Senin, 29 April 2024

CINTA DUNIA MAYA

 

                     Pic by: https://id.pinterest.com/sriyulia187/sunnah-couple/

 

Aku adalah seorang laki-laki yang di cap nakal oleh orang tua, kuliah keluar negeri menghabiskan biaya banyak namun hanya untuk berleha-leha. Dua tahun aku di negeri paman syam membuat ku bosan dengan wanita-wanita yang ada disini, liar dengan pergaulan bebasnya. Aku mencapai titik jenuh, rasanya ingin kembali ke pulau seribu masjid.

Facebook, sebuah media sosial yang ketenarannya tak pernah lekang oleh zaman. Beribu aplikasi baru muncul, namun ia tetap eksis dengan fitur-fitur yang ditawarkan. Aku coba menjelajah dunia dengan facebook, akun yang sudah lama kutingglkan. Scrool atas ke bawah, lalu refresh ke atas lagi, turun ke bawah namun tak ada hal yang menarik. Aku masuk grup SMA, dan disana ku temukan sebuah hal yang seru. Si jenius yang sering di sanjung dulu, kini di bully oleh teman-teman sekolah.

“itu jenggot apa tumpukan jerami, kok menggunung begitu?”

“kuliah di jawa hanya untuk mempelajari aliran sesat, yang benar saja”

“Indonesa Tanpa Pacaran, heol”

Ada masih banyak lagi kalimat-kalimat yang semakin ku baca semakin hinaan jelas terasa. Ada apa dengan si jenius? aku mulai ingin tahu, ku coba obrak abrik time linenya. Dan jeng jeng, dari atas hingga bawah, hingga ke bawah lagi full dengan dakwah. Dakwah yang tidak membolehkan music, yang tidak membolehkan pacaran, yang mengharuskan perempuan menutup aurat, yang membahas tentang riba, tentang pernikahan sesuai agama dan masih banyak lagi. Di kelompoknya, si jenius tetaplah bintang. Postinganya di sukai lebih dari ratusan dan bahkan di share oleh puluhan orang. Aku mulai membuka dengan siapa-siapa ia berteman, nama-nama mereka terlihat lucu.

            “akhwat muslimah”

            “calon jenazah”

            “la tahzan”

            “kata akhwat”

            “ukhty”

            “akhy”

Aku tambahkan sebagai teman orang-orang yang namanya lucu menurutku. Si jenius dengan teman-temannya sama saja, postingannya seputar dakwah. Hingga muncul postingan seorang perempuan, bukan tentang dakwah melainkan tentang keluh kesah. Tak ada biodata apaun di akunnya, tak ada tahun lahir, tak ada nama dan alamat, tak ada foto dan sejenisnya. Memang terkadang, perempuan-perempuan yang berasal dari pulau seribu masjid paling tahu bagamana cara membuat laki-laki penasran. Aku pasti akan mendapatkan mu, ikrar ku hari itu.

            “dia yang ku suka telah mendua” –kata akhwat-

“Dia patah hati, mungkin aku bisa datang sebagai lem untuk mengutuhkan hatinya. Menyambung bagian-bagiannya yang telah retak,” fikir ku.

Lalu, aku menulis di kolom komentar

“jiak ia mendua, kau hanya perlu mendua pula. Tak perlu berduka”

            “iya betul” jawabnya singkat jelas dan padat

Aku ingin menjalin kata panjang lebar dengannya, tapi kata apa yang akan ku jalin jika ia hanya menjawab sesingkat itu. Ku coba sapa ia lewat menu inbox, ia hanya menjawab salam lalu pergi. Terus ku sapa ia, ku beri perhatian lebih, lama-lama ternyata luluh juga.

            “kata akhwat, aku rasa itu bukan nama mu. Siapa nama asli mu?” Tanya ku

            “Yesi Sulistiani, nama ku Yesi. Aku kelahiran 1996, tinggal di provinsi Nusa tenggara Barat. lulusan Ahli Madya Farmasi, memilih tidak bekerja dan hanya menjaga warung karena aku kesulitan bekerja sama dalam tim. Aku pernah bekerja di sebuah apotek, aku di terima sebagai seorang fakturis. Namun yang ku kerjakan banyak hal, sebenarnya itu tak masalah jika perintah bos, tapi yang membuat pekerjaan ku banyak yakni tuntutan rekan kerja yang tak mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Hingga pada titik jenuh, aku memutuskan untuk mengundurkan diri. Kini ijazah ku hanya sebagai penghias almari, foto wisuda ku hanya sebagai pemanis untuk dinding rumah tua ku.”

Pacaran? kami tidak pacaran, karena katanya pacaran mendekati zina. Yaa, ku akui memang. Meski pacaran tidak berakhir zina, tapi hampir semua zina berawal dari pacaran. Dalam hati aku berkata, “okey, kita ikuti saja alur main gadis ini”. Sesungguhnya bukan pacarannya yang di larang, tapi aktivitas dalam pacaran itu. Jadi, meski kau tak pacaran, namun yang kau kerjakan adalah aktivitas-aktivitas pacaran maka jatuhnya sama, zina, entah zina mata, zina hati, zina tangan dan lain sebagainya.

            Aku dan Yesi tak pernah bertemu, kami hanya saling mengenal melalui dunia maya. Aku bahkan tak pernah melihat wajahnya,

            “aku perempuan bercadar, menampakkan diri di dunia maya tandanya perempuan yang kehilangan malu. Meski sudah tertutup, namun kita tak tahu seperti apa manusia memandang. Terutama mata laki-laki yang di hatinya mempunyai penyakit”

Aku menawarkan diri untuk mengiriminya foto, namun ia berkata

            “tidak, bukan hanya laki-laki yang harus menjaga pandangannya tapi juga perempuan. Simpan saja foto itu, dan semisal kita berjodoh maka tunjukkan foto sebanyak-banyaknya maka saat itu aku pasti akan merasa bahagia, melihat gaya-gaya konyol dan keren seorang laki-laki yang akan menuntun langkah ku menuju surgaNya”

Kalimat memukau yang pernah ku dengar dari seorang perempuan, apakah ia tidak penasaran dengan wajah ku seperti aku yang penasaran dengan parasnya? entah lah….

            Tesis? menjadi penambah jarak antar aku dengan Yesi, kami mulai tak saling menghubungi. Bukan karena ia tak mau, tapi karena aku yang tak ada waktu. Aku ingin segera kembali, ke pulau seribu masjid itu dan melanjutkan menjalankan tugas yang di embankan Negara padaku. Sedikit tentang diri ku, aku adalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang diangkat oleh Negara sebagai dokter spesialis anak di sebuah rumah sakit di Indonesia. Seorang dokter muda yang melanjutkan pendidikannya di luar negeri untuk memperoleh mutu ilmu yang lebih menjamin meski pada dasarnya sama saja. Bulan demi bulan berlalu, aku sudah menyelesaikan strata dua dengan predikat memuaskan. Aku juga bahkan sudah kembali ke tanah air beberapa bulan yang lalu, sudah mulai bekerja dengan normal. Namun sekarang aku tengah mengajukan usul pindah tugas dinas, meminta untuk ditempatkan di pulau kelahiran ku, pulau seribu masjid. Tiga bulan berbuah manis, usulan ku di terima.

            “welcome one thousen mosque island”

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghilangkan bahasa dunia yang biasa ku gunakan semasa menempuh pendidikan strata dua di Amerika. Keluarga, termasuk orang tua sudah sangat antusias menyembut kedatangan putra keduanya. Tak perlu ku ceritakan seperti apa sambutan hangat mereka, karena ini adalah amazing moment yang tak kan pernah mampu terlukiskan meski dengan gambar ataupun kata-kata.

            Orientasi tempat kerja baru, tak terlalu buruk. Aku teramat sangat pandai menyesuaikan diri, supel, banyak kerabat dan sahabat. Catatan kecil semasa kuliah, ada sebuah alamat tercatat disana. Alamat siapa? aku lupa. Bingung mulai menyapa, sudah satu tahun selepas kuliah catatan itu tak pernah ku buka. Teman SD, SMP, SMA semua sudah ku hubungi, lalu ini siapa? hingga ku balik catatan itu muncullah sebuah nama, Yesi Sulistiani. Entah mengapa ada rasa bahagia yang menyeruak di dada, alamat rumahnya tak terlalu jauh dari tempat tugas yang baru.

            “akan ku cari besok” niat hati

Pagi pun menyapa, dengan senyum jahat sang fajar yang mengikis habis bulir-bulir embun di dedaunan. Aku berangkat kerja dengan motor kesayangan, bergaya khas anak muda. Bukan gaya resmi sang dokter ataupun pegawai Negara, namun bukan berarti pula aku tak taat aturan, ku ganti seragam sesampai disana. Hari senin, ia, sekarang adalah hari senin. Hari dimana waktu terasa sangat panjang, begitulah kata kebanyakan orang. Dan benar, sekarang ku rasakan.

            Waktu tak kan berhenti, secepat atau selama apapun rasanya. Ia akan tetap berputar, menghantarkan hati pada niatan-niatan yang ingin di capai. Seperti niat kemarin, aku ingin menjumpai Yesi si gadis dunai maya yang ku kenal satu tahun yang lalu. Ini pertama kalinya dalam sejarah hidup aku mencari seorang wanita, bahkan wanita yang tak pernah ku kenal ataupun ku lihat sebelumnya. Ini gila.

google map, tentu aplikasi ini sangat membantu. Sesuai dengan alamat, sampailah aku di sebuah kios di pertengahan rumah-rumah bersubsidi di kawasan Labuapi. Karena semangat yang menggebu, aku hingga lupa memeberi jatah makan perut siang ini. Ada warung nasi disamping kios itu, istirahat sejenak disana. Terdengar suara lantunan ayat suci yang di bacakan oleh seorang perempuan, saat aku bertanya kepada penjaga warung ia berkata

            “ooh itu suara lantunan ayat suci yang dibaca oleh pemilik kios sebelah”

Sembari menyuap nasi, lantunan ayat sucinya lumayan aku suka. Stop!! kenapa suara lantunanya hilang, ku tengok sejenak. Ternyata ada orang berbelanja,

            “begitu sistem kerjanya” ujar ku dalam hati

Makanan pun habis aku lahap, aku pura-pura berbelanja.

Aku     : assalamu’alaikum

Dia      :wa’alaikumsalam, beli apa mas?

Aku     : rokok

Dia      : maaf mas, disini kita tidak menjual rokok.

Aku     : kenpa? (Tanya ku bingung)

Dia      : dalam islam rokok itu tidak diperbolehkan, memang tidak ada dalil nyatanya. Namun Al Qur’an mengatakan dengan tegas kita di larang menyakiti atau menzolimi diri sendiri, dan mengkonsumsi rokok salah satu tindakan penganiayaan terhadap diri sendiri.

Aku terdiam, memang betul dalam dunia medis rokok itu tidaklah baik. Ternyata agama pun tak membolehkan, sungguh islam luar biasa. Jauh sebelum adanya ilmu medis, islam sudah menyatakannya lebih dulu.

Aku     : jika begitu, beri aku satu gelas pop ice.

Dengan cekatan ia pun mulai memblander es batu yang sudah bercampur dengan serbuk pop ice.

Aku     : siapa namanya (Ada keraguan dalam hati, ini Yesi atau bukan)

Dia      : Yesi

“good job” teriak hati, ternyata seperti ini paras perempuan yang pernah menemani ku chating meski dalam waktu yang sangat singkat. Aku tak memberi tahunya siapa diri ku, biar aku saja yang mengenalnya.

Aku     : kenapa mengaji tadi?

Dia      : karena tak ada yang ku kerjakan?

Aku     : bisa main HP, bisa juga menonton drama korea yang digilai oleh para remaja. Bisa juga chating dan sejenisnya.

Aku merasa kita dekat, karena aku tahu siapa dirinya. Tapi entah seperti apa ia menilai obrolan ini,

Dia      : aku main HP, namun hanya untuk beberapa saat saja. Untuk drama korea? aku sudah bukan remaja lagi, aku adalah gadis dewasa yang sudah siap menikah namun Allah belum menurunkan jodoh. Untuk saat ini, aku hanya ingin mati dengan tenang. Dan itu yang sedang aku lakukan, membuat persiapan-persiapan. Juga, seorang perempuan itu mengalami masa menstruasi setiap bulan. Saat masa menstruasi itu, aku tak akan bisa membaca Al Qur’an. Maka sekarang aku puaskan diriku membacanya, meski ada murotal-murotal dari qori’ qoriah terkenal namun beda rasanya dengan melantunkan sendiri.

Bukan hanya di dunia maya, tapi kalimat-kalimatnya di dunia nyata pun mampu membuat ku terpaku, terdiam dan merenung.

Aku     : apa kau selalu seperti ini terhadap pembeli?

Dia      : tentu saja tidak, rasanya kita pernah ngobrol dalam jangka waktu yang lama. Seperti déjà vu

Aku membayar barang-barang yang ku beli dan berkata

            “suatu saat aku akan kembali kesini” lalu pamit dengan salam.

            Aku malu sebagai seorang laki-laki yang akan menjadi pemimpin namun tak mempunyai bekal apa-apa yang bisa aku gunkaan untuk membawa orang-orang yang akan aku pimpin ke jalan yang benar. Setelah bertemu dengan Yesi, aku mulai memperbaiki diri. Sedikit demi sedikit mulai mencari tahu tentang agama yang hanya aku anggap sebagai agama keturunan, aku ingat bahwa aku mempunyai teman yang lumayan mengerti agama. Si jenius Senja Pratama, bersamanyalah aku mencari tahu tentang islam. Aku tahu sekarang bagaimana rasanya berdiri di atas sunnah, di atas murninya ajaran Rasulullah. Celana cingkrang, kau dianggap kebanjiran. Jenggotan, dianggap tumpukan jerami. Jidat hitam, dikatakan sujud tidak benar. Tidak pacaran, tidak mendengarkan music, tidak merokok, dianggap fanatic dalam beragama. Tidak maulidan, tidak tahlilan, tidak talkinan di anggap wahabi. Aku menjadi bingung, manusia akhir zaman macam apa yang kiamat sudah dekat namun kelakuan  masih bejat. Jika terlalu sulit menerima kebenaran, maka cukup diam jangan mendebat apa lagi menghujat. Kini, aku merasa menjadi laki-laki seutuhnya. Satu tahun, mungkin waktu yang mustahil untuk menghafal kitab suci Al-Qur’an. Namun ingatlah Allah maha kuasa, Ia menghendaki segala sesuatu mampu terjadi kepada hambaNya. Tepat di bulan ke dua belas, aku hatam Al Qur’an beserta terjemahannya. Sekarang, aku adalah seorang dokter muda dengan hafalannya, dengan celana cingkrangnya, dengan jenggotnya, tanpa asap, tanpa music dan tanpa pacaran. Jidat hitam? aku tidak dengan jidat hitam, entah mengapa mungkin. Namun biarkan saja, selama tidak berselisih dengan agama maka tak mengapa. Ibadah, biar Allah yang tahu.

            Orang tua dan keluarga bahagia dengan diri ku yang seperti ini

“mulailah untuk belajar mewarnai hidup” pesan mereka

Ia, aku mewarnai hidup dengan agama. Warna hidup yang tak akan ku dapat hanya dengan berleha-leha. Dua puluh delapan tahun, sudah lewat seperempat abad usia ku. Yesi, ia adalah misi terakhir dalam perjalanan hijrah ini. Aku membuka social media yang pernah menjadi perantara antara aku dan dia, ku coba memulai percakapan lagi dengan bismillah, karena ketahuilah entah chating atau apapun itu jika bentuknya berupa bahasa tulisan dimulai dengan bismillah bukan salam merajuk kepada teladan nabi Sulaiman.

Aku     : bismillah, masih ingat

Dia      : Alhamdulillah (jawabnya singkat dan secepat kilat)

Aku     : lagi haid?

Dia      : dari mana tahu

Aku     : kau yang berkata waktu itu (balas ku dengan senyum, ternyata ia bias penasaran juga)

Dia      : kapan?

Ku ceritakan ia, mungkin ia terkejut dan bingung. Cukup lama aku menunggu respon darinya,

Dia      : maasya Allah

Memang dia tak akan membuat obrolan menjadi luas, sehingga jawabannya selalu singkat padat dan jelas, bukan panjang x lebar x tinggi yang akan menjadi luas kesana sini. 

Aku     : kelahiran 96, berarti sekarang umurnya 23. Boleh kakak panggil adek?

Jika memang obrolan tidak bias menjadi luas, maka akan ku lunakkan ia.

Aku     : kapan keluarga ada di rumah, kakak berniat menjadikan hubungan ukhuwah ini menjadi hubungan silatturahmi.

Dia      : hari ahad terakhir di bulan ini

Aku     : in syaa Allah kakak bersama keluarga akan menunaikan hajat untuk kesana

Dan obrolan terputus sampai disana, aku merasa sudah cukup mengenalnya. Cukup aku tahu ia suka membaca Al Qur’an, karena tak ada hati jahat yang akan suka membaca kalam Ilahi.

            Hari itu tiba, keluarganya menyambut kedatangan ku dengan hangat. rumahnya memang tua namun terlihat elegan, karena di apit oleh sawah-sawah yang masih produktif. Ayah menyampaikan maksud kedatangan kami, ayahnya pun mengerti dan menyuruhnya keluar. Ia bercadar, lalu membuka cadarnya dan menunduk.

            “adek tak cantik” kalimat  pertama yang keluar dari bibirnya

Dia tidak sumbing, namun saraf bibirnya lebih ke kanan.

            “kenapa harus mempermasalahkan fisik ?” kata ku

            “saat adek tertidur, sebelah mata adek tak bisa menutup dengan sempurna. Kakak mungkin saja akan jijik dan tak akan bergairah, adek tidaklah cantik sehingga kakak tidak akan bisa memamerkan istri kakak kepada teman-teman elit yang kakak punya”

Kini bukan hanya dia saja yang menangis, namun sang ibu yang sedari tadi menggenggam tangannya pun ikut  menangis. Di wajah senja sang ayah pun terlihat gurat kesedihan, namun ia harus terlihat kuat karena ia adalah laki-laki dan penyemangat untuk sang putri.

            “hey, dimana ilmu, iman dan islam yang adek punya. Kenapa berfikir seperti itu, jika menikah hanya karena sex maka untuk apa kakak menikah, kakak hanya tinggal pergi ke Negara-negara yang menganut sex bebas maka tuntas sudah kebutuhan kakak. Tapi ini tentang ibadah dek, tentang bagaiamana menggapai jannahnya Allah. Kemudian juga, untuk apa kakak memamerkan istri kakak kepada orang lain termasuk laki-laki. Adek pasti tahu apa itu dayuts, seorang suami yang tidak mempunyai rasa cemburu saat istrinya mengumbar aurat. Kakak tidak ingin tidak mencium wangi surga dek, maka pertahankan penutup wajah ini. Kenapa harus memperdulikan wajah jelek, karena tak akan ada yang melihat. Kakak tak akan malu meski harus mengajak adek ke pertemuan teman-teman elit yang kakak punya, semakin orang melihat adek jelek maka kakak akan semakin bahagia. Tak ada orang yang akan berusaha merebut adek, bukan begitu?”

            “kak, adek pernah berjanji. Jika ada yang bisa menerima adek apa adanya, adek berjanji akan meletakkan dunia adek di bawah telapak kakinya. Kak, bimbing adek agar mampu menjadi istri sholehah”

Dimulai dari keluarga ku yang kemudian di susul oleh keluarganya, serentak mengucapkan syukur alhamdulillah. Lamaran di terima !!!

            “nak, tengadahkan wajah ini” kata ummi

Sembab, wajah yang ia katakan jelek namun entah mengapa sangat cantik terlihat di mata ku.

            “semoga ketika kita menikah nanti, kau bisa melihat dirimu dengan mata ku”

Sebait harap untuknya.

            “langsung saja tentukan mahar?” celetuk Jihan dengan ceria

Aku menjadi ingat perkataannya sebelum berangkat meminang

            “yey akan ada keluarga baru, akan ada kakak ipar baru”

Jihan duduk di bangku kuliah tingkat satu, ia memang manja karena anak yang paling kecil.

            “iya betul” kata kakak ipar

Akhirnya aku bertanya “adek ingin bermaharkan apa”

            “tujuh set gamis”

            “apa lagi dek”

            “itu saja”

Aku ingin tahu alasannya, tapi nanti saja. Ada banyak hal yang masih harus dibicarakan

            “dek, seperti apa pernikahan impiannya?”

            “adek ingin pernikahan yang sederhana saja, kakak tak perlu menyewa tata rias karena adek yang akan merias diri adek untuk kakak. Adek gag mau gaun sewaan, belikan semampu kakak. Jika memungkinkan, gamis, jilbab dan cadar warna hijau. Gaun pengantin adek, hanya milik adek dan tak akan digunakan oleh orang lain. Mahar, cukup tujuh set gamis adek tidak ingin bermaharkan hafalan Al qur’an. Hakikat mahar harus berupa benda, hafalan Al qur’an hanya jika laki-laki itu tak mempunyai apa-apa. Saat hari pernikahan kita, maka itu juga akan menjadi hari resepsi. Tamu pada pernikahan kita terpisah laki-laki dengan perempuan, begitupun dengan pengantinnya. Tidak memakai kursi, melainkan duduk di lantai beralaskan karpet atau hambal. Memiliki susunan acara, satu pembukaan, dua akad nikah, tiga nasihat pernikahan dan ceramah singkat, empat doa dan lima penutup. Pernikahan semacam pengajian umum kak, nasihat bukan hanya untuk pengantin tapi juga ada pengajian untuk tamu undangan”.

            “apa hanya itu dek?”

            “iya kak, sederhana namun penuh dengan makna”

******************************************************************************

Malam pertama adalah salah satu momen sacral bagi pengantin baru, digunakan untuk memadu kasih dan melepaskan segala hasrat yang ada di dada. Namun berbeda dengan kami, malam pertama itu kita habiskan untuk bercakap-cakap. Aku mengerti ia belum siap, meski ia tak pernah berkata. Terlihat jelas, gurat malu-malu diwajahnya. Ia butuh adaptasi, aku mencoba memberinya ruang untuk sebuah kenyamanan. Di malam pertama ini kami berkenalan, menceritakan mimpi dan merajut asa yang akan kita gapai dalam bahtera rumah tangga.

            “kak, bangun. Kita sholat thaujjud”

Semenjak menikah, aku tak perlu lagi memasang alarm hanya untuk membangunkan ku di seprtiga malam. Mungkin karena sudah terbiasa, ia selalu bangun tanpa aba-aba dari mana-mana. Ia membangunkan ku dan duduk di pinggir ranjang, aku menariknya kedalam pelukan ku.

            “sebentar lagi, udara masih dingin. Kakak ingin merasakan kehangatan ini lagi dan lagi”

            “kalau kakak bangun, kakak akan merasakan kehangatan ini lebih lama dan panjang selepas sholat” rayunya

Ampuh, ia memang tahu bahwa dirinya adalah tawanan yang mampu membuat ku melakukan segalanya. Kegemarannya membaca Al qur’an tak pernah ia tingglkan meski sudah berumah tangga, aku ingat percakapan selepas malam pertama

            “cepat sekali selesai membaca Al qur’annya dek”

            “iya kak, siapa tahu ada hal-hal yang kakak perlukan agar adek layani” ia menjadikan ku prioritas, mengutamakan ku tanpa mengenyampingkan Rabbnya.

            “Al qur’an baru dek?” aku hanya iseng bertanya, biasa pengantin baru masih canggung.

            “iya kak” jawabnya masih suka singkat-singkat

            “pemberian ibu?” ini pun aku menerka-nerka

            “bukan kak, ini pemberian ayah dan ibu namun adek yang minta. Ayah dan Ibu mau memberi hadiah pernikahan, namun adek meminta Al qur’an saja” jawabnya, yang kali ini sedikit lebih panjang.

            “kenapa harus Al qur’an dek?”

            “saat seorang anak perempuan menikah, surga ada di bawah telapak kaki suaminya. Bakti total harus ia persembahkan, dengan meminta Al qur’an ini semoga bisa menjadi bakti adek kepada ayah dan ibu yang akan terus mengalir. Ketika adek membaca Al qur’an, semoga pahalnya bisa mereka rasakan karena Al Qur’an ini adalah pemberian darinya”

Anak mana yang berfikir seperti itu, bahkan saat ia menikah, ia masih tetap ingin menjadi panen pahala untuk orang tuanya. Aku tak pernah merasakan bahagia sedahsyat ini.

Usia ku beda lima tahun dengannya, omongannya memang dewasa tapi tingkah lakunya seperti anak-anak. Ia sering bergelayutan manja di lengan ku sepulang kerja, saat ia haid tak bisa salah sedikit langsung ngambek. Dan ajaibnya, ia selalu mengeluarkan kalimat-kalimat yang menurutku konyol.

            “kakak menyebalkan, kakak pergi saja jangan pulang-pulang lagi. Kenapa pulangnya telat?”

Saat aku berusaha menjawab dan memberinya pengertian dengan fakta yang ku alamia, ia berkata

            “jangan di jawab, kenapa di jawab. Ish menyebalkan, kakak jelek”

Saat seperti itu aku hanya bisa terdiam, melakukan semuanya sendiri. Ia hanya berdiam di dalam kamar dan menangis, pernah suatu siang aku di kejutkan dengan dirinya yang berteriak histeris.

            “kakaaaaak”

Aku segera menghampirinya “ada apa dek?”

Ia menggandeng tangan ku dengan tangan kirinya dan menunjuk tempat tidur dengan tangan kananya

            “kakak adek haid, darahnya merambas keluar”

            “terus apa maslahnya dek” aku bingung

            “spraenya jadi warna merah kak”

            “iya lah dek, kan terkena darah” jawab ku

            “kakak gag marah”

            “maasya Allah, adek seperti ini karena takut kakak marah?”

Ia mengangguk, langsung ku kecup bibir uniknya.

“Bagaimana mungkin kakak akan marah, disaat adek bergelayut manja seperti ini”

“adek sayang kakak, jangan tinggalkan adek” tepat di depan dada ku ia berkata

Adek sayang kakak, setiap hari entah berapa kali ia mengatakan itu. Dan anehnya, aku tak pernah bosan. Semakin bahagia rasanya, ia tak memperdulikan harga dirinya di hadapan ku. Ia bukan hanya istri, ia teman jalan-jalan, ia teman pergi kajian, ia teman bertengkar, ia teman ibadah dan in syaa Allah hingga ke jannah.

 

            Masa lalu, memang masa lalu jika di bawa-bawa ke masa depan akan membuat duka. Bagaimana tidak, sepulang kerja aku dikejutkan oleh orang-orang di masa lampau tengah berdiri di hadapan perempuan yang akan mennjadi masa depan ku. 

            “hey Joe, apa kabar?”

Aku hanya bisa terdiam

            “ternyata isu itu benar adanya, kau menikahi perempuan dari planet lain. Apa kau seputus asa itu karena berpisah dengan ku?”

Entah kenapa Allah membekukan lidah ku, hingga aku tak bisa melakukan pembelaan apapun. Perempuan itu menghampiri istri ku

            “apa Joe masih suka berciuman sambil menggigit bibir, apa tangannya masih suka nakal kalau berciuman. Kau tahu, perjaka suamimu aku yang mendapatkannya”

Perempuan ku menangis, ia menghadap kearah ku kemudian maju satu langkah menuju lebih dekat dengan perempuan masa lalu itu.

            “ketahuilah, aku menagis bukan karena masa lalu suami ku. Aku menangis bukan karena masa lalu seorang Muhammad Johan Arifin, tapi aku menangis karena betapa mudahnya kau mengumbar aib mu sholehah”

Masyaa Allah kalimatnya, lembut tapi menusuk. Perempuan ku….

            Jika di lihat secara kasat mata, tak ada yang berubah darinya. Namun hati ku merasakan, ada hawa dingin yang hadir selepas kejadian itu. Semua terasa hambar, tak semanis hari-hari kemarin. Jangankan masakan, jamuannya diranjangpun aku merasa seperti memperkosa. Aku merasa, keringatnya bukan keringat cinta tapi keringat karena terpaksa. Sudah ku coba memperbaiki segalanya dengan mengajkanya berbicara

            “dek, kakak salah. Kakak minta maaf, tolong maafkan kakak yaa”

            “iya kak, gpp. Adek sudah maafkan”

Aku tak bisa seperti ini terus, jarak beberapa hari aku mengajaknya berbicara lagi.

            “dek, kakak merasa ada sesuatu yang dingin di antar kita?”

            “perasaan kakak aja” jawabnya

            “kakak merasa, selepas kejadian itu adek tidak melayani kakak dengan cinta”

            “kakak merasa seperti itu karena kejadian kemarin bukan karena adek tidak melayani dengan cinta, kakak ingin kembali ke masa lalu kakak. Sehingga merasa hambar kepada semuanya sekarang, kemarin-kemarin kakak tidak pernah merasakan itu”

Apakah dia cemburu? ataukah dia marah? kenapa aku menjadi tidak peka. Sungguh, meski perempuan masa lalu itu telanjang di hadapan ku, aku tak pernah berniat kembali kepadanya.

            Suasana tetap sama, dingin. Meski begitu, obrolan tetap terjalin walau hambar. Hanya satu yang berubah, aku tak pernah meminta hak ranjang padanya. Aku akan menunggu, hingga ia sendiri yang meminta pada ku. Ini konflik terhebat selama satu tahun kami menikah, kami sering bertengkar namun tak pernah sekering ini hanya untuk memadu kasih. Sabar, meredam semuanya dengan Al Qur’an. Pernah ia bertanya

            “kenapa kakak sering mandi malam sekarang?”

            “gerah dek” jawab ku

Ia tak pernah melarang ku menyentuhnya, namun aku tahu ia terpaksa. Aku tak ingin memberinya tekanan, nafsu ini ku redam dengan Al Qur’an dan mandi setia malam. Hari ini hujan lebat, aku sudah memberi tahunya ada rapat dan pulang telat. Jam 21.00 lumayan larut untuk seseorang yang biasanya bekerja setengah hari, hujan sudah mereda namun awan menginginkan malam ini tetap dingin. Mendung, tak ada bulan dan bintang. Semoga hujan ini mendatangkan berkah, doa yang ku lapalkan pagi, siang dan sore tadi.  

            “kakak mau teh?” Tanyanya

            “dari pada adek menawarkan kakak teh, lebih baik adek menawrkan diri adek saja” teriak ku dalam hati

            “tidak dek, adek istirahat saja” jawab ku sembari mencium keningnya

Aku berlalu ke kamar mandi

            “kakak mau mandi?” tanyanya lagi

            “iya dek”

            “dingin kak, adek masakin air ya. Mandi pakai air hangat kak”

            “dingin inilah yang kakak inginkan dek” lagi-lagi hanya mampu ku katakana dalam hati

            “gpp, adek istirahat saja. Seperti biasa, selepas mandi dan membaca Al Qur’an kakak menyusul” ia mangut, imut saat seperti itu.

            “kak bangun kak, badan kakak panas. Kakak demam”

Rasanya kepala ku berat, mata tak bisa terbuka, dan kenapa terasa dingin sekali sedang tadi ia berkata badan ku panas. Akhirnya aku bisa membuka mata

            “kakak demam” suaranya sendu

Apa dia mengkhawatirkan ku? iya lah jelas, dia istri ku? ia, dia mengkhawatirkan ku !! aku akan menganggap begitu. Aku bersin

            “sepertinya kakak juga akan pilek”

Ia membantu aku bersandar pada dinding tempat tidur,

            “kakak tidak apa-apa dek”

            “ini karena kakak sering mandi malam, berhenti mandi malam. Tidak baik untuk kesehatan, dokter macam apa” ocehnya

Ini bukan hanya anggapan ku saja, ia benar-benar mengkhawatirkan ku. Ku pegang tangannya, dengan tertunduk aku berkata

            “adek tahu kenapa kakak selalu mandi setiap malam akhir-akhir ini, karena kakak sangat rindu berada di dalam adek. Sedingin apapun suasana malam selepas kakak mandi, sebanyak apapun kakak membaca Al Qur’an, tapi saat kakak sudah berada di samping adek, ada yang panas di sini dek” kata ku jujur sembari menunjuk dada

Ia memelukku dan menangis tersedu-sedu

            “bodoh, kakak bodoh. Adek benci kakak, pergi sana jauh-jauh”

Aku sudah lama merindukan kalimat-kalimat itu, ia meminta ku pergi dan mengatakan benci namun ia tetap memeluk ku. Lalu apakah aku akan percaya dengan apa yang ia katakan, tentu saja tidak. Itu adalah aplikasi kemanjaannya,

            “kakak bodoh, oon. Jika memang ingin menyentuh adek, sentuh saja. Kakak tahu, adek pun ingin disentuh kakak. Adek sengaja mengenakan lingeri seksi setiap malam, agar kakak memberikan adek kehangatan. Kadang adek ingin menyegel kamar mandi itu”

Perempuan ku…

Hari itu berakhir dengan indah, semua gairah tersalurkan. Aku rakus, sehingga aku lupa bahwa sedang demam. Aktifitas kemarin malam membuatnya ikut tertular, ia demam, tapi bersyukurnya aku sudah agak mendingan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar