Bertemu kembali tanpa sengaja, setelah melewati banyak senja di tempat yang berbeda. Banyak kata yang terjalin dipertemuan pertama, salah satunya cinta.
"apa kau sudah mempunyai seseorang yang kau cintai?"
"iya"
"seorang laki-laki?"
"tentu saja"
"siapa?"
"aku tidak bisa menjelaskan detailnya, mungkin hanya inisial namanya saja"
"boleh, tidak apa-apa"
"inisial M"
"Muhammad?"
Aku terdiam
"kenapa kau tidak ingin menikah dengan ku?" lanjutnya.
"sudah berapa kali aku katakan, aku tidak menemukanmu dalam istikharahku."
"tapi aku menemukanmu"
"sudahlah Joe"
"baiklah, aku tidak ingin membuatmu terbebani dipertemuan ini. Ada hal-hal lain yang ingin kau bicarakan dengan ku?"
"Joe, jika waktu bisa berputar ke masa lalu. Kau ingin kembali ke masa yang mana?"
"aku ingin berada pada masa dimana kau pertama kali mengenal cinta"
"aku tahu arah pembicaraanmu"
"jika waktu bisa berputar ke masa lalu, kau ingin kembali ke masa yang mana?"
ia mengajukan pertanyaan yang sama padaku
"aku memang tidak ingin berada di masa ini, tapi aku juga tidak ingin kembali ke masa lalu"
"lantas?"
"aku ingin, menjadi tidak pernah dilahirkan"
Aku dan Joe, dua yang hampir menjadi satu. Kita, cinta yang terjebak pada mimpi yang berbeda. Disini bukan cinta yang salah, hanya saja waktu yang terlalu tangguh memainkan perannya. Selepas bertemu tanpa sengaja dipelataran Hubbulwathan, untuk kedua kalinya, lagi-lagi kita dipertemukan saat senja sedang indah-indahnya. Sudah menjadi kebiasaan, kita suka menghiasi pertemuan dengan obrolan.
Katanya "jika kita tak bisa memberi kenang-kenangan berupa benda, setidaknya kita bisa membuat kenangan dengan kata."
Benar, menjalin kata dengannya adalah kenangan yang tak bisa dilupakan.
Aku: Joe, aku ingin membangun sebuah rumah.
Joe: untuk apa, bukankah kau sudah mempunyai rumah?
Aku: iya, di dunia. Tapi sepertinya aku tak punya rumah di surga, aku sedih Joe.
Joe: lantas aku harus bagaimana?
Aku: bantu aku
Joe: apa yang bisa aku bantu?
Aku: aku seorang perempuan, aku tak mengerti tentang dunia pertukangan dan bangunan.
Joe: lalu, apa kau menganggap aku mengerti?
Aku: kau arsitek
Joe: astaga, aku hampir lupa.
Aku: kau bukan hampir lupa, tapi kau memang lupa.
Joe: karena perkataanmu membuatku terjebak didalam fikiranku sendiri.
Aku: fikiran tentang apa?
Joe: fikiran tentang bagaimana jika aku tidak mempunyai tempat di surga, bagaimana jika tak ada rumahku disana. Fikiran tentang, aku terlalu sibuk mendesain rumah untuk dunia, namun tak pernah terfikir mendesain sebuah rumah mewah di surga.

