Minggu, 01 Oktober 2023

Bukankah Lelah Itu Berwujud ?



Sebenarnya, aku hanya mengingikan sebuah kehidupan yang sederhana. Aku ingin bekerja enam hari dalam seminggu, aku ingin sepulang kerja tidak ada pekerjaan yang dibawa pulang ke rumah, apalagi sampai memikirkannya hingga membuat tidak nyenyak tidur. Aku ingin bekerja dengan tenang, tanpa banyak teman, tanpa tekanan laporan yang akan merugikan orang lain. Aku ingin bekerja diwaktu kerja, lalu sisanya aku ingin menikmati hidup dengan beribadah dan hal-hal lain yang mungkin aku sukai. misal seperti menonton drama yang aku suka, membaca buku yang aku gemari, menulis cerita. 

Sebuah kehidupan sederhana versi ku, pagi bekerja, lalu pulang jam tiga siang, kemudian istirahat sembari menunggu adzan asar. Membantu ibu membersihkan halaman, menyapu dan menyiram. Mandi, membaca buku, menulis atau memainkan ponsel entah untuk mendengar kajian, video motivasi, bahkan ngestalking teman-teman di sosial media. Saat malam tiba, menunaikan sholat magrib, mengaji sembari membaca terjemahan Al Qur'an. Menunaikan sholat isya, disini ada waktu luang lagi sembari menunggu jam 09.30 untuk tidur. jeda waktu luang bisa diisi seperti waktu-waktu luang di atas, misal melanjutkan membaca buku, bermain hp, menulis menonton. Alangkah baiknya, mempunyai agenda yang lebih produktif. Seperti mengobrol dengan orang tua atau saudara, membuat sebuah topik untuk diperbincangkan. Tidur di awal waktu, dapat membuat kita disiplin dalam menjalankan sholat malam/tahajjud. Memuji, memohon dan meminta. Memuji Tuhan, memohon ampun dan meminta apa yang kita ingin. Benar-benar hidup sederhana, lalu bertemu pagi, bekerja seperti biasa, memutar hari tanpa ambisi dunia. 

Sebuah kehidupan sederhana versi kedua ku, siang sekitar jam 02.30 berangkat kerja, lalu pulang jam 10.00 atau 09.30 malam. Aku biasanya tidak sholat isya ditempat bekerja, lebih menikmati sholat di rumah. Lalu melanjutkan dengan membaca Al Qur'an, jika masih ada tersisa waktu melanjutkan dengan membaca terjemahannya. Saat badan terlalu lelah, kadang tak bisa tenaga sampai menyentuh terjemahannya. Melanjutkan tidur, untuk bersiap sholat malam. Saat mendapat jam kerja di siang hari, pagi bisa diisi dengan membantu orang tua mencuci piring, menyapu atau bahkan mencuci pakaian sendiri. Lalu diisi dengan membaca buku, atau menonton video motivasi dan tausiah. 

Ya, itulah dua hidup sederhana versiku. Tanpa terlalu berambisi akan dunia, dan tanpa gila mode serta gaya hidup. Aku lebih senang menikmati hidup dengan apa adanya, sederhana, namun bermakna dan ringan. Aku tak ingin punya banyak uang, cukup bisa membiayai kebutuhan sehari-hari, bisa membeli buku sekali setiap gajian, bisa membeli baju sesekali, bisa membantu kebutuhan dapur orang tua atau uang jajajn adek, bagiku hidup seperti itu sudah cukup. Saat aku bekerja di sebuah instansi swasta dengan gaji 1.2 juta, aku bisa menganggarkannya 200 untuk membantu uang sekolah adek, 300 ribu untuk ibu, lalu sisanya 700 ribu bisa untuk aku bertahan sampai gajian. Aku tipe orang yang sulit percaya sebuah kata-kata yang mungkin ada hubungannya dengan agama, namun entah mengapa, aku percya dengan kalimat

"semakin banyak pemasukan, maka semakin banyak pula pengeluaran"

saat aku bergaji 1.2 juta, maka semua kebutuhan sampai gajian bulan depan bisa tercover. Namun saat aku bergaji 4.5 juta, semua kebutuhan tercover dan uang itu juga habis. Bukankah hidup dengan gaji 1.2 juta dan gaji 4.5 juta sama saja, bahkan saat bergaji 1.2 juta kita mendapat nilai plus, yakni sebuah ketenangan menjalani hari-hari, tak ada laporan yang menekan, tak ada rekan kerja yang membebani, tak ada aturan-aturan goblok yang mengikat. Hidup dengan gaji 4.5 juta juga punya nilai plus, namun palsu. saat bergaji 4.5 juta, bergengsi dengan seragam dan atas nama Pegawa Negeri Sipil (PNS), namun tak dapat tidur nyenyak memikirkan pekerjaan, tak jarang membawa pekerjaan pulang ke rumah, bahkan saat hari libur dihubungi atasan untuk menyelesaikan laporan yang tak bisa diselesaikan di jam kerja, belum mengurus rekan kerja yang membutuhkan laporan pada kita. Bekerja di instansi pemerintah adalah sistem kerja jejaring yang sangat besar. Bukan lagi tentang berhubungan dengan satu orang dengan orang lain, melainkan berhubungan dengan satu unit dengan unit lain, berhubungan dengan instansi satu dengan instansi lain, belum berhubungan dengan orang-orang diluar pemerintah, seperti rekanan luar, para pedagang atau percetakan. 

Namun seperti sebuah pernikahan, bahwa dalam pernikahan bukan hanya tentang aku atau dia, tapi juga ada keluarga ku dan juga keluarganya. begitu juga hidup, bukan hanya tentang ku saja, melainkan ada ingin orang tua yang harus diwujudkan. Ada kesuksesan yang mereka impikan didalam diri anak-anaknya, mengabaikan itu disaat kita dianggap mampu, hanya akan memberi kesakitan pada diri sendiri, hanya akan memberi penyesalan saat ditinggal lebih dulu dari dunia. Hingga akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, hidup sederhana itu tidak ada bagi anak-anak yang tak berani melawan dirinya sendiri, yang tak berani memberikan pembuktian kesuksesan berdasarkan apa yang mereka inginkan. 

Tak ada orang tua yang ingin anaknya menderita, tak ada orang tua yang ingin anaknya sengsara. Semua orang tua ingin anaknya sukses dan berhasil, namun sangat jarang ada orang tua yang memahami, hidup seperti apa yang anaknya inginkan. Meskipun begitu, dalam kasus hidupku, aku bukan korban dari orang tua ku, aku adalah korban dari diriku sendiri. 

Bukankah aku terlihat begitu lelah ? ini adalah wujud lelahku.