Minggu, 01 Oktober 2023

Bukankah Lelah Itu Berwujud ?



Sebenarnya, aku hanya mengingikan sebuah kehidupan yang sederhana. Aku ingin bekerja enam hari dalam seminggu, aku ingin sepulang kerja tidak ada pekerjaan yang dibawa pulang ke rumah, apalagi sampai memikirkannya hingga membuat tidak nyenyak tidur. Aku ingin bekerja dengan tenang, tanpa banyak teman, tanpa tekanan laporan yang akan merugikan orang lain. Aku ingin bekerja diwaktu kerja, lalu sisanya aku ingin menikmati hidup dengan beribadah dan hal-hal lain yang mungkin aku sukai. misal seperti menonton drama yang aku suka, membaca buku yang aku gemari, menulis cerita. 

Sebuah kehidupan sederhana versi ku, pagi bekerja, lalu pulang jam tiga siang, kemudian istirahat sembari menunggu adzan asar. Membantu ibu membersihkan halaman, menyapu dan menyiram. Mandi, membaca buku, menulis atau memainkan ponsel entah untuk mendengar kajian, video motivasi, bahkan ngestalking teman-teman di sosial media. Saat malam tiba, menunaikan sholat magrib, mengaji sembari membaca terjemahan Al Qur'an. Menunaikan sholat isya, disini ada waktu luang lagi sembari menunggu jam 09.30 untuk tidur. jeda waktu luang bisa diisi seperti waktu-waktu luang di atas, misal melanjutkan membaca buku, bermain hp, menulis menonton. Alangkah baiknya, mempunyai agenda yang lebih produktif. Seperti mengobrol dengan orang tua atau saudara, membuat sebuah topik untuk diperbincangkan. Tidur di awal waktu, dapat membuat kita disiplin dalam menjalankan sholat malam/tahajjud. Memuji, memohon dan meminta. Memuji Tuhan, memohon ampun dan meminta apa yang kita ingin. Benar-benar hidup sederhana, lalu bertemu pagi, bekerja seperti biasa, memutar hari tanpa ambisi dunia. 

Sebuah kehidupan sederhana versi kedua ku, siang sekitar jam 02.30 berangkat kerja, lalu pulang jam 10.00 atau 09.30 malam. Aku biasanya tidak sholat isya ditempat bekerja, lebih menikmati sholat di rumah. Lalu melanjutkan dengan membaca Al Qur'an, jika masih ada tersisa waktu melanjutkan dengan membaca terjemahannya. Saat badan terlalu lelah, kadang tak bisa tenaga sampai menyentuh terjemahannya. Melanjutkan tidur, untuk bersiap sholat malam. Saat mendapat jam kerja di siang hari, pagi bisa diisi dengan membantu orang tua mencuci piring, menyapu atau bahkan mencuci pakaian sendiri. Lalu diisi dengan membaca buku, atau menonton video motivasi dan tausiah. 

Ya, itulah dua hidup sederhana versiku. Tanpa terlalu berambisi akan dunia, dan tanpa gila mode serta gaya hidup. Aku lebih senang menikmati hidup dengan apa adanya, sederhana, namun bermakna dan ringan. Aku tak ingin punya banyak uang, cukup bisa membiayai kebutuhan sehari-hari, bisa membeli buku sekali setiap gajian, bisa membeli baju sesekali, bisa membantu kebutuhan dapur orang tua atau uang jajajn adek, bagiku hidup seperti itu sudah cukup. Saat aku bekerja di sebuah instansi swasta dengan gaji 1.2 juta, aku bisa menganggarkannya 200 untuk membantu uang sekolah adek, 300 ribu untuk ibu, lalu sisanya 700 ribu bisa untuk aku bertahan sampai gajian. Aku tipe orang yang sulit percaya sebuah kata-kata yang mungkin ada hubungannya dengan agama, namun entah mengapa, aku percya dengan kalimat

"semakin banyak pemasukan, maka semakin banyak pula pengeluaran"

saat aku bergaji 1.2 juta, maka semua kebutuhan sampai gajian bulan depan bisa tercover. Namun saat aku bergaji 4.5 juta, semua kebutuhan tercover dan uang itu juga habis. Bukankah hidup dengan gaji 1.2 juta dan gaji 4.5 juta sama saja, bahkan saat bergaji 1.2 juta kita mendapat nilai plus, yakni sebuah ketenangan menjalani hari-hari, tak ada laporan yang menekan, tak ada rekan kerja yang membebani, tak ada aturan-aturan goblok yang mengikat. Hidup dengan gaji 4.5 juta juga punya nilai plus, namun palsu. saat bergaji 4.5 juta, bergengsi dengan seragam dan atas nama Pegawa Negeri Sipil (PNS), namun tak dapat tidur nyenyak memikirkan pekerjaan, tak jarang membawa pekerjaan pulang ke rumah, bahkan saat hari libur dihubungi atasan untuk menyelesaikan laporan yang tak bisa diselesaikan di jam kerja, belum mengurus rekan kerja yang membutuhkan laporan pada kita. Bekerja di instansi pemerintah adalah sistem kerja jejaring yang sangat besar. Bukan lagi tentang berhubungan dengan satu orang dengan orang lain, melainkan berhubungan dengan satu unit dengan unit lain, berhubungan dengan instansi satu dengan instansi lain, belum berhubungan dengan orang-orang diluar pemerintah, seperti rekanan luar, para pedagang atau percetakan. 

Namun seperti sebuah pernikahan, bahwa dalam pernikahan bukan hanya tentang aku atau dia, tapi juga ada keluarga ku dan juga keluarganya. begitu juga hidup, bukan hanya tentang ku saja, melainkan ada ingin orang tua yang harus diwujudkan. Ada kesuksesan yang mereka impikan didalam diri anak-anaknya, mengabaikan itu disaat kita dianggap mampu, hanya akan memberi kesakitan pada diri sendiri, hanya akan memberi penyesalan saat ditinggal lebih dulu dari dunia. Hingga akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, hidup sederhana itu tidak ada bagi anak-anak yang tak berani melawan dirinya sendiri, yang tak berani memberikan pembuktian kesuksesan berdasarkan apa yang mereka inginkan. 

Tak ada orang tua yang ingin anaknya menderita, tak ada orang tua yang ingin anaknya sengsara. Semua orang tua ingin anaknya sukses dan berhasil, namun sangat jarang ada orang tua yang memahami, hidup seperti apa yang anaknya inginkan. Meskipun begitu, dalam kasus hidupku, aku bukan korban dari orang tua ku, aku adalah korban dari diriku sendiri. 

Bukankah aku terlihat begitu lelah ? ini adalah wujud lelahku.


Sabtu, 05 Agustus 2023

GRUP CHAT


______💜______

Sore itu, saat metik mangga di halaman rumah, HP berbunyi. Aku di undang masuk ke sebuah grup chat di WA, sebuah grup chat dengan nama 'Ikatan Mahasiswa'. Awalnya aku mengiri, bahwa grup ini sebagai inisiasi atau pembentukan kembali karang taruna yang bahkan selama aku remaja tidak pernah melihat tanda-tanda pergerakan dari karang taruna. Namun begitu melihat isinya, grup itu tidak hanya beranggotakan para pemuda yang kuliah atau yang sudah wisuda, melainkan juga mereka yang sudah berkeluarga/menikah. Hingga hilang sudah bayangan bahwa desa akan punya karang taruna aktif.

Tidak sampai di situ, aku penasaran apa tujuan dari pembentukan grup ini. Benar-benar blur, bahkan tak ada sepatah dua patah kata pun pada kolom diskripsi. Aku bertanya pada seorang admin

"Mohon maaf, tujuan dibentuknya grup itu apa ya?"

Lalu aku diberi jawaban, tidak bisa mengerti, namun mencoba memahami bahwa segala sesuatu tidak harus sat set sat set. Dalam fikiranku, seharusnya jika ingin melakukan sebuah gebrakan, maka sudah sepatutnya dipersiapkan hal-hal dasar beserta strateginya. Misal, sebelum memulai di sosial media, alangkah lebih baik membentuk tim kerja inti. Meski sekuat apapun media sosial, hal nyata itu juga masih sangat penting. Dalam kasus ini, pembuatan grup ikatan mahasiswa tingkat desa. Bagaimana jika langkah awalnya itu, mengumpulkan atau mengundang setidaknya satu mahasiswa perwakilan masing-masing dusun. Lalu disana, sampaikanlah niat, harapan dan segala macamnya.

"Saya ingin membuat grup Ikatan Mahasiswa desa, tujuannya untuk menjadi penggerak dari karang taruna yang sedang saya coba untuk hidupkan kembali. Tentunya disini saya tidak bisa bekerja sendiri, karenanya, mari kita bentuk tim dan samakan persepsi yang selanjutnya akan kita jadikan visi misi"

Begitu kesepakatan sudah ada, baru lah sekumpulan mereka bergerak. Ingin memulai dari membuat grup chat WA, maka akan dengan mudah mengkoordinirnya. Masing-masing perwakilan dusun memasukkan teman-teman yang berkuliah ke dalam grup WA, sehingga akan dapat data valid. Berapa anggota dari dusun A, B, C, dan D, mudah dalam pengumpulan datanya. Tentu pada deskripsi grup, sudah terpampang tujuan dan visi misinya. Berembuk visi misi ? Rapat visi misi ? Tidak perlu lagi. Nanti ada yang membangkan ? Tentu tidak, karena sebelumnya juga harus dibahasakan pada undangan saat mengajak rapat para pemuda perwakilan dusun.

"Besok datang ke rumah ya, dalam rangka mengaktifkan kembali karang taruna yang sebagai penggerak utama adalah para sarjana. Jika memungkinkan, koordinasi dengan teman-teman yang ada disana"

Jadi si perwakilan dusun ini juga sudah bilang sama teman-teman yang ada didusunnya,

"Gaes, besok ada undangan rapat dari si B dalam rangka mengaktifkan kembali karang taruna. Akan menyamakan tujuan visi misi dan segala macamnya, jika ada yang ingin ikut silahkan, jika tidak ada maka tidak apa-apa, dan jika ada yang ingin disampaikan tapi berhalangan hadir, bisa titipkan usulannya sama saya untuk dibahas bersama nanti"

Dengan begitu, saat grup chat WA terbentuk, tak ada lagi yang menanyakan tujuan visi misinya apa. Melainkan akan menanyakan program-program kerjanya, kalau pun ada yang bertanya tentang tujuan dan visi misa, paling hanya menanyakan maksud dari point A, B, C apa.

_____💜______

Namun semua itu sudah terjadi, yang didahului adalah grup chat tanpa berkoordinasi lebih dulu. Berandai-andai tak akan menyelesaikan yang sudah terjadi, sekarang tugasnya adalah mencari solusi. Bagaimana caranya agar grup chat tersebut aktif, hidup, dan bermanfaat. Sebab kenapa, banyak para anggota grup bertanya dan berkata

"Tujuan grup ini apa ?"

"Visi misi grup ini apa ?"

"Ujung-ujungnya nanti grup ini akan menjadi grup terbengkalai dan mati"

"Grup apa lagi ini, sudah kebanyakan grup"

"Grup gag jelas"

Terlepas dari harapan-harapan dan angan-angan ku di atas, kita kembali ke realita, bahwa seharusnya tidak begitu seorang mahasiswa yang terhimpun dalam satu desa yang sama. Mahasiswa harus bisa melepaskan rasa kepemilikan, entah 'kepemilikan saya' atau 'kepemilikan dia'.

Berdasrkan analisis ku, di grup itu terdiri dari mahasiswa yang menganut sistem

"Kan dia jadi depan, jadi tugasnya dia"

"Kan bukan saya adminnya"

"Bukan saya yang buat grup, jadi, biarkan saja dah dia yang ngurus"

Karenanya grup sepi, mahasiswanya mungkin berfikir seperti itu. Seharusnya lepas rasa 'kepemilikan dia', misal

"Kita satu desa, sudah seharusnya saya hidupkan grupnya"

Maka dengan begitu, grup chat akan terasa  jelas sembari menunggu hal-hal yang lebih jelas lagi.

Bukan begitu ?

_____💜_____

Rabu, 26 Juli 2023

Saat Usiamu 25 Nanti

 


Apa kabar ? Ada disini yang usianya 25 tahun, atau mungkin yang sedang berjalan menuju angka itu, atau yang sama denganku, yang sudah melebihi angka itu ? 


Saat usia 25 tahun, aku lulus menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil. Saat usia 25 tahun, aku belum menikah sementara teman-teman sudah menggendong anak. Aku iri, namun seiring berjalan waktu, takdir menyibak sedikit demi sedikit kebaikan Allah yang tidak bisa aku lihat.


Saat usia belum 25 tahun, bagaimana jika aku menikah. Apakah aku bisa menjadi PNS ? Mungkin saja tidak, meski mungkin juga bisa. Namun satu yang aku sadari, kita punya porsi hidup masing-masing. Aku lulus CPNS meski jodohnya datang lebih lama, teman jodohnya datang lebih awal, namun berakhir tidak kuliah. 


Teman-teman bahagia hanya tinggal di rumah, membesarkan anak, meraup pahala. Namun aku, banting tulang menafkahi diri sendiri. Ternyata, teman-teman yang sudah menikah pun memikirkan keuangan keluarga. Saat keuangan itu drop, ia juga harus bekerja dengan ijazah seadanya. Sedang aku sudah bekerja, penghasilan stabil, sedikit tidak, bisa membantu perekonomian saat membangun rumah tangga nanti. 


Lagi, ini bukan tentang membandingkan. Ini tentang bagaimana kita harus berfikir luas, saat nanti usia sudah 25 tahun. Sebab, akan banyak penghakiman dari orang-orang tanpa gelar hukum.


"Kapan nikah?"


"Kenapa belum juga nikah?"


"Sudah sarjana kok belum kerja!"


"Sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya jadi pengangguran"


Saat usiamu 25 nanti, apapun yang terjadi, percayalah itu sudah tertakar. Sudah ada sisi baiknya, cobalah untuk menyibak tabir rahasianya. Terima, maknai.



Senin, 01 Mei 2023

FACE



Kenapa belum menikah?

Kapan akan menikah?

Temen-temannya sudah menikah semua?

Pemilih ya?

Kasihan dia, belum menikah!

Dia menikah saja dengan cowok itu!

_________💜________

Aku pernah dikenalkan pada laki-laki oleh teman kajian, aku merasa cocok dan dia pun sama. Namun ketika melihat wajahku, tiba-tiba ia berkata bahwa kita tidak cocok. Lalu pergi, dan satu tahun kemudian dia menikah.

Aku juga pernah dikenalkan pada laki-laki oleh teman kuliah, kita nyambung saat berbicara. Hanya saja tidak pernah bertemu, aku tak ingin terlalu nyaman. Belajar dari pengalaman kemarin, aku berinisiatif mengirimkannya foto. Lalu setelah itu, tidak ada chat di antara kita.

Dua kali, aku sudah tidak ingin dikenalkan meski masih banyak teman yang menawarkan. Aku akan memilih sendiri, sesuai inginku. Namun aku tak banyak bergaul, tak punya sircle teman laki-laki. Usia semakin betambah, pertanyaan 'kapan menikah' makin sering terdengar. Terlebih saat teman main terakhir juga menikah.

Bukan mati rasa, hanya malas merasa. Seperti, sudah tahu endingnya. Namun beberapa waktu lalu, seorang teman kerja meminta ijin untuk mengenalkanku pada seorang laki-laki yang berprofesi sebagai Apoteker dengan pendidikan terakhir Strata dua. Aku mencoba sekali lagi, mungkin ia merasa cocok dari biodata yang aku tulis. Tak ada yang spesial, aku menulis sejujur-jujurnya, bahkan tentang wajah. 'Aku mempunyai wajah dgn bibir yg tak rata, TIC facial dextra sebutannya'.

Setelah bertukar biodata, teman menyampaikan, ingin melihat wajah. Aku mengirimkannya, sesuai dugaan, teman berkata

"Cantik, tapi ia ingin membicarakan dulu dengan orangtuanya"

Aku tertawa, padahal itu alasan untuk menolak.

Aku memang tidak pernah bisa mendapatkan laki-laki sendiri, selalu dari teman, selalu dikenalkan. Hanya sekali, aku bisa mengenal laki-laki secara langsung. Dia teman sekolah, seorang laki-laki yang aku cinta selama masa sekolah. Terjeda selama masa perkuliahan, lalu takdir membuat rasa itu kembali, tentu dengan aku yang menghubungi lebih dulu.

Menghubunginya lagi penuh pertimbangan 

"rasa itu gag akan kembali lagi kan, gag mungkin kan" setelah yakin aku bisa mengendalikan diri, barulah aku mengirimkannya pesan singkat. 

Aku menghubunginya karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Namun ternyata salah, aku jatuh untuk kedua kalinya pada laki-laki yang sama. Ketahuilah, ini juga cinta sebelah pihak. Cinta yang juga tertolak karena wajah.

Aku mencintainya sangat dalam, hingga aku merasa, tak akan bisa melupakannya. Aku mengajaknya menikah, meski aku tahu ia tak ada rumah, aku tak masalah tinggal dengan mertua. Aku mengenal diriku, aku bisa beradaptasi, aku bisa membuat mereka nyaman dengan ku. Hingga tak masalah, jika memang harus tinggal bersama.

Dia bukan seorang sarjana, aku tetap memintanya untuk menikah denganku, ia hanya tidak kuliah tapi bukan berarti dia bodoh, lagi pula gen otak anak di ambil dari gen ibu. Meski aku tidak pintar, namun aku tidak keberatan jika nanti anak-anak ku mewariskan otak atau cara berfikirku.

Bahkan saat aku tahu dia tak mempunyai pekerjaan, aku tetap mau menikah dengannya. Aku merasa, gaji PNS bisa untuk hidup, asal jangan untuk memenuhi gaya hidup. Intinya, aku buta saat itu. Aku menerima semua kurangnya, aku menerima ia yang seorang perokok, aku menerima ia dengan rambut gondrongnya. Aku menerima ia dengan dirinya, hanya saja aku tak punya wajah yang ia cari.

Aku berfikir, aku harus melupakannya. Teman-teman juga berkata, bahwa aku harus move on. Mereka memberi saran, dengan menyibukkan diri kita bisa cepat melupakan seseorang. Memang benar, saat tugas negara begitu banyak, aku lupa. Namun saat sepi melanda, aku teringat kembali. Ingin menghubungi, atau memberi kode agar ia yang menghubungi.

Dari saran teman-teman, tak ada satu cara pun yang benar-benar bisa membuatku melupakannya. Bahkan dengan cara mencari keburukannya sekali pun, bukankah aku sudah mengatakan, aku menerima baik dan buruknya, kurang lebihnya. Sebenarnya, aku tahu satu cara move on paling cocok untuk ku, hanya saja aku tak mau melakukan dengan cara itu.

Setiap keluar, atau saat bertemu dengannya, aku merasa tidak dihargai, bahkan sebagai teman. Padahal ia yang sering berkata 

"kita temanan saja" namun nyatanya ia tak bisa memperlakukanku seperti temannya.

Aku melihat, ia memperlakukan ku seperti seorang yang malu terhadap orang lain. Ia malu bersama dengan ku, kenapa harus malu jika kita  berteman. Mau jelek atau buruk rupa, tak pernah ada teman yang malu dengan temannya.

Perlakuan seperti itu yang tidak pernah bisa aku terima, hingga akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan cara terakhir. Sebuah cara yang cocok untukku melupakan segala hal-hal tak baik yang ingin aku lupakan, salah satunya cinta dan laki-laki. Menjadi fangirl, kebetulan saat itu juga tengah viral salah satu member BTS 'Jeon Jungkook' yang membawakan main song untuk pembukaan piala dunia Qatar.

Aku mencari tahu tentang mereka, hingga aku tahu tentang fakta bahwa mereka terkenal bukan hanya karena wajah 'plastik' yang kata kebanyakan orang. Namun lebih dari itu, mereka terkenal karena perjuangannya, kerja keras dan prestasinya. Mereka mulai dari agensi atau perusahaan kecil, lalu tumbuh dan melahirkan banyak karya yang membuatku terpesona.

Kata teman "jangan jadi anak kpopers, jangan menggilai oppa-oppa, kafir."

Aku bukan kpopers, aku bukan penggemar, aku juga tak mengidolakan mereka. Aku menganggap mereka teman, apa tak boleh berteman dengan yang beda agama? Saat duduk di bangku kuliah atau saat berada di dunia kerja, kita bebas berteman dengan siapa saja, termasuk dengan mereka yang berbeda agama. Lantas sekarang, mengapa tak boleh berteman dengan BTS?

Karena gag pernah bertemu? Ini pertemanan virtual, teman online.

Sekarang, untuk dia yang pernah aku cintai sangat dalam. Untuk dia yang sempat aku terima baik buruk kurang lebihnya, sudah tidak ada apa-apa dihati, hidup, dan fikiran. Bahkan aku berfikir 

"kok bibirnya hitam, kok rambutnya gag cocok, kok kulitnya jadi gelap, kok gag bersih, kok gag cakep seperti dulu."

Memang benar quotes yang berbunyi 'bukan tampan yang membuat cinta, tapi cintalah yang membuat seseorang terlihat tampan'.

Ternyata selama ini, aku memang mencintainya dengan tulus, bukan karena fisik atau wajah. Cintaku membuat ia terlihat tampan, cintaku membuat ia terlihat sempurna. Buktinya, setelah cinta itu tak ada, ia tak terlihat tampan, ia cacat. Detik ini, jangankan buruk dan kurangnya, baik dan lebihnya saja aku tak bisa terima.

________💜________

 "Kita berteman saja"

Ya, seperti inilah aku berteman. Cuek, bukan prioritas, respect hanya ketika ingin. 

Sedikit Quotes yang aku petik dari kutipan leader BTS

"Bahkan jika kamu tidak sempurna, kamu adalah edisi terbatas" -Kim Namjoon-

Bagaimana pun keadaan wajahku, meski bibir tak rata dan simetris. Aku adalah edisi terbatas, aku limitid edition, aku satu-satunya yang Allah ciptakan seperti ini. Aku langka, dan ini bukan kekurangan, tapi keunikan. Aku unik! Ini adalah wajah yang paling pas untuk ku, sebab Allah adalah sebaik-baiknya pencipta.


______To Be Continue 💜______

Jumat, 10 Maret 2023

Flash Fiction

 


"Kencan yuk, ke perpustakaan"

Lalu dia duduk dengan bukunya, aku pun asik dengan bacaanku. Satu jam setengah tanpa obrolan, dia berkata

"Sudah selesai?"

"Belum" jawabku.

"Pinjem aja, lanjut baca dirumah"

Setelah itu, kita berjalan menuju parkiran.

"Mw kencan kemana lagi?"

"Pantai?"

"Boleh"

Sesampai disana, dia bertanya tentang buku yg aku baca.

"Buku apa yg kau baca?"

"Buku fiqih wanita"

"Bukankah itu sudah kau khatam"

"Baca ulang, agar tambah mantap. Bukankah banyak juga para ulama yg suka membaca satu buku lebih dari sekali"

"Benar, di buku Gila Baca Ala Ulama aku pernah membaca itu. Bahkan ada quotes yg aku suka, membaca satu buku sebanyak tiga kali lebih bermanfaat dari pada membaca tiga buku dengan sekali baca"

Aku tersenyum, sambil berkata 

"aku suka"

"Aku tahu" timpalnya.

"Apa yg kau tahu?"

"Kau menyukaiku"

Dari senyum, menjadi tawa. Dia memang paling hebat, dalam hal membuatku bahagia.

"Tapi bukan itu, aku suka kau yg mampu mengingat isi dari buku yg kau baca, meski kau lakukan hanya sekali"

"Itu nilai lebihku sehingga membuat lisanmu tak berat berkata 'iya' saat aku mengajakmu menikah"

Aku merangkul lengannya, menyandarkan kepalaku dibahunya. Entah kapan senja akan datang.

_________________

Selasa, 03 Januari 2023

SENJA DI HUBBULWATHAN

Bertemu kembali tanpa sengaja, setelah melewati banyak senja di tempat yang berbeda. Banyak kata yang terjalin dipertemuan pertama, salah satunya cinta.

"apa kau sudah mempunyai seseorang yang kau cintai?"

"iya"

"seorang laki-laki?"

"tentu saja"

"siapa?"

"aku tidak bisa menjelaskan detailnya, mungkin hanya inisial namanya saja"

"boleh, tidak apa-apa"

"inisial M"

"Muhammad?"

Aku terdiam

"kenapa kau tidak ingin menikah dengan ku?" lanjutnya.

"sudah berapa kali aku katakan, aku tidak menemukanmu dalam istikharahku."

"tapi aku menemukanmu"

"sudahlah Joe"

"baiklah, aku tidak ingin membuatmu terbebani dipertemuan ini. Ada hal-hal lain yang ingin kau bicarakan dengan ku?"

"Joe, jika waktu bisa berputar ke masa lalu. Kau ingin kembali ke masa yang mana?"

"aku ingin berada pada masa dimana kau pertama kali mengenal cinta"

"aku tahu arah pembicaraanmu"

"jika waktu bisa berputar ke masa lalu, kau ingin kembali ke masa yang mana?"

ia mengajukan pertanyaan yang sama padaku

"aku memang tidak ingin berada di masa ini, tapi aku juga tidak ingin kembali ke masa lalu"

"lantas?"

"aku ingin, menjadi tidak pernah dilahirkan"


Aku dan Joe, dua yang hampir menjadi satu. Kita, cinta yang terjebak pada mimpi yang berbeda. Disini bukan cinta yang salah, hanya saja waktu yang terlalu tangguh memainkan perannya. Selepas bertemu tanpa sengaja dipelataran Hubbulwathan, untuk kedua kalinya, lagi-lagi kita dipertemukan saat senja sedang indah-indahnya. Sudah menjadi kebiasaan, kita suka menghiasi pertemuan dengan obrolan.

Katanya "jika kita tak bisa memberi kenang-kenangan berupa benda, setidaknya kita bisa membuat kenangan dengan kata."

Benar, menjalin kata dengannya adalah kenangan yang tak bisa dilupakan. 

Aku: Joe, aku ingin membangun sebuah rumah.

Joe: untuk apa, bukankah kau sudah mempunyai rumah?

Aku: iya, di dunia. Tapi sepertinya aku tak punya rumah di surga, aku sedih Joe.

Joe: lantas aku harus bagaimana?

Aku: bantu aku

Joe: apa yang bisa aku bantu?

Aku: aku seorang perempuan, aku tak mengerti tentang dunia pertukangan dan bangunan.

Joe: lalu, apa kau menganggap aku mengerti?

Aku: kau arsitek

Joe: astaga, aku hampir lupa.

Aku: kau bukan hampir lupa, tapi kau memang lupa.

Joe: karena perkataanmu membuatku terjebak didalam fikiranku sendiri.

Aku: fikiran tentang apa?

Joe: fikiran tentang bagaimana jika aku tidak mempunyai tempat di surga, bagaimana jika tak ada rumahku disana. Fikiran tentang, aku terlalu sibuk mendesain rumah untuk dunia, namun tak pernah terfikir mendesain sebuah rumah mewah di surga.