Genere : marriage life
“brum
brum brum”
Aah dia sudah
pulang
“assalamu’alaikum
dek”
“wa’alaikumsalam
kak”
Ku coba raih
tangannya, mencari keridhoan disana. Ku tawari ia, ingin makan atau mandi
terlebih dahulu.
“kakak
ingin mandi dulu, lalu makan dan kemudian menghabiskan sore dengan bersenda
gurau bersama adek”
aku
tersipu malu, belum terbiasa dengan semuanya. Meski sudah menikah enam bulan,
tapi rasanya masih berbeda. Masih belum menyangka, teman organisasi ku akan
menjadi suami ku.
“Alhamdulillah,
enak sekali menu hari ini”
Apapun makanan
yang ku hidangkan, ia selalu mengucapkan Alhamdulillah. Meski hanya tempe dan
tahu, aku tersenyum lagi dan lagi. Jujur, aku bahagia bersama dengannya.
“adek tersenyum terus, ada apa
gerangan?”
“adek bahagia kak, adek bahagia
bersuamikan kakak”
Ku tutup wajah
ku dengan tangan, aku malu.
“hey, wajah tersipu malu ini sangatlah
indah. Kenapa harus di tutup?”
Percakapan itu
di jeda oleh pelanggan yang datang berbelanja,
“bagaimana jualan hari ini?”
“Alhamdulillah kak”
Ia tersenyum,
tak ada lesung pipi disana, tapi senyumnya selalu meneduhkan.
“sudah, biar kakak yang
merapikannya. Adek diam saja disini, kali aja ada orang belanja”
Itu yang membuat
ku bingung selama ini, ia baru pulang kerja, bahkan merebahkan punggunyapun ia
belum sempat, tetapi selalu ia luangkan waktu untuk membantuku. Suami,
superheronya istri. Jangan pernah cederai gelar itu laki-laki.
“beres”
Katanya dengan gagah
sembari menghampiriku, kita duduk berdua di depan etalase barang-barang.
“assalamu’alaikum, jagoan sholeh
ayah apa kabar”
Ia merunduk dan
mengusap-usap perut ku yang semakin hari semakin membuncit. Ia memejamkan
matanya, rebahan dengan berbantalkan paha ku.
“usapan tangan ini selalu membuat
kakak nyaman dan tenang, serasa tak pernah ada lelah yang singgah”
Ia merubah
posisinya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang ku. Ku pikir ia seorang
laki-laki berbadan pendek, namun ternyata aku salah karena meski perut ku sudah
membesar tangannya masih mampu melingkar dengan sempurna.
Kita tertawa
setelah saling adu bahasa daerah masing-masing.
“haha,
kakak tahu adek tidak mengerti apa yang kakak bilang.” Betul, enam bulan
menikah dengannya aku tak mengerti bahasa daerahnya. Kadang ia menggoda ku
dengan bahasanya, mungkin jika ada kamus bahasa Sumbawa-Sasak aku ingin
membelinya satu. Sore pun berganti dengan malam, adzan magrib sudah mulai
berkumandang. Selepas sholat dan sepulangnya dari masjid, ia selalu mengajarkan
ku memasihkan bacaan Al Qur’an.
“dek, besok kakak libur. Kita pergi
taddabur alam ya?”
Ku iya kan
dengan riang gembira, aku tak pernah meminta apapun lebih dulu. Kecuali satu,
hubungan suami istri. Bukan hanya aku, tapi di kalangan para orang-orang sholeh
dan sholehah pasti mengerti betul bahwa istri yang menawarkan diri pada suami
saat akan tidur pahala baginya. Nikmat dunia dan nikmat surga, lalu bagaimana mungkin
aku akan menanggalkan kewajiban itu. Tak ada malu, tak ada harga diri, karena
kami telah menjadi satu, aku telah berjanji, saat menikah akan ku letakkan
duniaku di bawah telapak kakinya.
Selasa pagi, pantai cukup sepi
karena bukan saat-saat holiday. Aah, suara riak yang sudah lama ku rindu.
Terlebih rerumputan yang pada menghijau, seolah menandakan bahwa disini sedang
musim semi.
“kakak tahu, berjalan di pinggir
pantai bergandengan bersama kekasih sejati dengan perut membuncit adalah salah
satu dari semua hal yang ingin adek lakukan. Sepi, tak ada orang dan hanya kita
berdua”
Ia tersenyum dan
berkata “sudah kakak booking tempat ini kepada Allah, agar tak ada sesiapapun
selain kita”
“apaan kakak ini” tanggap ku sembari
merebahkan kepala di pundaknya menyusuri pantai yang tak berpenghuni.
Pagi itu pun
berakhir dengan satu panggang ikan bakar dan segelas es kelapa muda. Bukan
pelit, tapi aku sangat menyukai makan sepiring atau pun minum segelas
dengannya.
“istri manja ku”
“heee”
Sesampai di
rumah, aku langsung membuka warung sembari bersih-bersih dan memasak.
Alhadulillah, selama enam bulan menikah kami belum pernah merasakan yang naanya
kekurangan uang.
Selasa siang,
“kak, nanti ada kajian di masjid
Aisyah Lawata Mataram khusus muslimah. Adek boleh pergi?”
“dengan tulus hati kakak ijinkan
sholehah”
“kakak antar adek yaa, kita tutup
saja warung”
Ia tersenyum dan
menasehati ku
“pasti dek, jika bukan kakak siapa
lagi yang akan menemani adek. Satu lagi, jangan pernah keberatan meninggalkan
dunia untuk pencipta. Rejeki tak akan pernah tertukar, entah Allah beri dengan
banyak uang atau sedikit uang tapi tenang”
Aku membalas
nasehatnya dengan pelukan
“itulah alasan adek kenapa tak ingin
menjadi karyawan kak, agar tak ada yang menghalangi langkah adek menuju
taman-taman surga. Tentunya, kecuali suami dan sang Ilahi”
“dan adek harus bersyukur karena
Ilahi memberi adek suami yang tak akan menghalangi melainkan menemani” Katanya
Sembari mengedipkan sebelah mata, percaya diri tapi tak sombong membuatnya
semakin terlihat tampan.
Kajian
berjalan lancar, selepas kajian ia selalu bertanya kesimpulan apa yang bisa ku
ambil. Kesimpulan yang bisa ku ambil pada kajian kali ini, bahwa tidak
mendengarkan music merupakan salah satu hal yang bisa menjaga kemulian dan
kehormatan seorang wanita.
“adek
banyak salah dalam hal ini kak, hampir semua lagu dari semua grup band adek
hafal” tunduk ku
“itu
kan masa lalu dek, adek tidak pernah pacaran tapi mendengarkan music. Kakak
pernah pacaran tapi tidak pernah mendengarkan music, setiap orang mempunyai
dosa yang berbeda dek. Tugas kita mencari ilmu, membenahi diri dan jangan
mengulangi”
Aku melingkarkan
tangan dipinggangnya, lalu ia usap menyalurkan ketenangan.
“dek, coba Tanya jagoan sholehnya kakak.
Ada yang mau dibeliin gag?”
“ish kakak, si kecil belum lahir aja
kakak udah pilih kasih. Si kecil aja yang di Tanya, bundanya gag”
“iya dah, bundanya mau apa”
“gag jadi dah”
“eeh kakak bercanda”
“kakak ni suka goda adek”
“emank, hobi kakak kan godain adek”
Aku hanya manyun
di belakang, lalu ia berhenti di warung pinggir jalan yang memjual lalapan.
“kenapa berhenti?” Tanya ku
“karena kakak tahu, adek sangat
menyukai lalapan,” jawabnya enteng.
Rasanya ingin ku
serahkan diri padanya, laki-laki yang ku anggap acuh tak acuh sebelum menikah
ternyata sebegini hangatnya. Perempuan, apakah kau mendapatkan suami seperti
suami ku? yang kepada perempuan lain ia dingin tapi pada ku ia sehangat mentari
di pelupuk sang jingga di sore hari.
“lalapan ayam lima pak” katanya
“kak banyak sekali” Tanya ku bingung
“untuk ayah, ibu dan adek-adek. Kita
pulang lewat sana”
Aku terharu,
seketika sesegukan.
“hey, kenapa menangis. Nanti
orang-orang mengira kakak menyakiti adek”
“adek bahagia kak” kata ku sembari
mengusap air mata bak anak kecil
“kalau adek bahagia, terus ingin
balas jasa nanti saja di dalam kamar,” senyumnya jahil.
Sungguh, ia
satu-satunya lelaki yang mampu membuat ku tersenyum dalam tangis.
Di akhir zaman ini, semua jenis manusia ada.
Dari yang bejad, hingga yang terlihat seperti malaikat. Bersyukurlah, jika kita
mempunyai teman-teman yang taat. Lombok, pulau yang terkenal dengan seribu
masjidnya. Seakan-akan tak pernah di jeda oleh kajian-kajian, taman-taman surga
ada dimana-mana. Dari Mataram hingga ke Lombok bagian utara, kita hanya
meluangkan waktu saja untuk menghadirinya. Baru kemarin kajian muslimah di
masjid Aisyah, kini ada lagi kajian umum di masjid At-Taqwa epicentrum Mataram
Mall.
“nanti ba’da magrib ada kajian umum
ustadz Firanda Andiraja, adek ikut yaa”
“insyaa Allah kak, semoga si kecil tidak
rewel”
“jadi anak yang baik yaa jagoan
sholehnya ayah, supaya bunda bisa pergi ke taman-taman surga” Serasa ada
tendangan, mungkin di sana dia pun ingin ikut ke taman-taman surga bersama
orang tuanya.
Saat kajian pun tiba, kami berangkat
lebih awal. Terburu-buru, adalah hal yang disukai setan. Saat ku Tanya menggapa
jalan lebih awal, ia menjawab
“agar kakak bisa goda adek ntar di
jalan”
Ku cubit
pinggangnya, ia tersenyum. Menikah sangatlah indah, bergaul dengan satu orang
tidaklah membosankan.
“kak kita lewat lift atau escalator?”
“lewat escalator dek”
“ya sudah, kakak lewat escalator
adek lewat lift”
“yah kenapa gitu dek?”
“kakak tahu adek punya trauma dengan
escalator”
“kakak tahu adek punya trauma dengan escalator, gag mungkin lah kakak ajak adek lewat sana”
“jadi?”
“kita lewat lift”
“okey” ku eratkan pegangan tangannya
“ladies first”
Aku tengah hamil
enam bulan, mana mungkin aku masih bisa di bilang gadis. Tapi katanya “adek
tetap gadis di mata kakak”, di balik cadar ia selalu membuat ku tersenyum
dengan tingkahnya.
Kajian kali ini pun berjalan lancar,
tidak langsung pulang, melainkan kami berjalan-jalan lebih dulu. Menikmati
suasana malam di teras-teras epicentrum,
“bagaimana kajian tadi?” tanyanya
membuka obrolan
“terharu kak, jatuh cinta adek sama
ibunda Aisyah Radiallahuanha”
“jika jatuh cinta maka jadikan
panutan dek”
“nggih kak, selalu berusaha”
“kalau
kakak terharu saat sang ustadz mengatakan, seorang wanita nanti di surga akan
bersama suami terakhirnya di dunia. Adek mau kan bersama kakak di surga?”
Aku
menganggukkan kepala sabil berkata “apakah kita akan masuk surga kak ?”
“kita berusaha semaksimal mungkin”
“kakak?”
“eemm”
“adek punya ide, bagaimana jika kita
membuat mini epicentrum bersama teman-teman organisasi?”
“mini epicentrum bagaimana dek?”
tanyanya
“begini kak, epicentrum ini kan
sejatinya satu lahan. Lalu di sewakan ke pedagang-pedangang, sehingga di satu
lahan ini terdapat banyak penjual. Ada toko roti, ada toko baju, ada toko
sepatu, ada rumah makan, ada toko handhpone dan lain-lainnya, di desain
sedemikian rupa agar menarik dan orang datang berbelanja. Tapi satu kelemahan
deperteman store seperti epicentrum dan mall-mall besar lainnya kak”
“apa itu dek?” tanyanya lagi
“Allah kan tidak merata membagi
rejeki hambanya, misal bulan ini di toko roti sepi pembeli dan di toko baju
banyak pembelinya. Si toko roti rugi lah, si toko baju kaya sendiri, atau
sebaliknya, akan selalu ada untung rugi. Nah, sekarang di mini epicentrum ini
adek mau rancang, ada tidak ada pembeli kita akan sama-sama dapat untung”
“bagaimana caranya dek” ia terlihat antusias,
aku pun semakin semangat menceritakan ide-ide ku padanya. Entah mampu terwujud
ataupun tidak,
“kita tak perlu membuat sebesar
epicentrum, ingat ini mini epicentrum. Lahannya cukup di dua are tanah saja,
nanti di lahan yang dua are itu, ada yang menjual pakaian, sembakau, kedai,
atau apapun yang ingin teman-teman jual. Misal, perkirakan saja di lahan itu
ada empat penjual dengan barang dagangan yang berbeda. Barang, A, B, C, dan D.
adek menjual barang A misalnya, dan yang lain sisanya. Kasir satu, nanti rekap
setiap bulan. Kembali modal, untung dikumpulkan lalu nanti di bagi empat. Jadi
tidak ada kesan untung banyak atau sedikit, tapi sama rata. Tidak ada yang kaya
sendiri atau miskin sendiri kak”
“tapi nanti yang menjual barang B
yang lebih laris, pasti lebih lelah di tenaga. Tidak adil jadinya dek”
“betul kak, karena itu adek sudah
memikirkan solusinya. Awal buka toko kan adek berjualan barang A, lalu setelah
satu bulan kita bagi untung. Bulan berikutnya kita rolling, adek yang pada
bulan pertama menjual barang A, maka di bulan berikutnya adek menjual barang B
dan begitu seterusnya. Pindah tugas jaga, jadi kita merasakan semua profesi
jualan”
“iya, paham kakak. Tapi ada satu
yang membuat kakak bingung”
“apa itu kak” gantian aku yang
bertanya
“kapan semua ini adek fikirkan ?”
“dulu, saat kakak masih menjadi
ketua organisasi”
“terus kenapa adek tidak memberi
tahu kakak?”
“adek kan lain sedikit kak, kalau
ngomong harus pegang tangan seseorang”
“iya adek pegang sich tangan
teman-teman akhwat”
“adek kan mau ngomong sama kakak,
masa tangan yang mau di pegang tangan akhwat. Kan gag nyambung, kalo sekarang
nyambung” kata ku sembari mengangkat pegangan tangan kami berdua.
“berarti adek ingin memegang tangan
kakak dari dulu yaa” ia mulai menggoda ku
“iya, kakak sich gag pintar.
Membiarkan adek menunggu begitu lama, pakai ada gosip kakak dekat dengan gadis
Lombok Utara lagi”
“iya juga, kakak pun menyesal
menikah sama adek”
Dug, aku
menghentikan langkah kaki ku
“kakak menyesal menikah dengan adek?”
“iya, kakak menyesal”
Dalam
pemberhentian langkah ini aku menatapnya
“kenapa?”
“kakak menyesal menikah dengan adek
sekarang, kenapa tidak menikah dengan adek dari dulu” ia tersenyum, sembari
menengok kiri kanan dan mencium kening ku.
“ish menyebalkan”
“ayo sini kejar kakak”
Aku pun
mengejarnya,
“argh kak” kata ku sambil bersender
di tembok
“kenapa dek” ku lihat ada gurat khawatir
dipelupuknya
“perut adek”
“kenapa dengan perutnya dek”
“perut adek”
“iya kenapa sayang”
“adek bercanda”
Ia marah “kakak
gag suka adek bercanda dengan cara seperti itu”
“adek juga gag suka kakak bercanda
seperti itu”
“ia kakak salah, gag akan kakak
ulangi lagi. Adek juga jangan ulangi yaa”
“kakak gag salah, ini romantic. Adek
yang salah, terlalu sensitive. Mungkin ini karena si kecil yah kak” kata ku
Ia membantu aku
berdiri, mengangkat dagu ku dan mendaratkan sebuah kecupan lagi.
“kak, orang-orang sich tidak melihat
tapi kan ada Allah yang lihat”
“yaa gag apa-apa sich, kan
Allah”
Kami pun pulang
dengan hati yang riang gembira, dengan ilmu yang in syaa Allah berkah dan
semoga bisa menjadi asbab iman meningkat.
Jam 21.00 kami sampai kontrakan
dengan selamat, malam ini aku ingin memberinya sebuah kejutan. Ku minta ia
untuk memejamkan mata dan jangan menoleh sebelum aku perintah. Dalam hitunga ke
tiga, aku memintanya berbalik.
“astaga dek” kata pertama yang ia
ucapkan
“kenapa kak, kakak gag suka?” tebak
ku melihat dari raut wajahnya
“bukan gag suka dek, tapi baju macam
apa yang kek jaring begini. Dimana-mana terbuka,” dia kudet baget, suami ku.
“kakak gimana sich, ini namanya
lingeri kak bukan jaring. Terbuka, itu memang sudah modelnya”
“terus adek dapat baju itu dari mana?” tanyanya
“sebenernya kemarin ada teman SMK
adek kesini, dan ini hadiah pernikahan darinya, ia tidak sempat hadir memenuhi
undangan kita kapan itu, karena tengah berada di Taiwan. Dan ini, lingeri ori
dari Taiwan. Sexy kan kak?” gantian aku yang menggodanya dengan
mengerjap-ngerjapkan mata
“terus maksud adek memakai pakaian
seperti ini apa?”
Ooh demi apa,
dalam hal seperti ini memang suami ku lugu.
“kak, masa hal-hal seperti itu harus
kakak tanyakan. Iya tujuan adek memakai pakain seperti ini untuk menggoda kakak
lah” aku manyun, merasa godaan ku gagal karena ketidaktahuannya.
“maa syaa Allah dek, adek tidak
berpakaian seperti ini saja sudah mampu membuat kakak tergoda”
Aku tersipu
malu, sambil mernunduk dan memegang ujung lingeri berkata padanya
“adek ingin memenuhi mata kakak
dengan tampilan adek yang menarik, adek ingin memenuhi perut kakak dengan
masakan-masakan adek, adek ingin memenuhi diri kakak dengan selalu siap
kapan pun kakak minat, adek ingin menjadi penghuni surga dengan menjaga bakti
kepada suami”
“jika begitu baiklah, malam ini
kakak akan membawa adek ke surga yang paling indah”
“kakaaaaak” sua ku dengan nada yang
mengalun sepanjang enam harakat
Dan malam itu terulang lagi dan lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar