Senin, 16 Agustus 2021

KEMBALI

 




Zihan POV

"Assalamu'alaikum" sapaku lewat media sosial whatsapp

"Wa'alaikumsalam" balasnya singkat

"Sekali saja, bolehkah kita bertemu ?"

"Berdua ?" Ia balik bertanya

"Iya"

"Kau perempuan bercadar, apa kata orang jika melihatmu berduaan dengan laki-laki"

Selalu begitu jawabannya setiap ku ajak jalan berdua, dia laki-laki yang kucintai selama delapan tahun lamanya. Terjeda empat tahun, dan kembali menjalin komunikasi di minggu terakhir bulan desember.

"Tak ada yang tahu bahwa kita bukan kekasih halal"

Begitupun dengan diriku, selalu menyanggah seperti itu.

"Allah Maha Tahu"

Aku tidak bermaksud merendahkan diri, menghilangkan malu sebagai perempuan bercadar. Aku hanya ingin menuntaskan rasa, membaik lalu pergi bersama kenyataan yang ada. Ini bukan hal baik, tak pantas untuk diturut. Tapi aku benar-benar ingin tahu, melihat dan mendengar, apakah kita mempunyai kemungkinan untuk bersama. Ku desak ia, hingga tersampaikanlah kalimat.

"Baiklah, dimana ?"

"Di pantai yang sering kau kunjungi"

Hari berlalu, waktu bertemupun tiba. Seperti biasa, aku mengenakan pakaian hitam-hitam. Sekilas, aku nampak bak seperti perempuan sholehah. Tapi lihatlah, aku berkhalwat di indahnya alam. Ingkar terhadap ilmu yang di dapat !! Ku fikir aku akan tiba lebih awal, ternyata kendarannya lebih dulu terparkir disana.

"Asaalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam"

Ia tengah duduk seorang diri di salah satu peranginan, debaran dahsyat. Jantung begitu cepat memompa darah, membuatku merasa panas. Hati bersuara

"Hey, laki-laki yang kau cinta begitu lama. Laki-laki yang kau ingin, yang kau elu-elu dalam doa. Yang kau rundingkan dalam sidang-sidang agung di sepertiga malam, lihatlah sekarang dia ada disampingmu"

Aku tak langsung duduk di sebelahnya, begitu selesai ia jawab salam. Aku berkata

 

"Boleh kita duduk lebih dekat dengan pantai"

Ia mengikuti mau ku, bukan kali ini saja. Setiap hari dan dari dulu ia memang terlihat tampan, baju kemeja dan jam tangan warna hitam, serta celana levis membuat ku merasa seperti sepasang kekasih. Pakaian senada tanpa rencana, pemikiran bocah.  Cukup lama kita duduk berdua, belum ada yang membuka suara. Aku yang mempunyai hajat, memulai lebih dulu.

"Ada yang ingin kukatakan"

"Itu yan g ku tunggu dari tadi, katakanlah"

"Aku mencintaimu, apa bisa kita menikah ?"

"Maaf, ada seseorang yang ku tunggu. Aku sudah mengikat komitmen dengannya, akan menikah dua tahun lagi. Tidak ada kemungkinan untuk kita bersama, kau boleh pergi jika kau ingin. Aku tak memaksamu untuk tinggal meski hanya untuk berteman"

Patah

"Baiklah, aku pamit"

Andai saja ia setegas itu saat chating, mungkin aku tak akan serendah ini hanya untuk mencari sebuah kepastian. Berapa dosa yang di sengaja hari ini ?

Menangis, tentu. Aku bersepakat dengan hati, tak akan patah lagi. Rasa, hal yang tak bisa dikendalikan tanpa campur tangan sang Pencipta. Kembali, berjanjilah kau akan mengangkat derajat pakaian yang kau rendahkan.

Sesampai di rumah, aku menghapus air mata. Berkata kepada saudara,

"Tahun ini, Allah tak kirimkan ku jodoh lagi. Kau masih ingatkan, kemarin aku berkata apa ?"

"Iya, jika tahun ini kau tak menikah maka kau akan lanjut kuliah"

Aku pergi ke ibu kota, menata asa, membuang rasa, dan memulai sesuatu yang lebih bermakna selain dari cinta.

 

____Part 2___

Nandra POV

Mendapat pengakuan cinta dari seorang perempuan sudah menjadi hal biasa, ada yang ku terima ada pula yang ku tolak. Seperti halnya hari ini, aku menolak seorang gadis baik. Ia mencintaiku sejak kita duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, sebelum kelulusan ia juga pernah mengatakan perasaannya. Aku mengabaikannya, menolak untuk memberi jawaban. Tidak 'yes' tidak juga 'no', dia terlalu baik jika untuk di tolak. Tapi untuk mencintainya aku tak bisa, dari semua segi, kita tak memiliki kecocokan.

Aku sempat berkata padanya

 

"Bisa saja kita pacaran, hanya saja aku tak mau menyakitimu. Aku mudah bosan, aku tak ingin kita menjadi mantan. Tetap saja berteman seperti ini"

Hari ini, kubiarkan ia pergi. Membawa semua kebaikannya, mungkin suatu saat aku akan teringat akan kepeduliannya.

Dua puluh empat tahun, usia yang sudah lumayan matang untuk menjalin komitmen yang serius. Aku mengencani seorang gadis, kita sepakat untuk menikah dua tahun lagi selepas ia kuliah. Aku setuju !! Aku ikut serta mengambil banyak peran dalam proses kuliahnya, aku menemaninya mengerjakan tugas, mengantar dan menjemputnya. Tak jarang, aku juga membantunya dengan sedikit materi. Meski ia terlahir dari keluarga berada, perhatian dari seorang pacar pasti tetap ia butuhkan. Aku ingin menjadi kekasih yang baik dan peduli !!!

Dua tahun berlalu, ia menyandang strata satu keperawatan. Aku mengingatkan akan komitmen kita, jawaban tak terduga keluar dari bibir indahnya

"Ibu meminta ku untuk mengambil profesi di Jakarta"

"Tidak apa-apa, kuliah sambil menikah lebih bagus. Aku sempat membaca postingan tentang itu" jelas ku

"Ibu tidak ijinkan, bisa menunggu ku setahun lagi. Hanya sampai profesi, gag bangga nanti istrinya bergelar S.Kep., Ners"

Ia tersenyum, memelas dan menggandeng tangan ku. Aku mengiakan, setahun itu sebentar. Penantian dua tahun saja tak terasa. Hanya sebulan waktu bersama, lalu ia berangkat ke Jakarta

"Chat whatsapp, chat massanger, pesan singkat, telephon, video call, voice note"

Rasanya, aku ingin menyusulnya ke Jakarta. Meski laki-laki, tetap ada rindu di hati. Menitipkannya kepada sang Pencipta melalui doa-doa, semoga ia bahagia dan segera kembali untuk memulai hubungan yang abadi. Menunggunya membuat ku selalu di bully, laki-laki seusiaku sudah menikah dan bahkan sudah mempunyai beberapa orang anak.

"Menikah sama yang lain saja"

"Gag laku, sendiri belum menikah. Jomblo karatan"

"Jangan menjomblo sampai tutup usia."

Ejekan beberapa orang yang di sebut dengan teman, mereka menganggap bahwa menikah itu adalah perlombaan. LDR, Long Distance Relationship, entah mengapa itu membuatku semakin bijak. Aku ingin segera mengakhiri hubungan yang di sebut pacaran ini, tak baik dalam islam. Kami juga sekarang jarang menghubungi, ia selalu berkata

"Maaf sedang banyak tugas, kuliah saat S.Kep berbeda dengan Ners. Lebih banyak tugas, maklumi yaa ?"

Sebagai laki-laki, yang hanya mengecap bangku sekolah Menengah Atas aku hanya mengiakan. Tak tahu dan tak punya gambaran seperti apa bangku kuliah itu. Ego harus direndahkan,

 

"Iya gag apa-apa, fokus aja sama kuliahnya biar cepat selesai. Hanya bisa bantu dengan doa"

Ia balas hanya dengan emoticon smile.

Hari itupun tiba, hari dimana ia kembali dari ibukota. Tentu ia menghubungi ku, membertahu jam kedatangannya. Aku mencintainya, tapi aku harus bekerja, aku tak dapat ikut menyambut kepulangannya. Ia kata,

"Tak masalah, semangat bekerja"

Mungkin ini yang di sebut dengan 'dewasa', saat sikap pengertian mampu kita miliki dalam sebuah hubungan. Sepulang kerja aku menghubunginya,

"Besok libur kerja, mau pergi jalan-jalan ?"

Mungkin saja ia lelah, atau ingin meluangkan waktu lebih untuk keluarga. Sehingga aku tak serta merta langsung mengajaknya, mengajukan pertanyaan agar ia tak merasa sungkan.

"Boleh, serasa meninggalkan pulau tercinta berabad-abad lamanya. Ajak aku keliling, dari senggigi hingga ke puncak sana."

Sesuai rencana, aku menjemputnya di luar rumah. Ia tak pernah mempersilahkan ku masuk bertemu orang tuanya, entah bagaimana caranya meminta izin keluar. Aku selalu abai akan hal itu, tapi lama kelamaan membuat penasaran. Akan kutanyakan lain kali, hari ini biarkan menjadi hari yang indah untuk rindu yang akhirnya berujung dengan temu.

"Indah yaaa"

Katanya membentangkan tangan menghirup udara pagi yang masih segar

"Mau mampir ?" Tanyaku

"Nanti saja, di pantai perbatasan Lombok Barat dan KLU"

"Baiklah"

Ia kembali melingkarkan tangannya dipinggangku, menyandarkan kepalanya dipunggungku.

"Mungkinkah kita akan bersama ?"

"Kenapa bertanya seperti itu ?"

"Hanya ingin mendengar jawaban saja"

"Pasti mungkin" jawabku

Kami berkendaraan cukup pelan, benar-benar menikmati waktu sambil berjalan.

"Sebentar lagi pembukaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), pasti izin masih sulit"

"Tidak apa-apa, aku cukup bahagia kita berada di pulau yang sama. Jika memang begitu, semangat belajar"

Aku memegang tangannya yang melingkar dipinggangku

"Terimakasih, aku senang mendengarnya"

Hari yang indah, yang sama-sama kita tutup dengan senyuman.

Ternyata begini orang berpendidikan, tak berhenti belajar meski sudah menyandang gelar. Layaknya LDR, kita teramat jarang pergi keluar. Hanya sesekali, dan singkat.

"Tes CPNS saingannya ketat, harus benar-benar belajar jika ingin lulus. Meski memang, penentu segalanya adalah Sang Pencipta. Tapi ikhtiar juga harus seimbang dengan doa, bukan begitu ?" Tanyanya

Aku tersenyum mengiakan

"Bagaimana pekerjaannya ?"

"Alhamdulillah lancar, cukuplah untuk makan setelah nikah" jawabku

Ia pun tersenyum sambil menyesap ice lemon tea miliknya. Hari berlalu, tes demi tes ia lewatkan. Nomor Induk Pegawai (NIP) sudah ada di bawah namanya, beberapa bulan setelah itu ia memintaku untuk datang kerumahnya. Tapi sebelum itu, aku terlebih dahulu berkata kepada orang tua dan teman-teman yang hobi membully.

"Lihatlah, aku akan menikah sebentar lagi"

Menyombongkan diri, akan melepas masa lajang seperti bullyan mereka. Sesampai dirumahnya, ia menyambutku namun bukan dengan wajah ceria. Setelah mengucap salam, aku bertanya

"Kenapa ?"

"Masuk dulu" katanya

Disana ada ayah dan ibunya, setelah ngobrol lama ayahnya pamit dan tinggal ia dengan ibunya.

PENOLAKAN  !!

Mereka tak bisa menikahkan anaknya dengan ku, meski kalimatnya halus tapi tetap menusuk. Bagaimana tidak, harta, pendidikan, pekerjaan, semua orang tuanya rendahkan. Ia akan dijodohkan

"Lupakan, memperbaiki keturunan itu perlu. Tapi jika dia menikah dengan mu, itu bukan memperbaiki keturunan tapi merusak keturunan."

Orang kaya, berpendidikan, tapi seolah lupa pada Tuhan. Mungkin tidak semua, tapi pasti ada. Anehnya ia hanya diam, tak ada pembelaan. Aku pamit, tentu dengan hati yang teramat sangat pahit. Disaat membayangkan akhir yang manis dari sebuah penantian, memakan waktu, rindu dan rasa yang merongrong jiwa. Aku ingin menyelam ke dalam hatinya, mencari tahu ada apa disana. Malamnya kami bertemu

"Kenapa hanya diam saja"

Intonasi sudah tak selembut dulu

"Pada akhirnya aku tak bisa menentang keinginan orang tua, secinta apapun aku"

"Bulshit, ayo kita kawin lari. Bukankah begitu adat di pulau ini"

Ia terdiam

"Cinta, bisa membuat perasanya melakukan apa saja. Dan kau tak berani melakukan itu, berarti tak ada cinta disana"

Aku menunjuk dadanya tanpa menyentuh, lalu meninggalkannya sendiri.

Baru kemarin menyombongkan diri akan melepas masa lajang, sekarang telah dicampakkan. Malu, jelas. Aku bermalam di rumah teman, rasanya berat untuk pulang bertemu mereka-mereka. Hanya ibu yang kuhubungi,

"Bu, malam ini saya gag pulang. Akan bermalam dirumah teman"

Ibu tak terlalu risau karena aku laki-laki, berbeda dengan kakak perempuan yang di jaga sangat ketat sebelum menikah. Pantai, pelarian yang tepat. Bagiku, ia mampu menterapi jiwa dan membawa ketenangan.

Disana, diayunan tua pantai ini, ada dia yang sudah lama hilang. Sosok perempuan bercadar, dengan pakaian hitamnya dan lingkar sorban pemberianku dilehernya. Aku tak sedekat itu dengannya untuk menyapa lebih dulu, terus ku perhatikan dari kejauhan. Ia memasukkan sorbannya ke dalam tas punggung, berdiri lalu pergi. Aku tak tahu, bahwa aku parkir di samping kendarannya. Ia melihat ku,

"Ndra" sapanya

Aku berfikir ia akan acuh tak acuh atau pura-pura tidak saling mengenal, mengingat betapa dalam luka yang ku beri untuknya.

"Hay Zi"

"Sedang apa ?" Tanyanya

"Melepas penat" jawabku

"Masih pagi sudah penat" lanjutnya

"Penat yang kemarin-kemarin, Zihan ngapain disini ?" Tanyaku balik

"Menikmati keindahan tersembunyi dari pantai ini"

Aku merasa ia tersenyum dari balik cadarnya, meski matanya tak menyipit karena kelainan syaraf wajah yang ia derita. Hanya saja, aku merasa ia tengah tersenyum.

"Pantai ini tak memiliki keunikan, tak memiliki nilai lebih dibanding pantai-pantai lain yang sejajar dengannya"

"Dimana-mana pantai itu sama, tergantung dengan siapa kita menikmati waktu dan mengukir kenangan disana"

"Zi ?" Panggilku

"Iya Ndra, kenapa ?"

Belum sempat aku menjawab, ia melanjutkan kalimatnya.

"Tau Ndra, ini kali pertama aku mendengar namaku di panggil 'Zi'"

"Maaf"

"Gpp"

"Zi ?"

"Iya, kenapa ?"

"Boleh kita bertemu lagi besok pagi disini ?"

Ia terdiam.

Ternyata, aku butuh pelarian lebih dari sekedar pantai. Perasaannya yang baik, perasaannya yang tulus, selalu memberi celah untuk aku memanfaatkannya.

Kenapa ia sapa ?

Kenapa ramah ?

Kenapa ia kembali ?

Kenapa tidak pergi saja dan jangan saling tegur lagi ?

Pelabuhan rapuh

 

____Part 3___

Zihan POV

 

Selepas wisuda untuk pendidikan Magister Farmasi, aku kembali ke tempat kelahiran. Membawa serta kesuksesan yang ku rintis di ibukota, hadiah dari Sang Pencipta atas luka yang di redam banyak sabar. Aku sempat menceritakan kisah cinta ku kepada seorang teman, ia berkata

"Bisa saja kau main dukun, merusak hidupnya, mengganggu dia, bukan karena cinta mu di tolak, tapi karena rasa mu yang dimanfaatkan dengan kejamnya. Ia tak mencintaimu, namun bukan malah meninggalkan, melainkan memberi harapan dan angan-angan. Kau bisa menghukumnya atas dasar itu, kenapa diam saja ?"

Aku ingin merespon dengan banyak kalimat, bahkan kata-kata caci maki. Tapi hati sudah tidak bermain dengan rasa, ia malas. Aku hanya menanggapi

"Untuk apa mengharap cinta dari seorang laki-laki yang dihatinya sudah ada orang lain, obat terbaik dari sakit yang seperti ini adalah menjadi lebih dekat dengan sang Pencipta lalu pinta agar dunia bisa menjadi kendaraan menuju surga. Fokus pada hidup, dan sukseslah"

"Hebat ! Sabar tingkat tinggi. Memang, kadang patah hati bisa membuat seseorang lebih semangat menjalani hidup" ucapnya

Aku hanya terdiam, dan memutuskan untuk mengakhiri percakapan saat itu. Hingga hari ini aku masih teringat kata-katanya.

Sabar tingkat tinggi ?

Malu, saat ada seseorang mengatakanmu orang paling sabar padahal sejatinya diri hanya sedang 'bodo amat' untuk hal-hal yang tak bisa dikendalikan. Tentang rasa, tentang Nandra yang tak pernah bisa suka. Egoisnya lisan, saat berkata 'aku baik-baik saja' sedang hati tak lagi berwarna merah merona melainkan keungu-unguan. Memar, memendam manisnya dusta.

"Kita hanya teman, aku tak mencintainya lagi"

Selalu seperti itu, saat ada yang bertanya

"Ada hubungan dengan Nandra yaa ?"

Aku berdusta, agar mereka percaya bahwa sudah tak ada rasa untuknya. Hanya ditulisan ini dan di dalam doa aku berani berkata, meski bibir berucap 'tak ada rasa untuknya' tapi di tengah sakitnya hati, ia selalu menggaungkan

"Yaa Allah, meski lisan berkata sudah menerima tapi hamba tetap berharap Kau memberi kejutan dengan membuatnya berkata 'maukah kau menikah dengan ku'"

Aku masih menginginkannya, mungkin akan benar-benar lupa saat menyaksikan sendiri ia berada di pelamina. Kematian dan pernikahan, hanya itu yang bisa membuatku melupakan seseorang saat aku sudah jatuh cinta dengannya.

Kembali, aku disambut dengan senyum hangat keluarga, ayah, ibu, saudara, dan yang lainnya. Selesai pendidikan, langsung bekerja, itu adalah sebuah kebanggaan. Terlebih sekarang kau punya segalanya yang disebut dengan harta, meski tak banyak yang tahu kau kaya. Hari kedua setelah kembali dari ibukota, aku ijin pergi berlibur. Sebuah pantai yang akan mengingatkanku pada dua rasa, bahagia dan luka. Delapan tahun ingin menjalin kata dengannya, di pantai ini Allah kabulkan. Delapan tahun ingin bersama dengannya, di pantai ini pula Allah patahkan. Dua rasa dalam waktu yang sama.

Pantai ini masih seperti yang dulu, peranginannya, ayunannya, penjual-penjualnya. Secepat apapun waktu berlalu, ia tak akan pernah mampu menghilangkan sebuah kenangan. Aku rasa cukup untuk hari ini, esok lagi. Dan hari-hari selalu seperti itu, mengunjungi pantai ini adalah bagian dari rutinitasku. Menantang takdir, mungkinkah kita akan dipertemukan tanpa sengaja, tanpa rencana ?

Dan hari ini, saat fajar menyingsing tinggi. Aku dikejutkan oleh sosoknya

"Ndra" sapa ku

Sedang apa ia sepagi ini, apa ia sudah menikah ? Ini sudah lebih dari dua tahun komitmen yang ia kata ? Mungkìn ia tengah liburan dengan keluarga, mengingat hobinya berpiknik, membawa bekal dari rumah. Dia benar-benar laki-laki sederhana dan unik. Terlalu asik bermain dengan fikiran sendiri, aku tak sadar ternyata ia memanggil namaku. Dua belas tahun, dari bangku Sekolah Menengah Atas, ini kali pertama ia memanggilku. 'Zi, Zihan'

Tak ada diksi yang mampu kugunakan untuk mengungkapkan bahagia hari ini, ia semakin membuatku mematung saat berkata

"Boleh kita bertemu lagi besok pagi disini ?"

Aku mengiyakan, tapi setelahnya aku memberanikan diri untuk bertanya

"Sudah menikah Ndra ?"

Ia tersenyum

"Belum"

Terlihat pahit dan getir, entah kenapa hatiku merasa sedih melihat senyumannya yang seperti itu. Namun tak mungkin ku korek lebih dalam, ia tak terlalu suka dengan orang asing yang ingin mencampuri hidupnya. Aku buka siapa-siapanya, hanya mengangguk dan berkata

"Baiklah, sampai bertemu besok"

Aku meninggalkannya dengan rasa penasaran, ada apa dengan senyum getir itu ? Semoga besok menuai jawab. Ada bagian dari diri sorak sorai, mendengar ia belum menikah. Serasa seperti akan lebaran, tak sabar menunggu pagi tiba. Saat waktu subuh, aku menunaikan kewajiban serta mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Aku membuat bekal, omurice dan nugget ayam beserta saos-saosnya. Selalu ia tiba lebih awal, mungkin karena rumahnya terletak dua atau tiga kilometer dari sini.

"Assalamu'alaikum" sapaku

"Wa'alaikumsalam"

Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, aku benar-benar memperkenalkan diriku dengan tingkah laku yang baik. Semua serba pertama kali, pertama kali ia sebut namaku, pertama kali ia ajak aku menikmati pantai, pertama kali memberi waktu untuk berdua.

"Sudah sarapan ?" Tanyaku

"Sudah" jawabnya

Selalu seperti itu, singkat. Aku bisa melihat kecanggungannya, ia nampak tak terbiasa denganku. Aku berusaha membuat suasana menjadi biasa-biasa saja, basic ku sebagai orang pelayanan benar-benar kumanfaatkan.

"Hmmm, aku membuat omurice sama nugget ayam. Cobalah ?"

Lalu aku membuka dan menyodorkan padanya

"Bagaimana ?"

"Enak, buat sendiri ?"

Kalian tahu, rasanya bahagia banget.

"Buat sendiri, hanya saja nugget ayamnya di buat oleh ibu dan aku yang goreng tadi subuh"

Entah ia rasa atau tidak, yang jelas aku tersenyum dari balik cadar. Tak ada respon darinya, diam sambil terus makan.

"Mau minum apa, kopi, teh, es, atau air putih ?"

"Air putih saja"

Semua bekal yang ku bawa ia habiskan, lalu suasana kembali menjadi kaku. Aku memahami dirinya, tahu betul akan menjadi kaku jika bertemu. Karena rasa paham ini, aku merendahkan ego dan selalu berusaha mencairkan suasana.

"Ndra, bisa bantu foto diayunan ?"         

"Ayo"

Setelah mengambil spot diayunan, lalu aku bermain air. Basah tentunya, tapi tak masalah. Owch yaa, ayunan itu mempunyai dua ruang. Aku tak pernah menyangka ia akan melakukan hal itu, ia berkata kepada salah seorang pengunjung yang lewat

"Bisa minta tolong, foto kami di sini"

Kami duduk sejajar di ayunan

"Terimakasih"

Katanya kepada orang yang memotret kami

"Kirim foto-foto itu nanti"

Tidak hanya kata-kata, ia juga bisa membuat suasana biasa menjadi terasa manis. Entah itu karena dirinya, atau karena cinta yang ada di dada.


----To Be Continue---

Jumat, 13 Agustus 2021

HAMPIR KESITU - MENDUA



 Hampir kesitu


--------------

Tentang seseorang yang mempunyai harapan besar untuk mengejar mimpinya, tapi kemudian ia tak yakin akan bisa memiliki mimpi itu. Ia tak yakin, akan bisa mewujudkan mimpinya.


Sementara, Langkah yang ia tempuh untuk mewujudkan mimpi itu sudah sangat jauh. Ia ingin menyerah, namun sahabatnya berkata “tetap kejar mimpimu, bagaimanapun nanti setidaknya kau sudah mencoba”


Tak hanya itu, temannya juga berkata “jika ada halangan dalam perjalananmu meraih mimpi, jangan putus asa. Aku ada disini, menemanimu. Saat kau Lelah, genggam tanganku. Sedikit lagi, aku yakin kau mampu”


Seseorang itu benar-benar merasa tak mempunyai ketabahan dan ketegaran lagi dalam meraih mimpinya, namun berhenti di tengah jalan juga bukan pilihan yang baik. Ia hanya bisa mengingat perkataan temannya, bahwa ia mampu. Itu yang membuatnya percaya, untuk terus melangkah dan berjuang.


Cibiran orang, salah satu alasan yang meredupkan semangatnya dalam meraih mimpi. Ia bercerita kepada temannya, mengeluarkan keluh kesahnya. Dan temannya menanggapi


“hey, bukan mereka yang menentukan bagaimana akhir dari perjalananmu. Kau tak perlu mendengarkan mereka, kau ada aku dan aku punya kamu, apapun yang terjadi aku akan tetap bersama denganmu. Tapi perlu kau tahu, kau sudah hampir kesitu, kau sudah hampir ke mimpi mu. Semangat”


-----------------


Joe 


"apa kau butuh teman untuk berjuang ? apa kau butuh teman hidup ? apa kau butuh orang yang bisa memotivasimu ? seseorang yang mampu membuatmu tetap bertahan pada jalan dimana kau sudah tak mampu untuk melangkah lagi ? apa kau butuh ?"


Aku


"iya"


Joe


"jadikan aku seperti apa yang kau butuh, kau ada aku dan aku punya kamu"


--------------


#Flash_Story