Sabtu, 03 Desember 2022

TENTANG SESEORANG

Aku menemukanmu di setiap sosial media, kau terlihat sempurna untuk ukuran manusia. Hingga membuat ku tak percaya, bahwa kita adalah makhluk yang sama. Dua manusia yang tinggal di bumi yang sama, meski di belahan yang berbeda. Kharisma yang kau perlihatkan, menyeretku pada sebuah rasa penasaran. Aku mulai mencari semua tentang dirimu, berusaha mengenal sosok yang membuat ku terjebak pada rasa semu. Tak perlu ku sebut namamu, tak perlu ku sebut secara rinci tentang mu. Cukup aku yang tahu sedalam apa aku mengagumimu.

Setelah perjalanan panjang mengenalmu melalui mesin buatan manusia, aku semakin terpesona pada sosok mu yang tak nyata. Kau mendapat julukan golden makne di antara rekan-rekanmu, bahkan usiamu dan usiaku terpaut jauh, kau anak muda dengan segudang talenta dan prestasi. Andai kita seiman, mungkin banyak dari golonganku yang akan menjadikanmu role model mereka. Di mesin itu juga diterangkan, kau mempunyai sebuah kalimat sebagai motto hidup ‘Lebih baik mati daripada hidup tanpa passion’. Aku setuju, untuk apa hidup jika kita tak mempunyai ketertarikan pada hidup itu sendiri. Untuk mu yang tak kan mungkin membaca tulisan ini, namun aku berharap orang lain yang mencintaimu bisa membacanya. Passion adalah semangat atau gairah, jika suatu ketika kau dihadapkan pada situasi yang mengharuskanmu kehilangan dan lupa terhadap passionmu, lalu kau ingin mengakhiri hidup sampai disana, ingatlah bahwa hidup itu adalah passion. Cukup dengan kau terus bernafas tanpa harus memaksa nafas itu berhenti, kau telah menemukan semangat/gairah/passion yang luar biasa.

Sampai pada paragraph ke tiga tulisan ini, aku masih mencari tentang mu. Kau ingin berbicara dengan hewan? Lagi-lagi aku mengungkit tentang keimanan, jika kita sama, kau mungkin akan dikatakan replica salah satu teladan mulia dalam golonganku. Terlebih pada sumber lain, aku pernah melihat sebuah kartu yang tak semua penduduk bumi memiliki itu, ‘black card’ sebutannya. Sebuah kartu kredit yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang berpenghasilan tinggi melalui jalur undangan, sebuah kartu kredit yang tak bisa didaftarkan secara pribadi. Sebuah kartu, sebagai perlambangan orang kaya. Apa yang tak kau miliki? Harta, tahta, rupa. Hanya saja dalam hati, seketika terbersit tanya yang tak penting ‘mengapa kau tak menjadi bagian dari golonganku saja’. Agar kelak dikehidupan berikutnya, dikehidupan selepas kematian, bukan rengkarnasi yang kau percaya, melainkan surga firdaus yang keindahan dan kenikmatannya tak pernah mampu terdeteksi oleh otak manusia.

Beralih ke tentang mu yang lain, aku ingin tahu, bagaimana kisah cinta impian yang kau inginkan. Bagi seseorang yang berusaha mengenalmu, aku merasa, aku harus tahu tentang ini. Kau menginginkan seorang perempuan dengan tinggi 168 cm? Kau pasti akan mendapatkannya, golonganmu disana sebagian besar berperawakan tinggi. Aku harap kau bisa menikah, namun mendengarmu mempunyai kriteria khusus tentang seorang perempuan saja sudah cukup membuatku merasa aman menyukaimu. Kau bukan termasuk penyuka sesame jenis, itu adalah hal luar biasa. Ada banyak harap ku untuk mu pada tulisan ini, karena aku paham, mengukir harap tentang mu menjadi untaian doa, itu tak mungkin. Bagaimana bisa aku memintakan tentang mu pada Tuhan ku sedang kau tak berTuhan pada-Nya. Baik, beralih ke keriteria perempuan yang kau inginkan selanjutnya. Kau menginginkan seorang perempuan yang menyukai dirinya? Aku setuju. Setiap kata yang kau sampaikan, menunjukkan seperti apa dirimu. Legalitasmu yang multitalenta tak perlu dipertanyakan lagi. Mungkin aku juga akan menambahkan hal itu pada kriteria calon pasangan yang aku inginkan nanti. Sebab memang benar, banyak orang di zaman sekarang yang tidak menyukai dirinya. Berusaha mencari cara untuk membenci, bagaimana cara membenci diri yang paling baik.  

Seseorang yang bisa menyukai dirinya sendiri, ya, aku pernah jatuh cinta pada seorang laki-laki yang tak menyukai dirinya. Ia selalu ingin lebih akan hidupnya, bersyukur, namun terlihat seperti tak menghargai. Menggadaikan ketenangan untuk mengejar gaya, hanya karena ingin merubah bagian dari dirinya yang sudah jelas tak bisa diubah. Meminum banyak obat, berani berhutang, hanya untuk hal-hal yang tak terlalu dibutuhkan. Untuk apa hal itu, jika sudah ada satu orang yang mencintai. Namun sekarang aku sadar, tingkahnya yang seperti itu dikarenakan ia merasa belum menemukan orang yang ia cinta. Aku lupa, bahwa disini hanya aku yang mencintai, sedang ia tidak. Maka pantas, ia selalu menginginkan dirinya lebih dari yang sekarang. Aku pernah berkata padanya

“aku akan berhenti mencintaimu”

Lalu ia menjawab “berhenti saja, aku tidak butuh dicintai.”

Sejak hari itu, aku memutuskan tak memperdulikan semua tentangnya. Ditengah luka ini juga aku menemukanmu, membawanya lari melihat dunia melalui mesin pencarian media sosial. Rasa suka padamu mungkin hanya pelarian, namun itu tak mempengaruhi popularitasmu. Maka biarlah aku menjadikanmu pelarian yang paling indah, menyimpanmu yang tak nyata di dalam hati, tak sesakit menyimpannya meski terasa ada.

Sampai jumpa, pada mimpi yang mungkin ada kau disana. I am a dreamer