Pic by: https://id.pinterest.com/sriyulia187/sunnah-couple/
Aku adalah seorang laki-laki yang di
cap nakal oleh orang tua, kuliah keluar negeri menghabiskan biaya banyak namun
hanya untuk berleha-leha. Dua tahun aku di negeri paman syam membuat ku bosan
dengan wanita-wanita yang ada disini, liar dengan pergaulan bebasnya. Aku
mencapai titik jenuh, rasanya ingin kembali ke pulau seribu masjid.
Facebook, sebuah media sosial yang
ketenarannya tak pernah lekang oleh zaman. Beribu aplikasi baru muncul, namun
ia tetap eksis dengan fitur-fitur yang ditawarkan. Aku coba menjelajah dunia
dengan facebook, akun yang sudah lama kutingglkan. Scrool atas ke bawah, lalu
refresh ke atas lagi, turun ke bawah namun tak ada hal yang menarik. Aku masuk
grup SMA, dan disana ku temukan sebuah hal yang seru. Si jenius yang sering di
sanjung dulu, kini di bully oleh teman-teman sekolah.
“itu jenggot apa tumpukan jerami,
kok menggunung begitu?”
“kuliah di jawa hanya untuk
mempelajari aliran sesat, yang benar saja”
“Indonesa Tanpa Pacaran, heol”
Ada masih banyak lagi
kalimat-kalimat yang semakin ku baca semakin hinaan jelas terasa. Ada apa
dengan si jenius? aku mulai ingin tahu, ku coba obrak abrik time linenya. Dan
jeng jeng, dari atas hingga bawah, hingga ke bawah lagi full dengan dakwah.
Dakwah yang tidak membolehkan music, yang tidak membolehkan pacaran, yang
mengharuskan perempuan menutup aurat, yang membahas tentang riba, tentang
pernikahan sesuai agama dan masih banyak lagi. Di kelompoknya, si jenius
tetaplah bintang. Postinganya di sukai lebih dari ratusan dan bahkan di share
oleh puluhan orang. Aku mulai membuka dengan siapa-siapa ia berteman, nama-nama
mereka terlihat lucu.
“akhwat
muslimah”
“calon
jenazah”
“la
tahzan”
“kata
akhwat”
“ukhty”
“akhy”
Aku tambahkan sebagai teman
orang-orang yang namanya lucu menurutku. Si jenius dengan teman-temannya sama
saja, postingannya seputar dakwah. Hingga muncul postingan seorang perempuan, bukan
tentang dakwah melainkan tentang keluh kesah. Tak ada biodata apaun di akunnya,
tak ada tahun lahir, tak ada nama dan alamat, tak ada foto dan sejenisnya.
Memang terkadang, perempuan-perempuan yang berasal dari pulau seribu masjid
paling tahu bagamana cara membuat laki-laki penasran. Aku pasti akan
mendapatkan mu, ikrar ku hari itu.
“dia
yang ku suka telah mendua” –kata akhwat-
“Dia patah hati, mungkin aku bisa
datang sebagai lem untuk mengutuhkan hatinya. Menyambung bagian-bagiannya yang
telah retak,” fikir ku.
Lalu, aku menulis di kolom komentar
“jiak ia mendua, kau hanya perlu
mendua pula. Tak perlu berduka”
“iya
betul” jawabnya singkat jelas dan padat
Aku ingin menjalin kata panjang
lebar dengannya, tapi kata apa yang akan ku jalin jika ia hanya menjawab
sesingkat itu. Ku coba sapa ia lewat menu inbox, ia hanya menjawab salam lalu
pergi. Terus ku sapa ia, ku beri perhatian lebih, lama-lama ternyata luluh
juga.
“kata
akhwat, aku rasa itu bukan nama mu. Siapa nama asli mu?” Tanya ku
“Yesi
Sulistiani, nama ku Yesi. Aku kelahiran 1996, tinggal di provinsi Nusa tenggara
Barat. lulusan Ahli Madya Farmasi, memilih tidak bekerja dan hanya menjaga
warung karena aku kesulitan bekerja sama dalam tim. Aku pernah bekerja di
sebuah apotek, aku di terima sebagai seorang fakturis. Namun yang ku kerjakan
banyak hal, sebenarnya itu tak masalah jika perintah bos, tapi yang membuat
pekerjaan ku banyak yakni tuntutan rekan kerja yang tak mampu berdiri di atas
kakinya sendiri. Hingga pada titik jenuh, aku memutuskan untuk mengundurkan
diri. Kini ijazah ku hanya sebagai penghias almari, foto wisuda ku hanya
sebagai pemanis untuk dinding rumah tua ku.”
Pacaran? kami tidak pacaran, karena
katanya pacaran mendekati zina. Yaa, ku akui memang. Meski pacaran tidak
berakhir zina, tapi hampir semua zina berawal dari pacaran. Dalam hati aku
berkata, “okey, kita ikuti saja alur main gadis ini”. Sesungguhnya bukan
pacarannya yang di larang, tapi aktivitas dalam pacaran itu. Jadi, meski kau
tak pacaran, namun yang kau kerjakan adalah aktivitas-aktivitas pacaran maka
jatuhnya sama, zina, entah zina mata, zina hati, zina tangan dan lain
sebagainya.
Aku
dan Yesi tak pernah bertemu, kami hanya saling mengenal melalui dunia maya. Aku
bahkan tak pernah melihat wajahnya,
“aku
perempuan bercadar, menampakkan diri di dunia maya tandanya perempuan yang
kehilangan malu. Meski sudah tertutup, namun kita tak tahu seperti apa manusia
memandang. Terutama mata laki-laki yang di hatinya mempunyai penyakit”
Aku menawarkan diri untuk
mengiriminya foto, namun ia berkata
“tidak,
bukan hanya laki-laki yang harus menjaga pandangannya tapi juga perempuan.
Simpan saja foto itu, dan semisal kita berjodoh maka tunjukkan foto sebanyak-banyaknya
maka saat itu aku pasti akan merasa bahagia, melihat gaya-gaya konyol dan keren
seorang laki-laki yang akan menuntun langkah ku menuju surgaNya”
Kalimat memukau yang pernah ku
dengar dari seorang perempuan, apakah ia tidak penasaran dengan wajah ku
seperti aku yang penasaran dengan parasnya? entah lah….
Tesis?
menjadi penambah jarak antar aku dengan Yesi, kami mulai tak saling
menghubungi. Bukan karena ia tak mau, tapi karena aku yang tak ada waktu. Aku
ingin segera kembali, ke pulau seribu masjid itu dan melanjutkan menjalankan
tugas yang di embankan Negara padaku. Sedikit tentang diri ku, aku adalah
seorang Pegawai Negeri Sipil yang diangkat oleh Negara sebagai dokter spesialis
anak di sebuah rumah sakit di Indonesia. Seorang dokter muda yang melanjutkan
pendidikannya di luar negeri untuk memperoleh mutu ilmu yang lebih menjamin
meski pada dasarnya sama saja. Bulan demi bulan berlalu, aku sudah
menyelesaikan strata dua dengan predikat memuaskan. Aku juga bahkan sudah
kembali ke tanah air beberapa bulan yang lalu, sudah mulai bekerja dengan
normal. Namun sekarang aku tengah mengajukan usul pindah tugas dinas, meminta
untuk ditempatkan di pulau kelahiran ku, pulau seribu masjid. Tiga bulan
berbuah manis, usulan ku di terima.
“welcome
one thousen mosque island”
Dua tahun bukanlah waktu yang
singkat untuk menghilangkan bahasa dunia yang biasa ku gunakan semasa menempuh
pendidikan strata dua di Amerika. Keluarga, termasuk orang tua sudah sangat
antusias menyembut kedatangan putra keduanya. Tak perlu ku ceritakan seperti
apa sambutan hangat mereka, karena ini adalah amazing moment yang tak kan
pernah mampu terlukiskan meski dengan gambar ataupun kata-kata.
Orientasi
tempat kerja baru, tak terlalu buruk. Aku teramat sangat pandai menyesuaikan
diri, supel, banyak kerabat dan sahabat. Catatan kecil semasa kuliah, ada
sebuah alamat tercatat disana. Alamat siapa? aku lupa. Bingung mulai menyapa,
sudah satu tahun selepas kuliah catatan itu tak pernah ku buka. Teman SD, SMP,
SMA semua sudah ku hubungi, lalu ini siapa? hingga ku balik catatan itu
muncullah sebuah nama, Yesi Sulistiani. Entah mengapa ada rasa bahagia yang
menyeruak di dada, alamat rumahnya tak terlalu jauh dari tempat tugas yang
baru.
“akan
ku cari besok” niat hati
Pagi pun menyapa, dengan senyum
jahat sang fajar yang mengikis habis bulir-bulir embun di dedaunan. Aku
berangkat kerja dengan motor kesayangan, bergaya khas anak muda. Bukan gaya
resmi sang dokter ataupun pegawai Negara, namun bukan berarti pula aku tak taat
aturan, ku ganti seragam sesampai disana. Hari senin, ia, sekarang adalah hari
senin. Hari dimana waktu terasa sangat panjang, begitulah kata kebanyakan
orang. Dan benar, sekarang ku rasakan.
Waktu
tak kan berhenti, secepat atau selama apapun rasanya. Ia akan tetap berputar,
menghantarkan hati pada niatan-niatan yang ingin di capai. Seperti niat
kemarin, aku ingin menjumpai Yesi si gadis dunai maya yang ku kenal satu tahun
yang lalu. Ini pertama kalinya dalam sejarah hidup aku mencari seorang wanita,
bahkan wanita yang tak pernah ku kenal ataupun ku lihat sebelumnya. Ini gila.
google map, tentu aplikasi ini
sangat membantu. Sesuai dengan alamat, sampailah aku di sebuah kios di
pertengahan rumah-rumah bersubsidi di kawasan Labuapi. Karena semangat yang
menggebu, aku hingga lupa memeberi jatah makan perut siang ini. Ada warung nasi
disamping kios itu, istirahat sejenak disana. Terdengar suara lantunan ayat
suci yang di bacakan oleh seorang perempuan, saat aku bertanya kepada penjaga
warung ia berkata
“ooh
itu suara lantunan ayat suci yang dibaca oleh pemilik kios sebelah”
Sembari menyuap nasi, lantunan ayat
sucinya lumayan aku suka. Stop!! kenapa suara lantunanya hilang, ku tengok
sejenak. Ternyata ada orang berbelanja,
“begitu
sistem kerjanya” ujar ku dalam hati
Makanan pun habis aku lahap, aku
pura-pura berbelanja.
Aku :
assalamu’alaikum
Dia
:wa’alaikumsalam, beli apa mas?
Aku :
rokok
Dia
: maaf mas, disini kita tidak
menjual rokok.
Aku :
kenpa? (Tanya ku bingung)
Dia
: dalam islam rokok itu tidak
diperbolehkan, memang tidak ada dalil nyatanya. Namun Al Qur’an mengatakan
dengan tegas kita di larang menyakiti atau menzolimi diri sendiri, dan
mengkonsumsi rokok salah satu tindakan penganiayaan terhadap diri sendiri.
Aku terdiam, memang betul dalam
dunia medis rokok itu tidaklah baik. Ternyata agama pun tak membolehkan,
sungguh islam luar biasa. Jauh sebelum adanya ilmu medis, islam sudah
menyatakannya lebih dulu.
Aku :
jika begitu, beri aku satu gelas pop ice.
Dengan cekatan ia pun mulai
memblander es batu yang sudah bercampur dengan serbuk pop ice.
Aku :
siapa namanya (Ada keraguan dalam hati, ini Yesi atau bukan)
Dia
: Yesi
“good job” teriak hati, ternyata
seperti ini paras perempuan yang pernah menemani ku chating meski dalam waktu
yang sangat singkat. Aku tak memberi tahunya siapa diri ku, biar aku saja yang
mengenalnya.
Aku :
kenapa mengaji tadi?
Dia
: karena tak ada yang ku kerjakan?
Aku :
bisa main HP, bisa juga menonton drama korea yang digilai oleh para remaja.
Bisa juga chating dan sejenisnya.
Aku merasa kita dekat, karena aku
tahu siapa dirinya. Tapi entah seperti apa ia menilai obrolan ini,
Dia
: aku main HP, namun hanya untuk
beberapa saat saja. Untuk drama korea? aku sudah bukan remaja lagi, aku adalah
gadis dewasa yang sudah siap menikah namun Allah belum menurunkan jodoh. Untuk
saat ini, aku hanya ingin mati dengan tenang. Dan itu yang sedang aku lakukan,
membuat persiapan-persiapan. Juga, seorang perempuan itu mengalami masa
menstruasi setiap bulan. Saat masa menstruasi itu, aku tak akan bisa membaca Al
Qur’an. Maka sekarang aku puaskan diriku membacanya, meski ada murotal-murotal
dari qori’ qoriah terkenal namun beda rasanya dengan melantunkan sendiri.
Bukan hanya di dunia maya, tapi
kalimat-kalimatnya di dunia nyata pun mampu membuat ku terpaku, terdiam dan
merenung.
Aku :
apa kau selalu seperti ini terhadap pembeli?
Dia
: tentu saja tidak, rasanya kita
pernah ngobrol dalam jangka waktu yang lama. Seperti déjà vu
Aku membayar barang-barang yang ku
beli dan berkata
“suatu
saat aku akan kembali kesini” lalu pamit dengan salam.
Aku
malu sebagai seorang laki-laki yang akan menjadi pemimpin namun tak mempunyai
bekal apa-apa yang bisa aku gunkaan untuk membawa orang-orang yang akan aku
pimpin ke jalan yang benar. Setelah bertemu dengan Yesi, aku mulai memperbaiki
diri. Sedikit demi sedikit mulai mencari tahu tentang agama yang hanya aku
anggap sebagai agama keturunan, aku ingat bahwa aku mempunyai teman yang
lumayan mengerti agama. Si jenius Senja Pratama, bersamanyalah aku mencari tahu
tentang islam. Aku tahu sekarang bagaimana rasanya berdiri di atas sunnah, di
atas murninya ajaran Rasulullah. Celana cingkrang, kau dianggap kebanjiran.
Jenggotan, dianggap tumpukan jerami. Jidat hitam, dikatakan sujud tidak benar.
Tidak pacaran, tidak mendengarkan music, tidak merokok, dianggap fanatic dalam
beragama. Tidak maulidan, tidak tahlilan, tidak talkinan di anggap wahabi. Aku
menjadi bingung, manusia akhir zaman macam apa yang kiamat sudah dekat namun
kelakuan masih bejat. Jika terlalu sulit
menerima kebenaran, maka cukup diam jangan mendebat apa lagi menghujat. Kini,
aku merasa menjadi laki-laki seutuhnya. Satu tahun, mungkin waktu yang mustahil
untuk menghafal kitab suci Al-Qur’an. Namun ingatlah Allah maha kuasa, Ia
menghendaki segala sesuatu mampu terjadi kepada hambaNya. Tepat di bulan ke dua
belas, aku hatam Al Qur’an beserta terjemahannya. Sekarang, aku adalah seorang
dokter muda dengan hafalannya, dengan celana cingkrangnya, dengan jenggotnya,
tanpa asap, tanpa music dan tanpa pacaran. Jidat hitam? aku tidak dengan jidat
hitam, entah mengapa mungkin. Namun biarkan saja, selama tidak berselisih
dengan agama maka tak mengapa. Ibadah, biar Allah yang tahu.
Orang
tua dan keluarga bahagia dengan diri ku yang seperti ini
“mulailah untuk belajar mewarnai
hidup” pesan mereka
Ia, aku mewarnai hidup dengan agama.
Warna hidup yang tak akan ku dapat hanya dengan berleha-leha. Dua puluh delapan
tahun, sudah lewat seperempat abad usia ku. Yesi, ia adalah misi terakhir dalam
perjalanan hijrah ini. Aku membuka social media yang pernah menjadi perantara
antara aku dan dia, ku coba memulai percakapan lagi dengan bismillah, karena
ketahuilah entah chating atau apapun itu jika bentuknya berupa bahasa tulisan
dimulai dengan bismillah bukan salam merajuk kepada teladan nabi Sulaiman.
Aku :
bismillah, masih ingat
Dia
: Alhamdulillah (jawabnya
singkat dan secepat kilat)
Aku :
lagi haid?
Dia
: dari mana tahu
Aku :
kau yang berkata waktu itu (balas ku dengan senyum, ternyata ia bias penasaran
juga)
Dia
: kapan?
Ku ceritakan ia, mungkin ia terkejut
dan bingung. Cukup lama aku menunggu respon darinya,
Dia
: maasya Allah
Memang dia tak akan membuat obrolan
menjadi luas, sehingga jawabannya selalu singkat padat dan jelas, bukan panjang
x lebar x tinggi yang akan menjadi luas kesana sini.
Aku :
kelahiran 96, berarti sekarang umurnya 23. Boleh kakak panggil adek?
Jika memang obrolan tidak bias
menjadi luas, maka akan ku lunakkan ia.
Aku :
kapan keluarga ada di rumah, kakak berniat menjadikan hubungan ukhuwah ini
menjadi hubungan silatturahmi.
Dia
: hari ahad terakhir di bulan ini
Aku :
in syaa Allah kakak bersama keluarga akan menunaikan hajat untuk kesana
Dan obrolan terputus sampai disana,
aku merasa sudah cukup mengenalnya. Cukup aku tahu ia suka membaca Al Qur’an,
karena tak ada hati jahat yang akan suka membaca kalam Ilahi.
Hari
itu tiba, keluarganya menyambut kedatangan ku dengan hangat. rumahnya memang
tua namun terlihat elegan, karena di apit oleh sawah-sawah yang masih produktif.
Ayah menyampaikan maksud kedatangan kami, ayahnya pun mengerti dan menyuruhnya
keluar. Ia bercadar, lalu membuka cadarnya dan menunduk.
“adek
tak cantik” kalimat pertama yang keluar
dari bibirnya
Dia tidak sumbing, namun saraf
bibirnya lebih ke kanan.
“kenapa
harus mempermasalahkan fisik ?” kata ku
“saat
adek tertidur, sebelah mata adek tak bisa menutup dengan sempurna. Kakak
mungkin saja akan jijik dan tak akan bergairah, adek tidaklah cantik sehingga
kakak tidak akan bisa memamerkan istri kakak kepada teman-teman elit yang kakak
punya”
Kini bukan hanya dia saja yang
menangis, namun sang ibu yang sedari tadi menggenggam tangannya pun ikut menangis. Di wajah senja sang ayah pun
terlihat gurat kesedihan, namun ia harus terlihat kuat karena ia adalah
laki-laki dan penyemangat untuk sang putri.
“hey,
dimana ilmu, iman dan islam yang adek punya. Kenapa berfikir seperti itu, jika
menikah hanya karena sex maka untuk apa kakak menikah, kakak hanya tinggal
pergi ke Negara-negara yang menganut sex bebas maka tuntas sudah kebutuhan
kakak. Tapi ini tentang ibadah dek, tentang bagaiamana menggapai jannahnya
Allah. Kemudian juga, untuk apa kakak memamerkan istri kakak kepada orang lain
termasuk laki-laki. Adek pasti tahu apa itu dayuts, seorang suami yang tidak
mempunyai rasa cemburu saat istrinya mengumbar aurat. Kakak tidak ingin tidak
mencium wangi surga dek, maka pertahankan penutup wajah ini. Kenapa harus
memperdulikan wajah jelek, karena tak akan ada yang melihat. Kakak tak akan
malu meski harus mengajak adek ke pertemuan teman-teman elit yang kakak punya,
semakin orang melihat adek jelek maka kakak akan semakin bahagia. Tak ada orang
yang akan berusaha merebut adek, bukan begitu?”
“kak,
adek pernah berjanji. Jika ada yang bisa menerima adek apa adanya, adek
berjanji akan meletakkan dunia adek di bawah telapak kakinya. Kak, bimbing adek
agar mampu menjadi istri sholehah”
Dimulai dari keluarga ku yang
kemudian di susul oleh keluarganya, serentak mengucapkan syukur alhamdulillah.
Lamaran di terima !!!
“nak,
tengadahkan wajah ini” kata ummi
Sembab, wajah yang ia katakan jelek
namun entah mengapa sangat cantik terlihat di mata ku.
“semoga
ketika kita menikah nanti, kau bisa melihat dirimu dengan mata ku”
Sebait harap untuknya.
“langsung saja tentukan mahar?” celetuk
Jihan dengan ceria
Aku menjadi ingat perkataannya
sebelum berangkat meminang
“yey
akan ada keluarga baru, akan ada kakak ipar baru”
Jihan duduk di bangku kuliah tingkat
satu, ia memang manja karena anak yang paling kecil.
“iya
betul” kata kakak ipar
Akhirnya aku bertanya “adek ingin
bermaharkan apa”
“tujuh
set gamis”
“apa
lagi dek”
“itu
saja”
Aku ingin tahu alasannya, tapi nanti
saja. Ada banyak hal yang masih harus dibicarakan
“dek,
seperti apa pernikahan impiannya?”
“adek
ingin pernikahan yang sederhana saja, kakak tak perlu menyewa tata rias karena
adek yang akan merias diri adek untuk kakak. Adek gag mau gaun sewaan, belikan
semampu kakak. Jika memungkinkan, gamis, jilbab dan cadar warna hijau. Gaun
pengantin adek, hanya milik adek dan tak akan digunakan oleh orang lain. Mahar,
cukup tujuh set gamis adek tidak ingin bermaharkan hafalan Al qur’an. Hakikat
mahar harus berupa benda, hafalan Al qur’an hanya jika laki-laki itu tak
mempunyai apa-apa. Saat hari pernikahan kita, maka itu juga akan menjadi hari
resepsi. Tamu pada pernikahan kita terpisah laki-laki dengan perempuan,
begitupun dengan pengantinnya. Tidak memakai kursi, melainkan duduk di lantai
beralaskan karpet atau hambal. Memiliki susunan acara, satu pembukaan, dua akad
nikah, tiga nasihat pernikahan dan ceramah singkat, empat doa dan lima penutup.
Pernikahan semacam pengajian umum kak, nasihat bukan hanya untuk pengantin tapi
juga ada pengajian untuk tamu undangan”.
“apa
hanya itu dek?”
“iya
kak, sederhana namun penuh dengan makna”
******************************************************************************
Malam pertama adalah salah satu
momen sacral bagi pengantin baru, digunakan untuk memadu kasih dan melepaskan
segala hasrat yang ada di dada. Namun berbeda dengan kami, malam pertama itu
kita habiskan untuk bercakap-cakap. Aku mengerti ia belum siap, meski ia tak
pernah berkata. Terlihat jelas, gurat malu-malu diwajahnya. Ia butuh adaptasi,
aku mencoba memberinya ruang untuk sebuah kenyamanan. Di malam pertama ini kami
berkenalan, menceritakan mimpi dan merajut asa yang akan kita gapai dalam
bahtera rumah tangga.
“kak,
bangun. Kita sholat thaujjud”
Semenjak menikah, aku tak perlu lagi
memasang alarm hanya untuk membangunkan ku di seprtiga malam. Mungkin karena
sudah terbiasa, ia selalu bangun tanpa aba-aba dari mana-mana. Ia membangunkan
ku dan duduk di pinggir ranjang, aku menariknya kedalam pelukan ku.
“sebentar
lagi, udara masih dingin. Kakak ingin merasakan kehangatan ini lagi dan lagi”
“kalau
kakak bangun, kakak akan merasakan kehangatan ini lebih lama dan panjang
selepas sholat” rayunya
Ampuh, ia memang tahu bahwa dirinya
adalah tawanan yang mampu membuat ku melakukan segalanya. Kegemarannya membaca
Al qur’an tak pernah ia tingglkan meski sudah berumah tangga, aku ingat
percakapan selepas malam pertama
“cepat
sekali selesai membaca Al qur’annya dek”
“iya
kak, siapa tahu ada hal-hal yang kakak perlukan agar adek layani” ia menjadikan
ku prioritas, mengutamakan ku tanpa mengenyampingkan Rabbnya.
“Al
qur’an baru dek?” aku hanya iseng bertanya, biasa pengantin baru masih
canggung.
“iya
kak” jawabnya masih suka singkat-singkat
“pemberian
ibu?” ini pun aku menerka-nerka
“bukan
kak, ini pemberian ayah dan ibu namun adek yang minta. Ayah dan Ibu mau memberi
hadiah pernikahan, namun adek meminta Al qur’an saja” jawabnya, yang kali ini
sedikit lebih panjang.
“kenapa harus Al qur’an dek?”
“saat
seorang anak perempuan menikah, surga ada di bawah telapak kaki suaminya. Bakti
total harus ia persembahkan, dengan meminta Al qur’an ini semoga bisa menjadi
bakti adek kepada ayah dan ibu yang akan terus mengalir. Ketika adek membaca Al
qur’an, semoga pahalnya bisa mereka rasakan karena Al Qur’an ini adalah
pemberian darinya”
Anak mana yang berfikir seperti itu,
bahkan saat ia menikah, ia masih tetap ingin menjadi panen pahala untuk orang
tuanya. Aku tak pernah merasakan bahagia sedahsyat ini.
Usia ku beda lima tahun dengannya,
omongannya memang dewasa tapi tingkah lakunya seperti anak-anak. Ia sering
bergelayutan manja di lengan ku sepulang kerja, saat ia haid tak bisa salah
sedikit langsung ngambek. Dan ajaibnya, ia selalu mengeluarkan kalimat-kalimat
yang menurutku konyol.
“kakak
menyebalkan, kakak pergi saja jangan pulang-pulang lagi. Kenapa pulangnya telat?”
Saat aku berusaha menjawab dan
memberinya pengertian dengan fakta yang ku alamia, ia berkata
“jangan
di jawab, kenapa di jawab. Ish menyebalkan, kakak jelek”
Saat seperti itu aku hanya bisa
terdiam, melakukan semuanya sendiri. Ia hanya berdiam di dalam kamar dan
menangis, pernah suatu siang aku di kejutkan dengan dirinya yang berteriak
histeris.
“kakaaaaak”
Aku segera menghampirinya “ada apa
dek?”
Ia menggandeng tangan ku dengan
tangan kirinya dan menunjuk tempat tidur dengan tangan kananya
“kakak
adek haid, darahnya merambas keluar”
“terus
apa maslahnya dek” aku bingung
“spraenya
jadi warna merah kak”
“iya
lah dek, kan terkena darah” jawab ku
“kakak
gag marah”
“maasya
Allah, adek seperti ini karena takut kakak marah?”
Ia mengangguk, langsung ku kecup
bibir uniknya.
“Bagaimana mungkin kakak akan marah,
disaat adek bergelayut manja seperti ini”
“adek sayang kakak, jangan
tinggalkan adek” tepat di depan dada ku ia berkata
Adek sayang kakak, setiap hari entah
berapa kali ia mengatakan itu. Dan anehnya, aku tak pernah bosan. Semakin
bahagia rasanya, ia tak memperdulikan harga dirinya di hadapan ku. Ia bukan
hanya istri, ia teman jalan-jalan, ia teman pergi kajian, ia teman bertengkar,
ia teman ibadah dan in syaa Allah hingga ke jannah.
Masa
lalu, memang masa lalu jika di bawa-bawa ke masa depan akan membuat duka.
Bagaimana tidak, sepulang kerja aku dikejutkan oleh orang-orang di masa lampau
tengah berdiri di hadapan perempuan yang akan mennjadi masa depan ku.
“hey
Joe, apa kabar?”
Aku hanya bisa terdiam
“ternyata
isu itu benar adanya, kau menikahi perempuan dari planet lain. Apa kau seputus
asa itu karena berpisah dengan ku?”
Entah kenapa Allah membekukan lidah
ku, hingga aku tak bisa melakukan pembelaan apapun. Perempuan itu menghampiri
istri ku
“apa
Joe masih suka berciuman sambil menggigit bibir, apa tangannya masih suka nakal
kalau berciuman. Kau tahu, perjaka suamimu aku yang mendapatkannya”
Perempuan ku menangis, ia menghadap
kearah ku kemudian maju satu langkah menuju lebih dekat dengan perempuan masa
lalu itu.
“ketahuilah,
aku menagis bukan karena masa lalu suami ku. Aku menangis bukan karena masa
lalu seorang Muhammad Johan Arifin, tapi aku menangis karena betapa mudahnya
kau mengumbar aib mu sholehah”
Masyaa Allah kalimatnya, lembut tapi
menusuk. Perempuan ku….
Jika di lihat secara kasat mata, tak
ada yang berubah darinya. Namun hati ku merasakan, ada hawa dingin yang hadir selepas
kejadian itu. Semua terasa hambar, tak semanis hari-hari kemarin. Jangankan
masakan, jamuannya diranjangpun aku merasa seperti memperkosa. Aku merasa,
keringatnya bukan keringat cinta tapi keringat karena terpaksa. Sudah ku coba
memperbaiki segalanya dengan mengajkanya berbicara
“dek, kakak salah. Kakak minta maaf,
tolong maafkan kakak yaa”
“iya kak, gpp. Adek sudah maafkan”
Aku
tak bisa seperti ini terus, jarak beberapa hari aku mengajaknya berbicara lagi.
“dek, kakak merasa ada sesuatu yang
dingin di antar kita?”
“perasaan kakak aja” jawabnya
“kakak merasa, selepas kejadian itu
adek tidak melayani kakak dengan cinta”
“kakak merasa seperti itu karena
kejadian kemarin bukan karena adek tidak melayani dengan cinta, kakak ingin
kembali ke masa lalu kakak. Sehingga merasa hambar kepada semuanya sekarang,
kemarin-kemarin kakak tidak pernah merasakan itu”
Apakah
dia cemburu? ataukah dia marah? kenapa aku menjadi tidak peka. Sungguh, meski
perempuan masa lalu itu telanjang di hadapan ku, aku tak pernah berniat kembali
kepadanya.
Suasana tetap sama, dingin. Meski
begitu, obrolan tetap terjalin walau hambar. Hanya satu yang berubah, aku tak
pernah meminta hak ranjang padanya. Aku akan menunggu, hingga ia sendiri yang
meminta pada ku. Ini konflik terhebat selama satu tahun kami menikah, kami
sering bertengkar namun tak pernah sekering ini hanya untuk memadu kasih.
Sabar, meredam semuanya dengan Al Qur’an. Pernah ia bertanya
“kenapa kakak sering mandi malam
sekarang?”
“gerah dek” jawab ku
Ia
tak pernah melarang ku menyentuhnya, namun aku tahu ia terpaksa. Aku tak ingin
memberinya tekanan, nafsu ini ku redam dengan Al Qur’an dan mandi setia malam.
Hari ini hujan lebat, aku sudah memberi tahunya ada rapat dan pulang telat. Jam
21.00 lumayan larut untuk seseorang yang biasanya bekerja setengah hari, hujan sudah
mereda namun awan menginginkan malam ini tetap dingin. Mendung, tak ada bulan
dan bintang. Semoga hujan ini mendatangkan berkah, doa yang ku lapalkan pagi,
siang dan sore tadi.
“kakak mau teh?” Tanyanya
“dari pada adek menawarkan kakak
teh, lebih baik adek menawrkan diri adek saja” teriak ku dalam hati
“tidak dek, adek istirahat saja”
jawab ku sembari mencium keningnya
Aku
berlalu ke kamar mandi
“kakak mau mandi?” tanyanya lagi
“iya dek”
“dingin kak, adek masakin air ya.
Mandi pakai air hangat kak”
“dingin inilah yang kakak inginkan
dek” lagi-lagi hanya mampu ku katakana dalam hati
“gpp, adek istirahat saja. Seperti
biasa, selepas mandi dan membaca Al Qur’an kakak menyusul” ia mangut, imut saat
seperti itu.
“kak bangun kak, badan kakak panas.
Kakak demam”
Rasanya
kepala ku berat, mata tak bisa terbuka, dan kenapa terasa dingin sekali sedang
tadi ia berkata badan ku panas. Akhirnya aku bisa membuka mata
“kakak demam” suaranya sendu
Apa
dia mengkhawatirkan ku? iya lah jelas, dia istri ku? ia, dia mengkhawatirkan ku
!! aku akan menganggap begitu. Aku bersin
“sepertinya kakak juga akan pilek”
Ia
membantu aku bersandar pada dinding tempat tidur,
“kakak tidak apa-apa dek”
“ini karena kakak sering mandi
malam, berhenti mandi malam. Tidak baik untuk kesehatan, dokter macam apa”
ocehnya
Ini
bukan hanya anggapan ku saja, ia benar-benar mengkhawatirkan ku. Ku pegang
tangannya, dengan tertunduk aku berkata
“adek tahu kenapa kakak selalu mandi
setiap malam akhir-akhir ini, karena kakak sangat rindu berada di dalam adek.
Sedingin apapun suasana malam selepas kakak mandi, sebanyak apapun kakak
membaca Al Qur’an, tapi saat kakak sudah berada di samping adek, ada yang panas
di sini dek” kata ku jujur sembari menunjuk dada
Ia
memelukku dan menangis tersedu-sedu
“bodoh, kakak bodoh. Adek benci
kakak, pergi sana jauh-jauh”
Aku
sudah lama merindukan kalimat-kalimat itu, ia meminta ku pergi dan mengatakan
benci namun ia tetap memeluk ku. Lalu apakah aku akan percaya dengan apa yang
ia katakan, tentu saja tidak. Itu adalah aplikasi kemanjaannya,
“kakak bodoh, oon. Jika memang ingin
menyentuh adek, sentuh saja. Kakak tahu, adek pun ingin disentuh kakak. Adek
sengaja mengenakan lingeri seksi setiap malam, agar kakak memberikan adek
kehangatan. Kadang adek ingin menyegel kamar mandi itu”
Perempuan
ku…
Hari
itu berakhir dengan indah, semua gairah tersalurkan. Aku rakus, sehingga aku
lupa bahwa sedang demam. Aktifitas kemarin malam membuatnya ikut tertular, ia
demam, tapi bersyukurnya aku sudah agak mendingan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar