe: untuk apa, bukankah kau sudah mempunyai rumah?

Aku: iya, di dunia. Tapi sepertinya aku tak punya rumah di surga, aku sedih Joe.

Joe: lantas aku harus bagaimana?

Aku: bantu aku

Joe: apa yang bisa aku bantu?

Aku: aku seorang perempuan, aku tak mengerti tentang dunia pertukangan dan bangunan.

Joe: lalu, apa kau menganggap aku mengerti?

Aku: kau arsitek

Joe: astaga, aku hampir lupa.

Aku: kau bukan hampir lupa, tapi kau memang lupa.

Joe: karena perkataanmu membuatku terjebak didalam fikiranku sendiri.

Aku: fikiran tentang apa?

Joe: fikiran tentang bagaimana jika aku tidak mempunyai tempat di surga, bagaimana jika tak ada rumahku disana. Fikiran tentang, aku terlalu sibuk mendesain rumah untuk dunia, namun tak pernah terfikir mendesain sebuah rumah mewah di surga.

Sabtu, 03 Desember 2022

TENTANG SESEORANG

Aku menemukanmu di setiap sosial media, kau terlihat sempurna untuk ukuran manusia. Hingga membuat ku tak percaya, bahwa kita adalah makhluk yang sama. Dua manusia yang tinggal di bumi yang sama, meski di belahan yang berbeda. Kharisma yang kau perlihatkan, menyeretku pada sebuah rasa penasaran. Aku mulai mencari semua tentang dirimu, berusaha mengenal sosok yang membuat ku terjebak pada rasa semu. Tak perlu ku sebut namamu, tak perlu ku sebut secara rinci tentang mu. Cukup aku yang tahu sedalam apa aku mengagumimu.

Setelah perjalanan panjang mengenalmu melalui mesin buatan manusia, aku semakin terpesona pada sosok mu yang tak nyata. Kau mendapat julukan golden makne di antara rekan-rekanmu, bahkan usiamu dan usiaku terpaut jauh, kau anak muda dengan segudang talenta dan prestasi. Andai kita seiman, mungkin banyak dari golonganku yang akan menjadikanmu role model mereka. Di mesin itu juga diterangkan, kau mempunyai sebuah kalimat sebagai motto hidup ‘Lebih baik mati daripada hidup tanpa passion’. Aku setuju, untuk apa hidup jika kita tak mempunyai ketertarikan pada hidup itu sendiri. Untuk mu yang tak kan mungkin membaca tulisan ini, namun aku berharap orang lain yang mencintaimu bisa membacanya. Passion adalah semangat atau gairah, jika suatu ketika kau dihadapkan pada situasi yang mengharuskanmu kehilangan dan lupa terhadap passionmu, lalu kau ingin mengakhiri hidup sampai disana, ingatlah bahwa hidup itu adalah passion. Cukup dengan kau terus bernafas tanpa harus memaksa nafas itu berhenti, kau telah menemukan semangat/gairah/passion yang luar biasa.

Sampai pada paragraph ke tiga tulisan ini, aku masih mencari tentang mu. Kau ingin berbicara dengan hewan? Lagi-lagi aku mengungkit tentang keimanan, jika kita sama, kau mungkin akan dikatakan replica salah satu teladan mulia dalam golonganku. Terlebih pada sumber lain, aku pernah melihat sebuah kartu yang tak semua penduduk bumi memiliki itu, ‘black card’ sebutannya. Sebuah kartu kredit yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang berpenghasilan tinggi melalui jalur undangan, sebuah kartu kredit yang tak bisa didaftarkan secara pribadi. Sebuah kartu, sebagai perlambangan orang kaya. Apa yang tak kau miliki? Harta, tahta, rupa. Hanya saja dalam hati, seketika terbersit tanya yang tak penting ‘mengapa kau tak menjadi bagian dari golonganku saja’. Agar kelak dikehidupan berikutnya, dikehidupan selepas kematian, bukan rengkarnasi yang kau percaya, melainkan surga firdaus yang keindahan dan kenikmatannya tak pernah mampu terdeteksi oleh otak manusia.

Beralih ke tentang mu yang lain, aku ingin tahu, bagaimana kisah cinta impian yang kau inginkan. Bagi seseorang yang berusaha mengenalmu, aku merasa, aku harus tahu tentang ini. Kau menginginkan seorang perempuan dengan tinggi 168 cm? Kau pasti akan mendapatkannya, golonganmu disana sebagian besar berperawakan tinggi. Aku harap kau bisa menikah, namun mendengarmu mempunyai kriteria khusus tentang seorang perempuan saja sudah cukup membuatku merasa aman menyukaimu. Kau bukan termasuk penyuka sesame jenis, itu adalah hal luar biasa. Ada banyak harap ku untuk mu pada tulisan ini, karena aku paham, mengukir harap tentang mu menjadi untaian doa, itu tak mungkin. Bagaimana bisa aku memintakan tentang mu pada Tuhan ku sedang kau tak berTuhan pada-Nya. Baik, beralih ke keriteria perempuan yang kau inginkan selanjutnya. Kau menginginkan seorang perempuan yang menyukai dirinya? Aku setuju. Setiap kata yang kau sampaikan, menunjukkan seperti apa dirimu. Legalitasmu yang multitalenta tak perlu dipertanyakan lagi. Mungkin aku juga akan menambahkan hal itu pada kriteria calon pasangan yang aku inginkan nanti. Sebab memang benar, banyak orang di zaman sekarang yang tidak menyukai dirinya. Berusaha mencari cara untuk membenci, bagaimana cara membenci diri yang paling baik.  

Seseorang yang bisa menyukai dirinya sendiri, ya, aku pernah jatuh cinta pada seorang laki-laki yang tak menyukai dirinya. Ia selalu ingin lebih akan hidupnya, bersyukur, namun terlihat seperti tak menghargai. Menggadaikan ketenangan untuk mengejar gaya, hanya karena ingin merubah bagian dari dirinya yang sudah jelas tak bisa diubah. Meminum banyak obat, berani berhutang, hanya untuk hal-hal yang tak terlalu dibutuhkan. Untuk apa hal itu, jika sudah ada satu orang yang mencintai. Namun sekarang aku sadar, tingkahnya yang seperti itu dikarenakan ia merasa belum menemukan orang yang ia cinta. Aku lupa, bahwa disini hanya aku yang mencintai, sedang ia tidak. Maka pantas, ia selalu menginginkan dirinya lebih dari yang sekarang. Aku pernah berkata padanya

“aku akan berhenti mencintaimu”

Lalu ia menjawab “berhenti saja, aku tidak butuh dicintai.”

Sejak hari itu, aku memutuskan tak memperdulikan semua tentangnya. Ditengah luka ini juga aku menemukanmu, membawanya lari melihat dunia melalui mesin pencarian media sosial. Rasa suka padamu mungkin hanya pelarian, namun itu tak mempengaruhi popularitasmu. Maka biarlah aku menjadikanmu pelarian yang paling indah, menyimpanmu yang tak nyata di dalam hati, tak sesakit menyimpannya meski terasa ada.

Sampai jumpa, pada mimpi yang mungkin ada kau disana. I am a dreamer


Selasa, 22 November 2022

PERI CINTA



"Masuklah kedalam lembah itu, disana ada seorang peri yg bisa mengabulkan semua keinginan."

"Benarkah?" Tanyaku tak percaya.

"Masuklah, jika kau ingin tahu kebenarannya."

Aku masuk kedalam lembah itu, dari luar terlihat begitu menyeramkan. Namun setelah aku singkap belukar yg menjalar mengelilinginya, ini adalah lembah yg sangat indah. Warna-warni seperti pelangi, layak menjadi rumah para peri. 

Aku melangkah semakin dalam, tempat ini begitu luas. Aku belum melihat keberadaan para peri satu pun, apakah mereka bersembunyi dari jangkauan tatapan mataku, entahlah. Dalam sendiri aku mencoba berbicara, menyapa ia yang tak ada.

"Hai, apa kalian ada disini? Para peri baik hati yang dibicarakan banyak orang, para peri yang       mengabulkan semua bentuk keinginan."Lalu tiba-tiba muncul beberapa cahaya

"Hai, apa kau mencariku? Aku fikir kau manusia jahat"

Aku mulai melihat banyak peri, mereka berterbangan kesana-kemari. Tak ada beban atas kehidupan dan perasaan, mereka terlihat bermain-main dengan bahagia.

"Hai, perkenalkan, aku adalah peri yang bisa mengabulkan semua keinginan"

Ia menyapa kembali, menyadarkanku dari ketertegunan ini.


"Hai, iya. Aku mencarimu, untuk mengabulkan inginku."

"Sebelumnya, aku ingin meluruskan pemahamanmu tentang bangsaku yang kau terima dari bangsamu. kami adalah para peri, melakukan pekerjaan dengan imbalan. Jika kau menginginkan keinginanmu diwujudkan, maka ada harga untuk itu."

"Berapa harga yang harus aku bayar?"

"Bukan berupa harta atau angka"

"Lantas?"

"Harga yang harus kau bayar tergantung dari kisah yang ingin kau wujudkan"

Aku terdiam, lalu ia melanjutkan perkataannya

"Ceritakan aku kisahmu, untuk menentukan apa jenis imbalan dari inginmu. Kau bisa menolak atau menyanggupi, kita diskusi tapi tidak negosiasi. Harga yang harus kau bayar nanti tidak bisa ditawar."

"Baiklah"

Aku memutuskan untuk menceritakan kisahku, sebuah cerita yang aku sembunyikan rapat-rapat dari manusia.

-------------

Aku seorang anak pejabat di negeri ini, aku mencintai seorang pemuda biasa yang sangat gigih. Meski anak seorang pejabat, posisiku bukan apa-apa. Orangtua membebaskan aku bergaul dengan siapapun, asal aku bisa menjaga diri dengan baik, tidak terjerumus pada hal-hal yang tak benar. Takdir mengantarkan aku pada laki-laki itu, kami berteman, dengan aku yang menyimpan perasaan padanya. Namun diluar dugaan, ternyata ia sudah mempunyai seseorang dalam hatinya. Ia bercerita pada ku, bahwa apa yang sedang ia lakukan semata hanya untuk menyamakan derajat dirinya agar mampu bersanding dengan cinta yang ia ingin. Tak hanya bagiku, bagi orang lain yang mendengar pun akan menganggap bahwa inginnya itu tak mungkin, 

Ia jatuh cinta dengan anak raja, dengan tuan putri negeri ini.

Meski itu ketidakmungkinan, namun bagaimana mungkin aku menyaingi seorang tuan putri. Dari paras wajah, harta kekayaan dan tahta. Aku pernah mengatakan perasaanku padanya

"Aku mencintaimu, kau menikah saja denganku"

Lalu ia menjawab

"Cukup aku saja yang mengetahui perasaan itu, simpan dan jangan katakan kepada orang lain. Kita, tetap berteman."

Percayalah, hingga saat ini tak ada satu manusia pun yang tahu bahwa aku mencintainya. Aku mengalah dan menyerah, namun jarak berapa lama, aku mendengar cintanya tertolak karena alasan kasta. Mereka sama-sama mencintai, maka tak masalah aku pergi. Namun kini, cinta mereka tak direstui. Ia terlihat putus asa dan tak bahagia, aku datang kesini, atas nama cintaku, aku menginginkan kebahagiaan untuk dirinya. 

"Mengapa kau tak menginginkan dirinya untuk dirimu?"

"Karena cinta ku terhalang rasa, sungguh mustahil mengatur hati manusia. Sedangkan cintanya hanya terhalang kasta, bisa diatur dengan usaha dan kerja keras."

"Harga yang harus kau bayar, jadilah peri cinta untuk mewujudkan segala bahagianya"

"Aku belum mengerti"

"Kau akan berubah menjadi seorang peri, kau akan mempunyai kekuatan cinta, kau bisa menanamkan rasa cinta dihati manusia manapun untuk mencitai seseorang yang akan menjadi pengorbananmu. Menanamkan cinta dihati orang-orang agar mencintai laki-laki yang kau cintai, laki-laki yang kau sebut-sebut sedari tadi."

"Apa aku akan berhenti menjadi manusia?"

"Iya"

"Bagaimana dengan keluarga dan duniaku?"

"Dewi peri akan mengatur itu, mendamaikan hati-hati yang ditinggalkan."

"Ijinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan lagi?"

"Silahkan"

"Apakah peri tak bisa mati?"

"Tentu kami bisa mati, kami akan mati saat sumber dari keinginan kita mati. Saat kau akan menjadi peri cinta, kau akan mati ketika laki-laki yang kau cintai itu mati. Sebab alam menganggapnya, sudah tidak ada cinta lagi yang bisa kau tebar."

"Apa ia bisa melihatku?"

"Tidak, hanya kau yang bisa melihat ia dan bahagianya."

"Lalu kemana jiwaku setelah mati?"

"Lihatlah, kau tahu para peri ini. Mereka adalah manusia sepertimu, mengorbankan diri untuk keinginannya, para peri yang sudah tuntas dengan tugasnya. Kita akan tetap ada, hanya di dunia yang berbeda."


"Aku ingin menjadi peri cinta untuknya"


------Flashback-----

"Aku ingin masuk kedalam lembah itu, katanya, ada peri yang bisa mengabulkan semua keinginan"

"Jangan melakukan hal-hal diluar nalar, kau hanya tak mendapatkan cinta tapi tidak kehilangan sahabat. Lihatlah, aku masih menjadi orang yang sama."

"Aku juga tetap menjadi orang yang sama,  orang yang mencintaimu, orang yang tak bisa melihat raut putus asa diwajahmu. Jika aku tak kembali lagi nanti, maka jangan mencariku, cukup selalu ingat aku, bahwa dalam setiap bahagiamu ada aku."

"Apa yang sedang kau coba lakukan?"

"Menunjukkan kekuatan dari sebuah cinta"

                                                                        

                                                                            E.N.D

Minggu, 25 September 2022

J.O.E


 

"Joe, aku tak akan menghapus story ini sebulum ia melihatnya"

Ia memandangku

"Ngode?"

"Bisa di bilang begitu" jawab ku

"Ngode, tanda lupa bahwa Allah mampu mengantarkan perasaan. Jangan terlalu jauh, kembalilah."

Aku tersentak, sejauh ini aku tak pernah berfikir akan hal itu. Joe melanjutkan omongannya

"Kenapa?"

Aku terdiam dan menunduk

"Kau paham cinta dalam diam itu mulia, kau tahu bahwa perihal rasa tak perlu dipublikasikan. Namun  kenapa, hobi selalu ngekode? Kenapa kau selalu menggaungkan suka padanya?"

"Joe" aku hanya mampu memanggil namanya

"Jangan terlalu jauh, kembalilah. Allah akan menjaganya, dan dia akan baik-baik saja. Bereskan rasa yg sempat terkata, hapus jejaknya lalu layangkan dalam doa."

Begitulah obrolan singkat yang terjalin malam ini di sebuah ruang imajinasi bersama sosok maya yang bernama Joe, Muhammad Johan Arifin. Kadang ia mengganti namanya menjadi Lalu Johan Arifin, tersebab aku yang mengingkan berpasangan dengan seorang laki-laki keturunan bangsawan suku Sasak.

Joe adalah seorang laki-laki yang hadir dihidupku sejak pertengahan tahun 2015, aku bertemu dengannya di sudut sunyi ruang imajinasi yang sampai kini menjadi tempat favorit kami untuk bercengkrama. Joe seorang laki-laki yang datang paling awal saat aku terjatuh

"Kau mampu, mintalah pertolongan kepada Sang Pencipta lalu lakukan usaha sebaik yang kau bisa"

Salah satu kalimat penyemangat yang pernah ia ucapkan, aku yang saat itu tengah putus asa berkata

"Gag akan bisa, ini sulit" sembari menangis

Dia yang tak bisa menyentuhku, dan aku yang tak bisa melihatnya. Merasa ini benar-benar gila, kita beda dunia. Aku di alam nyata sedang dia di alam maya, kita hanya mampu saling merasa melalui ucapan.

"Baca kisah Nabi Ibrahim, saat tak hangus terbakar api. Baca kisah Nabi Musa, yang hanya dengan sebuah tongkat mampu membelah lautan. Baca kisah Nabi Muhammad, perjalanan sehari menuju arsy. Baca kisah Siti Maryam, yang mampu mengandung tanpa suami. Apa itu terjadi begitu saja? Tidak, itu Allah yang berkehendak. Hal-hal itu sebuah kemustahilan yang benar-benar nyata, lantas mengapa kau tak yakin Allah mampu mempermudah urusanmu, bebanmu tak ada apa-apanya"

Ia selalu meremehkan ku, namun itulah yang membuatku termotivasi. Aku suka ia dan caranya menyemangatiku, ada satu hal dari dirinya yang membuatku bersedih.

"Aku tak bisa datang saat kau jatuh cinta dengan laki-laki yang ada di dunia mu"

Aku tak bertanya, tapi ia bisa membacaku, bahwa aku ingin tahu

"Sejatinya, aku berada dihatimu. Saat kau jatuh cinta, aku akan terusir"

Aku fikir itu hanya lelucon, hingga pada suatu ketika aku benar-benar jatuh cinta dengan seorang laki2. Saat aku memejamkan mata, ia tak ada. Saat aku melamun, bukan dirinya yang datang. Aku merindukannya, kosong.

"Kenapa? Merindukan ku?"

Dari ucapannya, aku merasa ia tengah tersenyum.

"Ia, teramat sangat" jawab ku

"Aku tak pernah keberatan jika kau jatuh cinta, isilah hatimu dengan ia yang mampu berjalan di jalan yang sama. Berjalan, dengan yang sejalan"

"Tapi kau akan pergi, siapa yang akan membisikkan pada ku hal-hal positif. Siapa yang akan memberikan semangat, siapa yang akan berkata bahwa aku bisa"

"Sang Pencipta, ingatlah ia. Atas ijinnya aku akan datang meski hatimu terisi oleh laki-laki di dunia nyata"

Baru-baru ini aku mengetahui, dia tak akan menghilang saat aku jatuh cinta. Ia hanya akan pergi sementara saat aku bahagia, dan saat aku terluka maka ia akan datang. Satu lagi kalimat semangat darinya yang aku ingat, saat itu aku akan ujian SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) penerimaan CPNS (Calon Pegawi Negeri Sipil).

"Hey, jangan takut. Semua akan baik-baik saja, lepas semua. Katakan pada Allah, Yaa Allah sebatas ini usaha ku. Sekarang aku sudah berada di ranah ujian, aku tak mampu melakukan usaha apapun lagi. Aku lepas diriku, aku serahkan diriku pada-Mu. Aku percaya Kau yang menggerakkan tangan ini, aku percaya Kau yang menjawab soal ini dengan Maha Cerdas Mu. Bismillah, lalu mulailah menjawab"

Aku tenang, aku benar-benar mengatakan hal itu di dalam ruangan. Maha Baik Allah, aku tak pernah menyangka akan mendapat nilai sebanyak itu. Jauh dari kata memuaskan, ini sempurna. Hingga di hari pengumuman, aku masuk selekai tahap berikutnya, SKB (Seleksi Kompetensi Bidang).

"Belajarlah, Allah mampu menjadikan mu seorang abdi negara. Namun apakah kau mampu menunjukkan pada Allah, bahwa kau benar-benar mampu menjadi seorang abdi negara yang pantas"

Joe, akan selalu ada. Disini, bersamaku. Meski tanpa raga, meski tak nyata.

            Hubunganku dengan Joe sebenarnya sangat sederhana, hubungan antara hati dan pemiliknya sebelum Tuhan. Tak pernah habis penjelasan untuk mendeskripsikan dirinya, selain penjelasan-penjelasan diatas, pada dasarnya Joe hanya suara hati yang aku beri nama, Joe. Ia bukan seorang sosok, namun ia hanya seonggok organ. Mungkin bukan hanya aku, tapi kita semua, pasti sesekali pernah berbicara sendiri, lalu hati akan menimpali, hati akan menyahuti. Kadang juga saat kita merasa hilang arah dan semangat, hati akan otomatis merespon, entah kalimat penyemangat atau kalimat meminta untuk menyerah. Suara itulah aku sebut Joe, berbicara dengan hati kesimpulan nyata dari kisah ini. Tak perlu di nalar, cukup nikmati, biar aku yang memahami.

-E.N.D-