"Benarkah?" Tanyaku tak percaya.
"Masuklah, jika kau ingin tahu kebenarannya."
Aku masuk kedalam lembah itu, dari luar terlihat begitu menyeramkan. Namun setelah aku singkap belukar yg menjalar mengelilinginya, ini adalah lembah yg sangat indah. Warna-warni seperti pelangi, layak menjadi rumah para peri.
Aku melangkah semakin dalam, tempat ini begitu luas. Aku belum melihat keberadaan para peri satu pun, apakah mereka bersembunyi dari jangkauan tatapan mataku, entahlah. Dalam sendiri aku mencoba berbicara, menyapa ia yang tak ada.
"Hai, apa kalian ada disini? Para peri baik hati yang dibicarakan banyak orang, para peri yang mengabulkan semua bentuk keinginan."Lalu tiba-tiba muncul beberapa cahaya
"Hai, apa kau mencariku? Aku fikir kau manusia jahat"
Aku mulai melihat banyak peri, mereka berterbangan kesana-kemari. Tak ada beban atas kehidupan dan perasaan, mereka terlihat bermain-main dengan bahagia.
"Hai, perkenalkan, aku adalah peri yang bisa mengabulkan semua keinginan"
Ia menyapa kembali, menyadarkanku dari ketertegunan ini.
"Hai, iya. Aku mencarimu, untuk mengabulkan inginku."
"Sebelumnya, aku ingin meluruskan pemahamanmu tentang bangsaku yang kau terima dari bangsamu. kami adalah para peri, melakukan pekerjaan dengan imbalan. Jika kau menginginkan keinginanmu diwujudkan, maka ada harga untuk itu."
"Berapa harga yang harus aku bayar?"
"Bukan berupa harta atau angka"
"Lantas?"
"Harga yang harus kau bayar tergantung dari kisah yang ingin kau wujudkan"
Aku terdiam, lalu ia melanjutkan perkataannya
"Ceritakan aku kisahmu, untuk menentukan apa jenis imbalan dari inginmu. Kau bisa menolak atau menyanggupi, kita diskusi tapi tidak negosiasi. Harga yang harus kau bayar nanti tidak bisa ditawar."
"Baiklah"
Aku memutuskan untuk menceritakan kisahku, sebuah cerita yang aku sembunyikan rapat-rapat dari manusia.
-------------
Aku seorang anak pejabat di negeri ini, aku mencintai seorang pemuda biasa yang sangat gigih. Meski anak seorang pejabat, posisiku bukan apa-apa. Orangtua membebaskan aku bergaul dengan siapapun, asal aku bisa menjaga diri dengan baik, tidak terjerumus pada hal-hal yang tak benar. Takdir mengantarkan aku pada laki-laki itu, kami berteman, dengan aku yang menyimpan perasaan padanya. Namun diluar dugaan, ternyata ia sudah mempunyai seseorang dalam hatinya. Ia bercerita pada ku, bahwa apa yang sedang ia lakukan semata hanya untuk menyamakan derajat dirinya agar mampu bersanding dengan cinta yang ia ingin. Tak hanya bagiku, bagi orang lain yang mendengar pun akan menganggap bahwa inginnya itu tak mungkin,
Ia jatuh cinta dengan anak raja, dengan tuan putri negeri ini.
Meski itu ketidakmungkinan, namun bagaimana mungkin aku menyaingi seorang tuan putri. Dari paras wajah, harta kekayaan dan tahta. Aku pernah mengatakan perasaanku padanya
"Aku mencintaimu, kau menikah saja denganku"
Lalu ia menjawab
"Cukup aku saja yang mengetahui perasaan itu, simpan dan jangan katakan kepada orang lain. Kita, tetap berteman."
Percayalah, hingga saat ini tak ada satu manusia pun yang tahu bahwa aku mencintainya. Aku mengalah dan menyerah, namun jarak berapa lama, aku mendengar cintanya tertolak karena alasan kasta. Mereka sama-sama mencintai, maka tak masalah aku pergi. Namun kini, cinta mereka tak direstui. Ia terlihat putus asa dan tak bahagia, aku datang kesini, atas nama cintaku, aku menginginkan kebahagiaan untuk dirinya.
"Mengapa kau tak menginginkan dirinya untuk dirimu?"
"Karena cinta ku terhalang rasa, sungguh mustahil mengatur hati manusia. Sedangkan cintanya hanya terhalang kasta, bisa diatur dengan usaha dan kerja keras."
"Harga yang harus kau bayar, jadilah peri cinta untuk mewujudkan segala bahagianya"
"Aku belum mengerti"
"Kau akan berubah menjadi seorang peri, kau akan mempunyai kekuatan cinta, kau bisa menanamkan rasa cinta dihati manusia manapun untuk mencitai seseorang yang akan menjadi pengorbananmu. Menanamkan cinta dihati orang-orang agar mencintai laki-laki yang kau cintai, laki-laki yang kau sebut-sebut sedari tadi."
"Apa aku akan berhenti menjadi manusia?"
"Iya"
"Bagaimana dengan keluarga dan duniaku?"
"Dewi peri akan mengatur itu, mendamaikan hati-hati yang ditinggalkan."
"Ijinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan lagi?"
"Silahkan"
"Apakah peri tak bisa mati?"
"Tentu kami bisa mati, kami akan mati saat sumber dari keinginan kita mati. Saat kau akan menjadi peri cinta, kau akan mati ketika laki-laki yang kau cintai itu mati. Sebab alam menganggapnya, sudah tidak ada cinta lagi yang bisa kau tebar."
"Apa ia bisa melihatku?"
"Tidak, hanya kau yang bisa melihat ia dan bahagianya."
"Lalu kemana jiwaku setelah mati?"
"Lihatlah, kau tahu para peri ini. Mereka adalah manusia sepertimu, mengorbankan diri untuk keinginannya, para peri yang sudah tuntas dengan tugasnya. Kita akan tetap ada, hanya di dunia yang berbeda."
"Aku ingin menjadi peri cinta untuknya"
------Flashback-----
"Aku ingin masuk kedalam lembah itu, katanya, ada peri yang bisa mengabulkan semua keinginan"
"Jangan melakukan hal-hal diluar nalar, kau hanya tak mendapatkan cinta tapi tidak kehilangan sahabat. Lihatlah, aku masih menjadi orang yang sama."
"Aku juga tetap menjadi orang yang sama, orang yang mencintaimu, orang yang tak bisa melihat raut putus asa diwajahmu. Jika aku tak kembali lagi nanti, maka jangan mencariku, cukup selalu ingat aku, bahwa dalam setiap bahagiamu ada aku."
"Apa yang sedang kau coba lakukan?"
"Menunjukkan kekuatan dari sebuah cinta"
E.N.D





Kereeennn banget
BalasHapusHihi terimakasih 😊
Hapus