Sabtu, 27 April 2024

HAPPLY EVER AFTER

 



Genere : marriage life

 

“brum brum brum”

Aah dia sudah pulang

“assalamu’alaikum dek”

“wa’alaikumsalam kak”

Ku coba raih tangannya, mencari keridhoan disana. Ku tawari ia, ingin makan atau mandi terlebih dahulu.

“kakak ingin mandi dulu, lalu makan dan kemudian menghabiskan sore dengan bersenda gurau bersama adek”

aku tersipu malu, belum terbiasa dengan semuanya. Meski sudah menikah enam bulan, tapi rasanya masih berbeda. Masih belum menyangka, teman organisasi ku akan menjadi suami ku.

“Alhamdulillah, enak sekali menu hari ini”

Apapun makanan yang ku hidangkan, ia selalu mengucapkan Alhamdulillah. Meski hanya tempe dan tahu, aku tersenyum lagi dan lagi. Jujur, aku bahagia bersama dengannya.

            “adek tersenyum terus, ada apa gerangan?”

            “adek bahagia kak, adek bahagia bersuamikan kakak”

Ku tutup wajah ku dengan tangan, aku malu.

            “hey, wajah tersipu malu ini sangatlah indah. Kenapa harus di tutup?”

Percakapan itu di jeda oleh pelanggan yang datang berbelanja,

            “bagaimana jualan hari ini?”

            “Alhamdulillah kak”

Ia tersenyum, tak ada lesung pipi disana, tapi senyumnya selalu meneduhkan.

            “sudah, biar kakak yang merapikannya. Adek diam saja disini, kali aja ada orang belanja”

Itu yang membuat ku bingung selama ini, ia baru pulang kerja, bahkan merebahkan punggunyapun ia belum sempat, tetapi selalu ia luangkan waktu untuk membantuku. Suami, superheronya istri. Jangan pernah cederai gelar itu laki-laki.

            “beres”

Katanya dengan gagah sembari menghampiriku, kita duduk berdua di depan etalase barang-barang.

            “assalamu’alaikum, jagoan sholeh ayah apa kabar”

Ia merunduk dan mengusap-usap perut ku yang semakin hari semakin membuncit. Ia memejamkan matanya, rebahan dengan berbantalkan paha ku.

            “usapan tangan ini selalu membuat kakak nyaman dan tenang, serasa tak pernah ada lelah yang singgah”

Ia merubah posisinya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang ku. Ku pikir ia seorang laki-laki berbadan pendek, namun ternyata aku salah karena meski perut ku sudah membesar tangannya masih mampu melingkar dengan sempurna.  

Kita tertawa setelah saling adu bahasa daerah masing-masing.

“haha, kakak tahu adek tidak mengerti apa yang kakak bilang.” Betul, enam bulan menikah dengannya aku tak mengerti bahasa daerahnya. Kadang ia menggoda ku dengan bahasanya, mungkin jika ada kamus bahasa Sumbawa-Sasak aku ingin membelinya satu. Sore pun berganti dengan malam, adzan magrib sudah mulai berkumandang. Selepas sholat dan sepulangnya dari masjid, ia selalu mengajarkan ku memasihkan bacaan Al Qur’an.

            “dek, besok kakak libur. Kita pergi taddabur alam ya?”

Ku iya kan dengan riang gembira, aku tak pernah meminta apapun lebih dulu. Kecuali satu, hubungan suami istri. Bukan hanya aku, tapi di kalangan para orang-orang sholeh dan sholehah pasti mengerti betul bahwa istri yang menawarkan diri pada suami saat akan tidur pahala baginya. Nikmat dunia dan nikmat surga, lalu bagaimana mungkin aku akan menanggalkan kewajiban itu. Tak ada malu, tak ada harga diri, karena kami telah menjadi satu, aku telah berjanji, saat menikah akan ku letakkan duniaku di bawah telapak kakinya. 

            Selasa pagi, pantai cukup sepi karena bukan saat-saat holiday. Aah, suara riak yang sudah lama ku rindu. Terlebih rerumputan yang pada menghijau, seolah menandakan bahwa disini sedang musim semi.

            “kakak tahu, berjalan di pinggir pantai bergandengan bersama kekasih sejati dengan perut membuncit adalah salah satu dari semua hal yang ingin adek lakukan. Sepi, tak ada orang dan hanya kita berdua”

Ia tersenyum dan berkata “sudah kakak booking tempat ini kepada Allah, agar tak ada sesiapapun selain kita”

            “apaan kakak ini” tanggap ku sembari merebahkan kepala di pundaknya menyusuri pantai yang tak berpenghuni.

Pagi itu pun berakhir dengan satu panggang ikan bakar dan segelas es kelapa muda. Bukan pelit, tapi aku sangat menyukai makan sepiring atau pun minum segelas dengannya.

            “istri manja ku”

            “heee”

Sesampai di rumah, aku langsung membuka warung sembari bersih-bersih dan memasak. Alhadulillah, selama enam bulan menikah kami belum pernah merasakan yang naanya kekurangan uang. 

            Selasa siang,

            “kak, nanti ada kajian di masjid Aisyah Lawata Mataram khusus muslimah. Adek boleh pergi?”

            “dengan tulus hati kakak ijinkan sholehah”

            “kakak antar adek yaa, kita tutup saja warung”

Ia tersenyum dan menasehati ku

            “pasti dek, jika bukan kakak siapa lagi yang akan menemani adek. Satu lagi, jangan pernah keberatan meninggalkan dunia untuk pencipta. Rejeki tak akan pernah tertukar, entah Allah beri dengan banyak uang atau sedikit uang tapi tenang”

Aku membalas nasehatnya dengan pelukan

            “itulah alasan adek kenapa tak ingin menjadi karyawan kak, agar tak ada yang menghalangi langkah adek menuju taman-taman surga. Tentunya, kecuali suami dan sang Ilahi”

            “dan adek harus bersyukur karena Ilahi memberi adek suami yang tak akan menghalangi melainkan menemani” Katanya Sembari mengedipkan sebelah mata, percaya diri tapi tak sombong membuatnya semakin terlihat tampan.

Kajian berjalan lancar, selepas kajian ia selalu bertanya kesimpulan apa yang bisa ku ambil. Kesimpulan yang bisa ku ambil pada kajian kali ini, bahwa tidak mendengarkan music merupakan salah satu hal yang bisa menjaga kemulian dan kehormatan seorang wanita.

“adek banyak salah dalam hal ini kak, hampir semua lagu dari semua grup band adek hafal” tunduk ku

“itu kan masa lalu dek, adek tidak pernah pacaran tapi mendengarkan music. Kakak pernah pacaran tapi tidak pernah mendengarkan music, setiap orang mempunyai dosa yang berbeda dek. Tugas kita mencari ilmu, membenahi diri dan jangan mengulangi”

Aku melingkarkan tangan dipinggangnya, lalu ia usap menyalurkan ketenangan.

            “dek, coba Tanya jagoan sholehnya kakak. Ada yang mau dibeliin gag?”

            “ish kakak, si kecil belum lahir aja kakak udah pilih kasih. Si kecil aja yang di Tanya, bundanya gag”

            “iya dah, bundanya mau apa”

            “gag jadi dah”

            “eeh kakak bercanda”

            “kakak ni suka goda adek”

            “emank, hobi kakak kan godain adek”

Aku hanya manyun di belakang, lalu ia berhenti di warung pinggir jalan yang memjual lalapan.

            “kenapa berhenti?” Tanya ku

            “karena kakak tahu, adek sangat menyukai lalapan,” jawabnya enteng.

Rasanya ingin ku serahkan diri padanya, laki-laki yang ku anggap acuh tak acuh sebelum menikah ternyata sebegini hangatnya. Perempuan, apakah kau mendapatkan suami seperti suami ku? yang kepada perempuan lain ia dingin tapi pada ku ia sehangat mentari di pelupuk sang jingga di sore hari.

            “lalapan ayam lima pak” katanya

            “kak banyak sekali” Tanya ku bingung

            “untuk ayah, ibu dan adek-adek. Kita pulang lewat sana”

Aku terharu, seketika sesegukan.

            “hey, kenapa menangis. Nanti orang-orang mengira kakak menyakiti adek”

            “adek bahagia kak” kata ku sembari mengusap air mata bak anak kecil

            “kalau adek bahagia, terus ingin balas jasa nanti saja di dalam kamar,” senyumnya jahil.

Sungguh, ia satu-satunya lelaki yang mampu membuat ku tersenyum dalam tangis.

             Di akhir zaman ini, semua jenis manusia ada. Dari yang bejad, hingga yang terlihat seperti malaikat. Bersyukurlah, jika kita mempunyai teman-teman yang taat. Lombok, pulau yang terkenal dengan seribu masjidnya. Seakan-akan tak pernah di jeda oleh kajian-kajian, taman-taman surga ada dimana-mana. Dari Mataram hingga ke Lombok bagian utara, kita hanya meluangkan waktu saja untuk menghadirinya. Baru kemarin kajian muslimah di masjid Aisyah, kini ada lagi kajian umum di masjid At-Taqwa epicentrum Mataram Mall.

            “nanti ba’da magrib ada kajian umum ustadz Firanda Andiraja, adek ikut yaa”

            “insyaa Allah kak, semoga si kecil tidak rewel”

            “jadi anak yang baik yaa jagoan sholehnya ayah, supaya bunda bisa pergi ke taman-taman surga” Serasa ada tendangan, mungkin di sana dia pun ingin ikut ke taman-taman surga bersama orang tuanya.

            Saat kajian pun tiba, kami berangkat lebih awal. Terburu-buru, adalah hal yang disukai setan. Saat ku Tanya menggapa jalan lebih awal, ia menjawab

            “agar kakak bisa goda adek ntar di jalan”

Ku cubit pinggangnya, ia tersenyum. Menikah sangatlah indah, bergaul dengan satu orang tidaklah membosankan.

            “kak kita lewat lift atau escalator?”

            “lewat escalator dek”

            “ya sudah, kakak lewat escalator adek lewat lift”

            “yah kenapa gitu dek?”

            “kakak tahu adek punya trauma dengan escalator”

            “kakak tahu adek punya trauma dengan escalator, gag mungkin lah kakak ajak adek lewat sana”

            “jadi?”

            “kita lewat lift”

            “okey” ku eratkan pegangan tangannya

            “ladies first”

Aku tengah hamil enam bulan, mana mungkin aku masih bisa di bilang gadis. Tapi katanya “adek tetap gadis di mata kakak”, di balik cadar ia selalu membuat ku tersenyum dengan tingkahnya.

            Kajian kali ini pun berjalan lancar, tidak langsung pulang, melainkan kami berjalan-jalan lebih dulu. Menikmati suasana malam di teras-teras epicentrum,

            “bagaimana kajian tadi?” tanyanya membuka obrolan

            “terharu kak, jatuh cinta adek sama ibunda Aisyah Radiallahuanha”

            “jika jatuh cinta maka jadikan panutan dek”

            “nggih kak, selalu berusaha”

“kalau kakak terharu saat sang ustadz mengatakan, seorang wanita nanti di surga akan bersama suami terakhirnya di dunia. Adek mau kan bersama kakak di surga?”

Aku menganggukkan kepala sabil berkata “apakah kita akan masuk surga kak ?”

            “kita berusaha semaksimal mungkin”

            “kakak?”

            “eemm”

            “adek punya ide, bagaimana jika kita membuat mini epicentrum bersama teman-teman organisasi?”

            “mini epicentrum bagaimana dek?” tanyanya

            “begini kak, epicentrum ini kan sejatinya satu lahan. Lalu di sewakan ke pedagang-pedangang, sehingga di satu lahan ini terdapat banyak penjual. Ada toko roti, ada toko baju, ada toko sepatu, ada rumah makan, ada toko handhpone dan lain-lainnya, di desain sedemikian rupa agar menarik dan orang datang berbelanja. Tapi satu kelemahan deperteman store seperti epicentrum dan mall-mall besar lainnya kak”

            “apa itu dek?” tanyanya lagi

            “Allah kan tidak merata membagi rejeki hambanya, misal bulan ini di toko roti sepi pembeli dan di toko baju banyak pembelinya. Si toko roti rugi lah, si toko baju kaya sendiri, atau sebaliknya, akan selalu ada untung rugi. Nah, sekarang di mini epicentrum ini adek mau rancang, ada tidak ada pembeli kita akan sama-sama dapat untung”

            “bagaimana caranya dek” ia terlihat antusias, aku pun semakin semangat menceritakan ide-ide ku padanya. Entah mampu terwujud ataupun tidak,

            “kita tak perlu membuat sebesar epicentrum, ingat ini mini epicentrum. Lahannya cukup di dua are tanah saja, nanti di lahan yang dua are itu, ada yang menjual pakaian, sembakau, kedai, atau apapun yang ingin teman-teman jual. Misal, perkirakan saja di lahan itu ada empat penjual dengan barang dagangan yang berbeda. Barang, A, B, C, dan D. adek menjual barang A misalnya, dan yang lain sisanya. Kasir satu, nanti rekap setiap bulan. Kembali modal, untung dikumpulkan lalu nanti di bagi empat. Jadi tidak ada kesan untung banyak atau sedikit, tapi sama rata. Tidak ada yang kaya sendiri atau miskin sendiri kak”

            “tapi nanti yang menjual barang B yang lebih laris, pasti lebih lelah di tenaga. Tidak adil jadinya dek”

            “betul kak, karena itu adek sudah memikirkan solusinya. Awal buka toko kan adek berjualan barang A, lalu setelah satu bulan kita bagi untung. Bulan berikutnya kita rolling, adek yang pada bulan pertama menjual barang A, maka di bulan berikutnya adek menjual barang B dan begitu seterusnya. Pindah tugas jaga, jadi kita merasakan semua profesi jualan”

            “iya, paham kakak. Tapi ada satu yang membuat kakak bingung”

            “apa itu kak” gantian aku yang bertanya

            “kapan semua ini adek fikirkan ?”

            “dulu, saat kakak masih menjadi ketua organisasi”

            “terus kenapa adek tidak memberi tahu kakak?”

            “adek kan lain sedikit kak, kalau ngomong harus pegang tangan seseorang”

            “iya adek pegang sich tangan teman-teman akhwat”

            “adek kan mau ngomong sama kakak, masa tangan yang mau di pegang tangan akhwat. Kan gag nyambung, kalo sekarang nyambung” kata ku sembari mengangkat pegangan tangan kami berdua.

            “berarti adek ingin memegang tangan kakak dari dulu yaa” ia mulai menggoda ku

            “iya, kakak sich gag pintar. Membiarkan adek menunggu begitu lama, pakai ada gosip kakak dekat dengan gadis Lombok Utara lagi”

            “iya juga, kakak pun menyesal menikah sama adek”

Dug, aku menghentikan langkah kaki ku

            “kakak menyesal menikah dengan adek?”

            “iya, kakak menyesal”

Dalam pemberhentian langkah ini aku menatapnya

            “kenapa?”

            “kakak menyesal menikah dengan adek sekarang, kenapa tidak menikah dengan adek dari dulu” ia tersenyum, sembari menengok kiri kanan dan mencium kening ku.  

            “ish menyebalkan”

            “ayo sini kejar kakak”

Aku pun mengejarnya,

            “argh kak” kata ku sambil bersender di tembok

            “kenapa dek” ku lihat ada gurat khawatir dipelupuknya

            “perut adek”

            “kenapa dengan perutnya dek”

            “perut adek”

            “iya kenapa sayang”

            “adek bercanda”

Ia marah “kakak gag suka adek bercanda dengan cara seperti itu”

            “adek juga gag suka kakak bercanda seperti itu”

            “ia kakak salah, gag akan kakak ulangi lagi. Adek juga jangan ulangi yaa”

            “kakak gag salah, ini romantic. Adek yang salah, terlalu sensitive. Mungkin ini karena si kecil yah kak” kata ku

Ia membantu aku berdiri, mengangkat dagu ku dan mendaratkan sebuah kecupan lagi.

            “kak, orang-orang sich tidak melihat tapi kan ada Allah yang lihat”

            “yaa gag apa-apa sich, kan Allah”

Kami pun pulang dengan hati yang riang gembira, dengan ilmu yang in syaa Allah berkah dan semoga bisa menjadi asbab iman meningkat.

            Jam 21.00 kami sampai kontrakan dengan selamat, malam ini aku ingin memberinya sebuah kejutan. Ku minta ia untuk memejamkan mata dan jangan menoleh sebelum aku perintah. Dalam hitunga ke tiga, aku memintanya berbalik.

            “astaga dek” kata pertama yang ia ucapkan

            “kenapa kak, kakak gag suka?” tebak ku melihat dari raut wajahnya

            “bukan gag suka dek, tapi baju macam apa yang kek jaring begini. Dimana-mana terbuka,” dia kudet baget, suami ku.

            “kakak gimana sich, ini namanya lingeri kak bukan jaring. Terbuka, itu memang sudah modelnya”

            “terus adek dapat baju itu dari mana?” tanyanya

            “sebenernya kemarin ada teman SMK adek kesini, dan ini hadiah pernikahan darinya, ia tidak sempat hadir memenuhi undangan kita kapan itu, karena tengah berada di Taiwan. Dan ini, lingeri ori dari Taiwan. Sexy kan kak?” gantian aku yang menggodanya dengan mengerjap-ngerjapkan mata

            “terus maksud adek memakai pakaian seperti ini apa?”

Ooh demi apa, dalam hal seperti ini memang suami ku lugu.

            “kak, masa hal-hal seperti itu harus kakak tanyakan. Iya tujuan adek memakai pakain seperti ini untuk menggoda kakak lah” aku manyun, merasa godaan ku gagal karena ketidaktahuannya.

            “maa syaa Allah dek, adek tidak berpakaian seperti ini saja sudah mampu membuat kakak tergoda”

Aku tersipu malu, sambil mernunduk dan memegang ujung lingeri berkata padanya

            “adek ingin memenuhi mata kakak dengan tampilan adek yang menarik, adek ingin memenuhi perut kakak dengan masakan-masakan adek, adek ingin memenuhi diri kakak dengan selalu siap kapan pun kakak minat, adek ingin menjadi penghuni surga dengan menjaga bakti kepada suami”

            “jika begitu baiklah, malam ini kakak akan membawa adek ke surga yang paling indah”

            “kakaaaaak” sua ku dengan nada yang mengalun sepanjang enam harakat

Dan malam itu terulang lagi dan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar