Aku menemukanmu di setiap sosial media, kau terlihat sempurna untuk ukuran manusia. Hingga membuat ku tak percaya, bahwa kita adalah makhluk yang sama. Dua manusia yang tinggal di bumi yang sama, meski di belahan yang berbeda. Kharisma yang kau perlihatkan, menyeretku pada sebuah rasa penasaran. Aku mulai mencari semua tentang dirimu, berusaha mengenal sosok yang membuat ku terjebak pada rasa semu. Tak perlu ku sebut namamu, tak perlu ku sebut secara rinci tentang mu. Cukup aku yang tahu sedalam apa aku mengagumimu.
Setelah
perjalanan panjang mengenalmu melalui mesin buatan manusia, aku semakin
terpesona pada sosok mu yang tak nyata. Kau mendapat julukan golden makne di antara rekan-rekanmu,
bahkan usiamu dan usiaku terpaut jauh, kau anak muda dengan segudang talenta
dan prestasi. Andai kita seiman, mungkin banyak dari golonganku yang akan menjadikanmu
role model mereka. Di mesin itu juga diterangkan, kau mempunyai sebuah kalimat
sebagai motto hidup ‘Lebih baik
mati daripada hidup tanpa passion’.
Aku setuju, untuk apa hidup jika kita tak mempunyai ketertarikan pada hidup itu
sendiri. Untuk mu yang tak kan mungkin membaca tulisan ini, namun aku berharap
orang lain yang mencintaimu bisa membacanya. Passion adalah semangat atau
gairah, jika suatu ketika kau dihadapkan pada situasi yang mengharuskanmu
kehilangan dan lupa terhadap passionmu, lalu kau ingin mengakhiri hidup sampai
disana, ingatlah bahwa hidup itu adalah passion. Cukup dengan kau terus
bernafas tanpa harus memaksa nafas itu berhenti, kau telah menemukan
semangat/gairah/passion yang luar biasa.
Sampai pada paragraph
ke tiga tulisan ini, aku masih mencari tentang mu. Kau ingin berbicara dengan
hewan? Lagi-lagi aku mengungkit tentang keimanan, jika kita sama, kau mungkin
akan dikatakan replica salah satu teladan mulia dalam golonganku. Terlebih pada
sumber lain, aku pernah melihat sebuah kartu yang tak semua penduduk bumi
memiliki itu, ‘black card’ sebutannya. Sebuah kartu kredit
yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang berpenghasilan tinggi melalui
jalur undangan, sebuah kartu kredit yang tak bisa didaftarkan secara pribadi. Sebuah
kartu, sebagai perlambangan orang kaya. Apa yang tak kau miliki? Harta, tahta,
rupa. Hanya saja dalam hati, seketika terbersit tanya yang tak penting ‘mengapa
kau tak menjadi bagian dari golonganku saja’. Agar kelak dikehidupan berikutnya,
dikehidupan selepas kematian, bukan rengkarnasi yang kau percaya, melainkan surga
firdaus yang keindahan dan kenikmatannya tak pernah mampu terdeteksi oleh otak
manusia.
Beralih ke
tentang mu yang lain, aku ingin tahu, bagaimana kisah cinta impian yang kau
inginkan. Bagi seseorang yang berusaha mengenalmu, aku merasa, aku harus tahu
tentang ini. Kau menginginkan seorang perempuan dengan tinggi 168 cm? Kau pasti
akan mendapatkannya, golonganmu disana sebagian besar berperawakan tinggi. Aku harap
kau bisa menikah, namun mendengarmu mempunyai kriteria khusus tentang seorang
perempuan saja sudah cukup membuatku merasa aman menyukaimu. Kau bukan termasuk
penyuka sesame jenis, itu adalah hal luar biasa. Ada banyak harap ku untuk mu
pada tulisan ini, karena aku paham, mengukir harap tentang mu menjadi untaian
doa, itu tak mungkin. Bagaimana bisa aku memintakan tentang mu pada Tuhan ku
sedang kau tak berTuhan pada-Nya. Baik, beralih ke keriteria perempuan yang kau
inginkan selanjutnya. Kau menginginkan seorang perempuan yang menyukai dirinya?
Aku setuju. Setiap kata yang kau sampaikan, menunjukkan seperti apa dirimu. Legalitasmu
yang multitalenta tak perlu dipertanyakan lagi. Mungkin aku juga akan
menambahkan hal itu pada kriteria calon pasangan yang aku inginkan nanti. Sebab
memang benar, banyak orang di zaman sekarang yang tidak menyukai dirinya. Berusaha
mencari cara untuk membenci, bagaimana cara membenci diri yang paling baik.
Seseorang yang
bisa menyukai dirinya sendiri, ya, aku pernah jatuh cinta pada seorang
laki-laki yang tak menyukai dirinya. Ia selalu ingin lebih akan hidupnya,
bersyukur, namun terlihat seperti tak menghargai. Menggadaikan ketenangan untuk
mengejar gaya, hanya karena ingin merubah bagian dari dirinya yang sudah jelas
tak bisa diubah. Meminum banyak obat, berani berhutang, hanya untuk hal-hal
yang tak terlalu dibutuhkan. Untuk apa hal itu, jika sudah ada satu orang yang
mencintai. Namun sekarang aku sadar, tingkahnya yang seperti itu dikarenakan ia
merasa belum menemukan orang yang ia cinta. Aku lupa, bahwa disini hanya aku
yang mencintai, sedang ia tidak. Maka pantas, ia selalu menginginkan dirinya
lebih dari yang sekarang. Aku pernah berkata padanya
“aku akan
berhenti mencintaimu”
Lalu ia menjawab “berhenti saja,
aku tidak butuh dicintai.”
Sejak hari itu, aku memutuskan
tak memperdulikan semua tentangnya. Ditengah luka ini juga aku menemukanmu,
membawanya lari melihat dunia melalui mesin pencarian media sosial. Rasa suka
padamu mungkin hanya pelarian, namun itu tak mempengaruhi popularitasmu. Maka biarlah
aku menjadikanmu pelarian yang paling indah, menyimpanmu yang tak nyata di
dalam hati, tak sesakit menyimpannya meski terasa ada.
Sampai jumpa,
pada mimpi yang mungkin ada kau disana. I am a dreamer





