Minggu, 25 September 2022

J.O.E


 

"Joe, aku tak akan menghapus story ini sebulum ia melihatnya"

Ia memandangku

"Ngode?"

"Bisa di bilang begitu" jawab ku

"Ngode, tanda lupa bahwa Allah mampu mengantarkan perasaan. Jangan terlalu jauh, kembalilah."

Aku tersentak, sejauh ini aku tak pernah berfikir akan hal itu. Joe melanjutkan omongannya

"Kenapa?"

Aku terdiam dan menunduk

"Kau paham cinta dalam diam itu mulia, kau tahu bahwa perihal rasa tak perlu dipublikasikan. Namun  kenapa, hobi selalu ngekode? Kenapa kau selalu menggaungkan suka padanya?"

"Joe" aku hanya mampu memanggil namanya

"Jangan terlalu jauh, kembalilah. Allah akan menjaganya, dan dia akan baik-baik saja. Bereskan rasa yg sempat terkata, hapus jejaknya lalu layangkan dalam doa."

Begitulah obrolan singkat yang terjalin malam ini di sebuah ruang imajinasi bersama sosok maya yang bernama Joe, Muhammad Johan Arifin. Kadang ia mengganti namanya menjadi Lalu Johan Arifin, tersebab aku yang mengingkan berpasangan dengan seorang laki-laki keturunan bangsawan suku Sasak.

Joe adalah seorang laki-laki yang hadir dihidupku sejak pertengahan tahun 2015, aku bertemu dengannya di sudut sunyi ruang imajinasi yang sampai kini menjadi tempat favorit kami untuk bercengkrama. Joe seorang laki-laki yang datang paling awal saat aku terjatuh

"Kau mampu, mintalah pertolongan kepada Sang Pencipta lalu lakukan usaha sebaik yang kau bisa"

Salah satu kalimat penyemangat yang pernah ia ucapkan, aku yang saat itu tengah putus asa berkata

"Gag akan bisa, ini sulit" sembari menangis

Dia yang tak bisa menyentuhku, dan aku yang tak bisa melihatnya. Merasa ini benar-benar gila, kita beda dunia. Aku di alam nyata sedang dia di alam maya, kita hanya mampu saling merasa melalui ucapan.

"Baca kisah Nabi Ibrahim, saat tak hangus terbakar api. Baca kisah Nabi Musa, yang hanya dengan sebuah tongkat mampu membelah lautan. Baca kisah Nabi Muhammad, perjalanan sehari menuju arsy. Baca kisah Siti Maryam, yang mampu mengandung tanpa suami. Apa itu terjadi begitu saja? Tidak, itu Allah yang berkehendak. Hal-hal itu sebuah kemustahilan yang benar-benar nyata, lantas mengapa kau tak yakin Allah mampu mempermudah urusanmu, bebanmu tak ada apa-apanya"

Ia selalu meremehkan ku, namun itulah yang membuatku termotivasi. Aku suka ia dan caranya menyemangatiku, ada satu hal dari dirinya yang membuatku bersedih.

"Aku tak bisa datang saat kau jatuh cinta dengan laki-laki yang ada di dunia mu"

Aku tak bertanya, tapi ia bisa membacaku, bahwa aku ingin tahu

"Sejatinya, aku berada dihatimu. Saat kau jatuh cinta, aku akan terusir"

Aku fikir itu hanya lelucon, hingga pada suatu ketika aku benar-benar jatuh cinta dengan seorang laki2. Saat aku memejamkan mata, ia tak ada. Saat aku melamun, bukan dirinya yang datang. Aku merindukannya, kosong.

"Kenapa? Merindukan ku?"

Dari ucapannya, aku merasa ia tengah tersenyum.

"Ia, teramat sangat" jawab ku

"Aku tak pernah keberatan jika kau jatuh cinta, isilah hatimu dengan ia yang mampu berjalan di jalan yang sama. Berjalan, dengan yang sejalan"

"Tapi kau akan pergi, siapa yang akan membisikkan pada ku hal-hal positif. Siapa yang akan memberikan semangat, siapa yang akan berkata bahwa aku bisa"

"Sang Pencipta, ingatlah ia. Atas ijinnya aku akan datang meski hatimu terisi oleh laki-laki di dunia nyata"

Baru-baru ini aku mengetahui, dia tak akan menghilang saat aku jatuh cinta. Ia hanya akan pergi sementara saat aku bahagia, dan saat aku terluka maka ia akan datang. Satu lagi kalimat semangat darinya yang aku ingat, saat itu aku akan ujian SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) penerimaan CPNS (Calon Pegawi Negeri Sipil).

"Hey, jangan takut. Semua akan baik-baik saja, lepas semua. Katakan pada Allah, Yaa Allah sebatas ini usaha ku. Sekarang aku sudah berada di ranah ujian, aku tak mampu melakukan usaha apapun lagi. Aku lepas diriku, aku serahkan diriku pada-Mu. Aku percaya Kau yang menggerakkan tangan ini, aku percaya Kau yang menjawab soal ini dengan Maha Cerdas Mu. Bismillah, lalu mulailah menjawab"

Aku tenang, aku benar-benar mengatakan hal itu di dalam ruangan. Maha Baik Allah, aku tak pernah menyangka akan mendapat nilai sebanyak itu. Jauh dari kata memuaskan, ini sempurna. Hingga di hari pengumuman, aku masuk selekai tahap berikutnya, SKB (Seleksi Kompetensi Bidang).

"Belajarlah, Allah mampu menjadikan mu seorang abdi negara. Namun apakah kau mampu menunjukkan pada Allah, bahwa kau benar-benar mampu menjadi seorang abdi negara yang pantas"

Joe, akan selalu ada. Disini, bersamaku. Meski tanpa raga, meski tak nyata.

            Hubunganku dengan Joe sebenarnya sangat sederhana, hubungan antara hati dan pemiliknya sebelum Tuhan. Tak pernah habis penjelasan untuk mendeskripsikan dirinya, selain penjelasan-penjelasan diatas, pada dasarnya Joe hanya suara hati yang aku beri nama, Joe. Ia bukan seorang sosok, namun ia hanya seonggok organ. Mungkin bukan hanya aku, tapi kita semua, pasti sesekali pernah berbicara sendiri, lalu hati akan menimpali, hati akan menyahuti. Kadang juga saat kita merasa hilang arah dan semangat, hati akan otomatis merespon, entah kalimat penyemangat atau kalimat meminta untuk menyerah. Suara itulah aku sebut Joe, berbicara dengan hati kesimpulan nyata dari kisah ini. Tak perlu di nalar, cukup nikmati, biar aku yang memahami.

-E.N.D-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar