Kenapa belum menikah?
Kapan akan menikah?
Temen-temannya sudah menikah semua?
Pemilih ya?
Kasihan dia, belum menikah!
Dia menikah saja dengan cowok itu!
_________💜________
Aku pernah dikenalkan pada laki-laki oleh teman kajian, aku merasa cocok dan dia pun sama. Namun ketika melihat wajahku, tiba-tiba ia berkata bahwa kita tidak cocok. Lalu pergi, dan satu tahun kemudian dia menikah.
Aku juga pernah dikenalkan pada laki-laki oleh teman kuliah, kita nyambung saat berbicara. Hanya saja tidak pernah bertemu, aku tak ingin terlalu nyaman. Belajar dari pengalaman kemarin, aku berinisiatif mengirimkannya foto. Lalu setelah itu, tidak ada chat di antara kita.
Dua kali, aku sudah tidak ingin dikenalkan meski masih banyak teman yang menawarkan. Aku akan memilih sendiri, sesuai inginku. Namun aku tak banyak bergaul, tak punya sircle teman laki-laki. Usia semakin betambah, pertanyaan 'kapan menikah' makin sering terdengar. Terlebih saat teman main terakhir juga menikah.
Bukan mati rasa, hanya malas merasa. Seperti, sudah tahu endingnya. Namun beberapa waktu lalu, seorang teman kerja meminta ijin untuk mengenalkanku pada seorang laki-laki yang berprofesi sebagai Apoteker dengan pendidikan terakhir Strata dua. Aku mencoba sekali lagi, mungkin ia merasa cocok dari biodata yang aku tulis. Tak ada yang spesial, aku menulis sejujur-jujurnya, bahkan tentang wajah. 'Aku mempunyai wajah dgn bibir yg tak rata, TIC facial dextra sebutannya'.
Setelah bertukar biodata, teman menyampaikan, ingin melihat wajah. Aku mengirimkannya, sesuai dugaan, teman berkata
"Cantik, tapi ia ingin membicarakan dulu dengan orangtuanya"
Aku tertawa, padahal itu alasan untuk menolak.
Aku memang tidak pernah bisa mendapatkan laki-laki sendiri, selalu dari teman, selalu dikenalkan. Hanya sekali, aku bisa mengenal laki-laki secara langsung. Dia teman sekolah, seorang laki-laki yang aku cinta selama masa sekolah. Terjeda selama masa perkuliahan, lalu takdir membuat rasa itu kembali, tentu dengan aku yang menghubungi lebih dulu.
Menghubunginya lagi penuh pertimbangan
"rasa itu gag akan kembali lagi kan, gag mungkin kan" setelah yakin aku bisa mengendalikan diri, barulah aku mengirimkannya pesan singkat.
Aku menghubunginya karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Namun ternyata salah, aku jatuh untuk kedua kalinya pada laki-laki yang sama. Ketahuilah, ini juga cinta sebelah pihak. Cinta yang juga tertolak karena wajah.
Aku mencintainya sangat dalam, hingga aku merasa, tak akan bisa melupakannya. Aku mengajaknya menikah, meski aku tahu ia tak ada rumah, aku tak masalah tinggal dengan mertua. Aku mengenal diriku, aku bisa beradaptasi, aku bisa membuat mereka nyaman dengan ku. Hingga tak masalah, jika memang harus tinggal bersama.
Dia bukan seorang sarjana, aku tetap memintanya untuk menikah denganku, ia hanya tidak kuliah tapi bukan berarti dia bodoh, lagi pula gen otak anak di ambil dari gen ibu. Meski aku tidak pintar, namun aku tidak keberatan jika nanti anak-anak ku mewariskan otak atau cara berfikirku.
Bahkan saat aku tahu dia tak mempunyai pekerjaan, aku tetap mau menikah dengannya. Aku merasa, gaji PNS bisa untuk hidup, asal jangan untuk memenuhi gaya hidup. Intinya, aku buta saat itu. Aku menerima semua kurangnya, aku menerima ia yang seorang perokok, aku menerima ia dengan rambut gondrongnya. Aku menerima ia dengan dirinya, hanya saja aku tak punya wajah yang ia cari.
Aku berfikir, aku harus melupakannya. Teman-teman juga berkata, bahwa aku harus move on. Mereka memberi saran, dengan menyibukkan diri kita bisa cepat melupakan seseorang. Memang benar, saat tugas negara begitu banyak, aku lupa. Namun saat sepi melanda, aku teringat kembali. Ingin menghubungi, atau memberi kode agar ia yang menghubungi.
Dari saran teman-teman, tak ada satu cara pun yang benar-benar bisa membuatku melupakannya. Bahkan dengan cara mencari keburukannya sekali pun, bukankah aku sudah mengatakan, aku menerima baik dan buruknya, kurang lebihnya. Sebenarnya, aku tahu satu cara move on paling cocok untuk ku, hanya saja aku tak mau melakukan dengan cara itu.
Setiap keluar, atau saat bertemu dengannya, aku merasa tidak dihargai, bahkan sebagai teman. Padahal ia yang sering berkata
"kita temanan saja" namun nyatanya ia tak bisa memperlakukanku seperti temannya.
Aku melihat, ia memperlakukan ku seperti seorang yang malu terhadap orang lain. Ia malu bersama dengan ku, kenapa harus malu jika kita berteman. Mau jelek atau buruk rupa, tak pernah ada teman yang malu dengan temannya.
Perlakuan seperti itu yang tidak pernah bisa aku terima, hingga akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan cara terakhir. Sebuah cara yang cocok untukku melupakan segala hal-hal tak baik yang ingin aku lupakan, salah satunya cinta dan laki-laki. Menjadi fangirl, kebetulan saat itu juga tengah viral salah satu member BTS 'Jeon Jungkook' yang membawakan main song untuk pembukaan piala dunia Qatar.
Aku mencari tahu tentang mereka, hingga aku tahu tentang fakta bahwa mereka terkenal bukan hanya karena wajah 'plastik' yang kata kebanyakan orang. Namun lebih dari itu, mereka terkenal karena perjuangannya, kerja keras dan prestasinya. Mereka mulai dari agensi atau perusahaan kecil, lalu tumbuh dan melahirkan banyak karya yang membuatku terpesona.
Kata teman "jangan jadi anak kpopers, jangan menggilai oppa-oppa, kafir."
Aku bukan kpopers, aku bukan penggemar, aku juga tak mengidolakan mereka. Aku menganggap mereka teman, apa tak boleh berteman dengan yang beda agama? Saat duduk di bangku kuliah atau saat berada di dunia kerja, kita bebas berteman dengan siapa saja, termasuk dengan mereka yang berbeda agama. Lantas sekarang, mengapa tak boleh berteman dengan BTS?
Karena gag pernah bertemu? Ini pertemanan virtual, teman online.
Sekarang, untuk dia yang pernah aku cintai sangat dalam. Untuk dia yang sempat aku terima baik buruk kurang lebihnya, sudah tidak ada apa-apa dihati, hidup, dan fikiran. Bahkan aku berfikir
"kok bibirnya hitam, kok rambutnya gag cocok, kok kulitnya jadi gelap, kok gag bersih, kok gag cakep seperti dulu."
Memang benar quotes yang berbunyi 'bukan tampan yang membuat cinta, tapi cintalah yang membuat seseorang terlihat tampan'.
Ternyata selama ini, aku memang mencintainya dengan tulus, bukan karena fisik atau wajah. Cintaku membuat ia terlihat tampan, cintaku membuat ia terlihat sempurna. Buktinya, setelah cinta itu tak ada, ia tak terlihat tampan, ia cacat. Detik ini, jangankan buruk dan kurangnya, baik dan lebihnya saja aku tak bisa terima.
________💜________
"Kita berteman saja"
Ya, seperti inilah aku berteman. Cuek, bukan prioritas, respect hanya ketika ingin.
Sedikit Quotes yang aku petik dari kutipan leader BTS
"Bahkan jika kamu tidak sempurna, kamu adalah edisi terbatas" -Kim Namjoon-
Bagaimana pun keadaan wajahku, meski bibir tak rata dan simetris. Aku adalah edisi terbatas, aku limitid edition, aku satu-satunya yang Allah ciptakan seperti ini. Aku langka, dan ini bukan kekurangan, tapi keunikan. Aku unik! Ini adalah wajah yang paling pas untuk ku, sebab Allah adalah sebaik-baiknya pencipta.
______To Be Continue 💜______