Senin, 15 April 2024

FAJAR DAN SENJA

Aku penasaran, seperti apa isi sosial media perempuan bercadar. Malam sabtu kemarin kebetulan aku sangat suntuk, akhirnya aku melakukan hacking pada sebuah akun facebook milik perempuan bercadar. Sangat mengejutkan, dari semua akun yang pernah ku retas passwordnya akun ini yang paling bersih. Mulai dari foto-foto, dan grup-grup chating lainnya. Aku berfikir, ini hanya hacking sederhana. Semua orang pasti bisa memulihkan akun ini, jadi aku tidak akan merasa bersalah kepada perempuan bercadar yang telah kuretas akunnya. Tiga hari kemudian aku memeriksa akun itu, apakah ia sudah memulihkan akunnya atau belum. Dan ternyata ada hal menarik yang kutemui, ia mengirim pesan pada akunnya sendiri menggunakan akun facebook lain.

“assalamu’alaikum, bisa saya minta tolong kembalikan akun facebook saya. Disana sudah banyak teman-teman saya, terimakasih sebelumnya.”

Rasa penasaran tentang apa isi akun sosial media perempuan bercadar kini telah tuntas, namun ada hal lain lagi yang memancing rasa penasaran ku, seperti apa pemilik akun ini. Dia membuatku merasa seperti orang yang benar-benar jahat, akun facebooknya sudah diretas namun sopan santun tidak ia kesampingkan. Tak ingin berlama-lama, aku pun membalas pesannya.

 “ijinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan dulu” pinta ku

 “silahkan, jika aku mampu pasti akan ku jawab” balasnya

 “nama mu siapa? alamat rumah mu dimana? kegiatan mu sekarang apa? dan tanggal lahir mu berapa?” entahlah kenapa aku ingin bertanya hal-hal seperti itu, yang jelas aku hanya ingin tahu.

 “nama ku Senja Arum, aku dari Lombok Barat provinsi Nusa Tenggara barat, aku lulusan SI farmasi dan sekarang bekerja sebagai operator di salah satu Sekolah Dasar Negeri di kabupaten ku, aku bekerja disana karena STR TTK dan ijazah ku belum keluar sehingga tidak bisa melamar kerja di instansi farmasi. Umur ku 23 tahun, lahir di Mataram 16 maret 1994” perkenalan yang singkat, namun cukup untuk mewakili identitas diri. 

 “terimakasih, kita satu provinsi. Hanya saja aku dari luar Lombok, tapi sekarang aku lagi tinggal di Mataram karena sedang menempuh pendidikan starta satu tehnik komputer dan jaringan. Jika ingin akun facebook mu kemabli, boleh kita bertemu?” setelah pesan itu terkirim, aku baru berfikir ‘manusia macam apa aku, sudah meretas akun orang lalu memintanya untuk bertemu’ aku berniat, meski ia menolak untuk bertemu, namun aku akan tetap mengembalikan akunnya. 

 “kita bertemu di menara Masjid Hubbul Wathan Mataram, hari Jum’at jam 5 sore” balasnya, tak ku duga.

Hari pertemuan tiba, Jum’at sore di menara Masjid Hubbul Wathan Mataram. Aku sudah tiba di menara masjid, tiba-tiba handphone ku berbunyi “maaf, mungkin aku akan telat. Aku tidak terlalu bisa memakai motor” aku tersenyum membaca pesannya, kejujurannya bisa kurasa. 

 “tidak apa-apa, cukup hati-hati saja” balas ku penuh perhatian, mungkin ia disana ilfil. Tapi biarlah, ini murni dari hati.

Aku tak tahu, di Lombok Barat bagian mana rumahnya sehingga ia sangat lama. Sabar, jangan terburu-buru bisik hati pada diri. Ditengah-tengah sabar itu, datanglah seorang perempuan bercadar. Bukan hitam, tapi putih. Ia menyapa lebih dulu, 

 “assalamu’alaikum, apa side (panggilan halus untuk ‘kamu’ dalam bahasa sasak) ini” katanya sembari menunjukkan ponselnya, sangat butut sekali. Nokia x2, padahal sekarang jamannya smartphone. Sejenis gadged dan handphone-handphone android bermerek lainnya. 

 “Fajar Pratama” kata ku memperkenalkan diri tanpa ingin berjabat tangan, karena aku tahu spesies seperti ini tidak ingin disentuh oleh siap pun. 

Aku berfikir ia akan langsung ke inti pertemuan, meminta kembali sandi facebooknya. Tapi aku melihat matanya menyipit, tebak ku ia pasti tengah tersenyum. Ia merentangkan tangannya, memejamkan mata dan berkata “udara sore disini sangat menyejukkan”. Aku memperhatikan setiap geraknya, hingga akhirnya ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah ku “ini senja pertama ku di menara Hubbul Wathan, mau kau temani aku menikmatinya?”

Ini antara pertanyaan atau ajakan aku tahu, yang jelas aku mengiakannya. Ku pikir perempuan bercadar itu kaku dan membosankan, tapi ia mengubah persepsiku. Perempuan bercadar itu benar-benar special, mereka harus dijaga dan dilindungi. Tak pantas mendapatkan ejekan ataupun cacian !! ditengah penantiannya akan senja ia berkata 

 “ini senja terindah ku, karena aku takut ketinggian sehingga aku tidak pernah bisa menikmati senja selain di pantai. Aku ingin menikmati semua senja dibanyak tempat, di pegunungan, di bukit, di menara-menara masjid dan senja-senja di tempat lain. Aku ingin keliling Lombok, keliling Indonesia bahkan keliling dunia untuk menjumpai senja” setiap akhir kalimatnya ia selalu menoleh ke arah ku dengan mata menyipit, dan sungguh itu membuat ku jatuh cinta. Bukan ingin menelanjanginya, tapi ingin menghalalkannya. Lagi-lagi matanya menyipit, karena senjanya telah tiba. Namun jauh sebelum itu, aku telah menjumpai senja ku lebih dulu. Senja Arum.

Menara Hubbul Wathan, akan menjadi kenangan yang sangat indah. 

Aku jatuh cinta pada pandangan kedua namun di pertemuan pertama, pertemuan yang sangat berkesan. Dipertemuan itu ia memberitahukan alamatnya, ia tinggal di Lombok Barat bagian selatan. Katanya “dari rumah ku, kau bisa menaklukkan lautan menuju gili nanggu. Disana aku di panggil Arum, semoga kita bisa bertemu didaratan pertama aku melihat senja” ia berlalu, aku tak tahu bagaimana harus mencegahnya. Haruskah ku pegang ia? jangan, kata sisi baik ku berkata. Akhirnya aku membiarkannya pergi, alamat rumah? aku akan mencari sendiri. Gili nanggu, terletak di kecamatan Sekotong Barat. Aku menyinggahi beberapa daratan disana dan bertanya “apa ada seorang perempuan bercadar bernama Arum disini?” hasilnya nihil, besok pekan terakhir libur kuliah. Mungkin sudah saatnya menyerah, batinku. Pemikiran pesimis mulai menyergap perasaan, dan akhirnya aku memutuskan untuk berlibur di akhir pekan ini. Aku akan menjumpai senja di bukit Medang, dan bertanya “apakah keindahannya pernah dinikmati oleh seorang gadis yang bernama sama dengan dirinya, Senja Arum.”

Sore itu di bukit Medang, desain alam yang sangat sempurna. Allah memang arsitek yang luar biasa, meletakkan sesuatu tanpa sia-sia. Senja yang sangat indah, berbalut pohon kelapa dan pantai yang berbatu dengan riak yang terdengar mengalun seolah berirama. Senja akan selalu mengingatkan ku padanya, pada indah mata sipitnya, pada lembut suaranya, pada syahdu rangkaian kalimatnya. 

“aku lebih senang menikmati senja dengan warna putih, karena aku ingin terlihat ceria di sendunya senja”-Senja Arum-

“Aruuuuuuuuuuuum” teriak ku

Aku hampir jatuh karena terpeleset, “hati-hati”. Arum? ternyata senja disini ini terlihat indah karena ada penikmat setianya. Aku turun secepat yang ku bisa, 

“tidak apa-apa?” tanyanya saat aku berada didepannya. 

Ia mengajak ku kerumahnya, kita berjalan beriringan. Ia menunduk, aku tak akan mengatakan ia telah kehilangan sesuatu, karena aku mengerti perempuan bercadarpun harus menjaga pandangannya. Agar tak terlalu kaku, aku membuka pembicaraan. 

“rumah mu dimana?”

“kita hanya perlu menelusuri pesisir dan beberapa bidang tambak, rumah ku disana, yang ada peranginannya” ia menunjuk sebuah rumah yang bercat hijau.

“emmm” kata ku mengiakan

“kau sedang apa disini?” aku tersenyum, akhirnya ia penasaran juga. 

“bukankah kau ingin bertemu dengan ku didaratan pertama kau melihat senja, dan aku sedang melakukan itu. Berusaha memenuhi ingin mu” semoga ia mendengarnya bukan seperti gombalan, karena ini fakta bukan rayuan. 

“rasanya aku ingin menenggelamkan diri ku ke lautan ini” katanya membuat ku bingung

“kenapa?” tanyaku

“karena kau telah mencuri senja ku, kau tahu, aku sangat ingin mendaki bukit itu. Tapi karena aku takut ketinggian, jadi tak pernah bisa tergapai. Di menara Hubbul Wathan kemarin aku memberanikan diri, karena aku punya teman” 

Alhamdulillah, betapa lega rasanya. Ku fikir ia ingin menenggelamkan dirinya karena ada kata-kata ku yang salah. 

“aku akan menemani mu mendakinya, akan mengembalikan senja mu. Tapi berikan aku senja yang lain” 

“diseluruh pesisir ini kita bisa menikmati senja, tapi senja yang paling indah di pesisir gili nanggu. Aku akan mengajak mu kesana” jawabnya berusaha menegosiasi.

“berikan aku senja yang bukan hanya bisa ku lihat, tapi juga senja yang bisa ku miliki. Senja yang nyata, ratunya para senja” mungkin ia mengerti maksud ku, ia tak menanggapi dan mengalihkan pembicaraan.

“ini rumah ku, silahkan sholat terlebih dahulu” 

Setelah selesai sholat ia mempersilahkan ku duduk diperanginan depan rumahnya, suasana malam disini sangat indah. 

 “sebentar lagi ayah dan ibu keluar, jangan tambah dosa dengan berduaan di tengah malam yang remang-remang” ia menyadarkan ku dari lamunan akan malam ini.

Ayah, ibu? aku tak tahu harus berbicara apa. Aku ingin bertemu dengannya, bukan dengan ayah ibunya. Menghalalkannya? mungkin belum saatnya. 

Warning !! 17+ :D

Mengakhiri libuaran kemarin dirumahnya, akan menjadi sebuah cerita yang sangat berharga. Orang tuanya sangat ramah, tidak mendoktrin laki-laki yang bertamu adalah calon pasangan anaknya. Ayahnya seorang pensiunan guru, dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang membuka warung didepan rumah. Kadang ia mengabaikan ku karena sedang asik mengobrol dengan orang tuanya, dan aku hanya mencuri dengar.

“ayah, anak-anak di sekolah bilang ‘tangan ibu guru lembut’”

memang tangan anak ayah lembut”

Lalu mereka tertawa berempat, ia, ayah ibunya dan satu adiknya. Keluarga yang hangat, aku hanya tersenyum membayangkan akan berkeluarga dengannya. Perempuan itu bisa kau kenali ia lebih dekat dirumahnya, seperti apa ia diluar itu hanya perlindungan diri. Karena tidak ada tempat ternyamann bagi perempuan selain dirumah.

Setelah malam itu aku kembali kerutinitas awal, menjadi seorang mahasiswa tingkat tiga. Kita semakin akrab karena sering berbincang melalui sosial media, namun ia telah membuat aturan “jangan chat jika itu hal yang tidak berguna, karena sudah pasti tidak akan ku balas. Apapun bentuknya, bagaimanapun caranya, jika hanya ada aku dan kamu tanpa ada orang lain, masuk ke kategori berkhalwat.” Aku cukup mengerti maksudnya, ia ingin menjaga diri. Aku mengirim pesan padanya jika hanya ada sesuatu yang ingin ku ketahui tentangnya. 

Sedikit tentang diri ku, aku seorang laki-laki yang berumur 21 tahun. Muda, namun mempunyai wajah dewasa. Bukan hanya wajah, tapi pemikiran pun begitu. Aku mengambil jurusan tehnik computer dan jaringan karena jantung ku selalu berdebar saat melihat computer, mungkin itu yang disebut dengan minat. Aku sudah mempunyai rumah, kuliah dengan biaya sendiri, aku mendapatkan uang dengan jual beli mata uang asing. Jika boleh jujur, Allah menitipkan ku banyak rejeki. Namun aku tak ingin terlalu mencolok, takut mendekati sombong. Iblis pun terusir dari surga karena rasa sombongnya.

Lima bulan, aku tak pernah menghubunginya. Aku pernah bertanya “jika aku meminta mu menunggu enam bulan lagi, apa kau mampu?” in syaa Allah, jawaban yang sudah ku duga. Aku juga pernah bertanya, seperti apa rumah impiannya, apa hal-hal yang ingin ia kerjakan saat menikah, dan kini aku tengah membangun itu untuknya. Bulan ke enam ditahun ini, tepatnya bulan syawal. Aku datang membawa orang tua ku kerumahnya, perbincangan orang tua pun terjadi, aku hampir gagal menikah dengannya, hanya karena usia ku satu tahun dibawahnya. Dia yang sedari tadi terdiam, akhirnya mengambil suara “ayah, ibu, jika hanya karena usia bukankah itu alasan yang kurang etis. Coba kita lihat Nabi Muhammad SAW dengan ibunda Khadijah”. Lalu mereka semua terdiam, dan merestui hubungan kami.

Menikah sambil kuliah bagi ku tak ada beratnya, cukup kau mencari pasangan yang mengerti maka pernikahan, maka pernikahan impian pun tidak akan mustahil untuk kau gapai. Kami termasuk pasangan muda, sehingga belum ada banyak kerabat yang perlu di undang. Hanya kerabat orang tua dan beberapa teman dekat, namun khusus teman ku tidak aku beri tahu. Aku tidak terlalu suka memamerkan apa yang ku punya. Menikah benar-benar membuat mu merasa nyaman, serasa semuanya tergenapi. Beribadah berdua, wisata berdua, terlebih kau mempunyai teman sebagai penutup dan pembuka hari mu. Awal menikah ia pernah berkata

“akhirnya, Fajar dan Senja bisa bersama”

Dan aku menimpali

“aku tak perlu menunggu sore hanya untuk melihat senja, karena kini senja sudah berada didalam pelukan”

aku mengecup keningnya, dan memulai malam pertama. Pengantin baru mana yang ingin menunda malam indahnya, tapi tiba-tiba ia menghentikan ku

“jangan lupa baca doa dulu”

aku hampir lupa, lalu ku bacakan doa di ubun-ubunnya agar setetes keringat pun bernilai pahala. Eksekusi di mulai.


-END-

Ditulis, Ferbuari 2018


Minggu, 01 Oktober 2023

Bukankah Lelah Itu Berwujud ?



Sebenarnya, aku hanya mengingikan sebuah kehidupan yang sederhana. Aku ingin bekerja enam hari dalam seminggu, aku ingin sepulang kerja tidak ada pekerjaan yang dibawa pulang ke rumah, apalagi sampai memikirkannya hingga membuat tidak nyenyak tidur. Aku ingin bekerja dengan tenang, tanpa banyak teman, tanpa tekanan laporan yang akan merugikan orang lain. Aku ingin bekerja diwaktu kerja, lalu sisanya aku ingin menikmati hidup dengan beribadah dan hal-hal lain yang mungkin aku sukai. misal seperti menonton drama yang aku suka, membaca buku yang aku gemari, menulis cerita. 

Sebuah kehidupan sederhana versi ku, pagi bekerja, lalu pulang jam tiga siang, kemudian istirahat sembari menunggu adzan asar. Membantu ibu membersihkan halaman, menyapu dan menyiram. Mandi, membaca buku, menulis atau memainkan ponsel entah untuk mendengar kajian, video motivasi, bahkan ngestalking teman-teman di sosial media. Saat malam tiba, menunaikan sholat magrib, mengaji sembari membaca terjemahan Al Qur'an. Menunaikan sholat isya, disini ada waktu luang lagi sembari menunggu jam 09.30 untuk tidur. jeda waktu luang bisa diisi seperti waktu-waktu luang di atas, misal melanjutkan membaca buku, bermain hp, menulis menonton. Alangkah baiknya, mempunyai agenda yang lebih produktif. Seperti mengobrol dengan orang tua atau saudara, membuat sebuah topik untuk diperbincangkan. Tidur di awal waktu, dapat membuat kita disiplin dalam menjalankan sholat malam/tahajjud. Memuji, memohon dan meminta. Memuji Tuhan, memohon ampun dan meminta apa yang kita ingin. Benar-benar hidup sederhana, lalu bertemu pagi, bekerja seperti biasa, memutar hari tanpa ambisi dunia. 

Sebuah kehidupan sederhana versi kedua ku, siang sekitar jam 02.30 berangkat kerja, lalu pulang jam 10.00 atau 09.30 malam. Aku biasanya tidak sholat isya ditempat bekerja, lebih menikmati sholat di rumah. Lalu melanjutkan dengan membaca Al Qur'an, jika masih ada tersisa waktu melanjutkan dengan membaca terjemahannya. Saat badan terlalu lelah, kadang tak bisa tenaga sampai menyentuh terjemahannya. Melanjutkan tidur, untuk bersiap sholat malam. Saat mendapat jam kerja di siang hari, pagi bisa diisi dengan membantu orang tua mencuci piring, menyapu atau bahkan mencuci pakaian sendiri. Lalu diisi dengan membaca buku, atau menonton video motivasi dan tausiah. 

Ya, itulah dua hidup sederhana versiku. Tanpa terlalu berambisi akan dunia, dan tanpa gila mode serta gaya hidup. Aku lebih senang menikmati hidup dengan apa adanya, sederhana, namun bermakna dan ringan. Aku tak ingin punya banyak uang, cukup bisa membiayai kebutuhan sehari-hari, bisa membeli buku sekali setiap gajian, bisa membeli baju sesekali, bisa membantu kebutuhan dapur orang tua atau uang jajajn adek, bagiku hidup seperti itu sudah cukup. Saat aku bekerja di sebuah instansi swasta dengan gaji 1.2 juta, aku bisa menganggarkannya 200 untuk membantu uang sekolah adek, 300 ribu untuk ibu, lalu sisanya 700 ribu bisa untuk aku bertahan sampai gajian. Aku tipe orang yang sulit percaya sebuah kata-kata yang mungkin ada hubungannya dengan agama, namun entah mengapa, aku percya dengan kalimat

"semakin banyak pemasukan, maka semakin banyak pula pengeluaran"

saat aku bergaji 1.2 juta, maka semua kebutuhan sampai gajian bulan depan bisa tercover. Namun saat aku bergaji 4.5 juta, semua kebutuhan tercover dan uang itu juga habis. Bukankah hidup dengan gaji 1.2 juta dan gaji 4.5 juta sama saja, bahkan saat bergaji 1.2 juta kita mendapat nilai plus, yakni sebuah ketenangan menjalani hari-hari, tak ada laporan yang menekan, tak ada rekan kerja yang membebani, tak ada aturan-aturan goblok yang mengikat. Hidup dengan gaji 4.5 juta juga punya nilai plus, namun palsu. saat bergaji 4.5 juta, bergengsi dengan seragam dan atas nama Pegawa Negeri Sipil (PNS), namun tak dapat tidur nyenyak memikirkan pekerjaan, tak jarang membawa pekerjaan pulang ke rumah, bahkan saat hari libur dihubungi atasan untuk menyelesaikan laporan yang tak bisa diselesaikan di jam kerja, belum mengurus rekan kerja yang membutuhkan laporan pada kita. Bekerja di instansi pemerintah adalah sistem kerja jejaring yang sangat besar. Bukan lagi tentang berhubungan dengan satu orang dengan orang lain, melainkan berhubungan dengan satu unit dengan unit lain, berhubungan dengan instansi satu dengan instansi lain, belum berhubungan dengan orang-orang diluar pemerintah, seperti rekanan luar, para pedagang atau percetakan. 

Namun seperti sebuah pernikahan, bahwa dalam pernikahan bukan hanya tentang aku atau dia, tapi juga ada keluarga ku dan juga keluarganya. begitu juga hidup, bukan hanya tentang ku saja, melainkan ada ingin orang tua yang harus diwujudkan. Ada kesuksesan yang mereka impikan didalam diri anak-anaknya, mengabaikan itu disaat kita dianggap mampu, hanya akan memberi kesakitan pada diri sendiri, hanya akan memberi penyesalan saat ditinggal lebih dulu dari dunia. Hingga akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, hidup sederhana itu tidak ada bagi anak-anak yang tak berani melawan dirinya sendiri, yang tak berani memberikan pembuktian kesuksesan berdasarkan apa yang mereka inginkan. 

Tak ada orang tua yang ingin anaknya menderita, tak ada orang tua yang ingin anaknya sengsara. Semua orang tua ingin anaknya sukses dan berhasil, namun sangat jarang ada orang tua yang memahami, hidup seperti apa yang anaknya inginkan. Meskipun begitu, dalam kasus hidupku, aku bukan korban dari orang tua ku, aku adalah korban dari diriku sendiri. 

Bukankah aku terlihat begitu lelah ? ini adalah wujud lelahku.


Sabtu, 05 Agustus 2023

GRUP CHAT


______💜______

Sore itu, saat metik mangga di halaman rumah, HP berbunyi. Aku di undang masuk ke sebuah grup chat di WA, sebuah grup chat dengan nama 'Ikatan Mahasiswa'. Awalnya aku mengiri, bahwa grup ini sebagai inisiasi atau pembentukan kembali karang taruna yang bahkan selama aku remaja tidak pernah melihat tanda-tanda pergerakan dari karang taruna. Namun begitu melihat isinya, grup itu tidak hanya beranggotakan para pemuda yang kuliah atau yang sudah wisuda, melainkan juga mereka yang sudah berkeluarga/menikah. Hingga hilang sudah bayangan bahwa desa akan punya karang taruna aktif.

Tidak sampai di situ, aku penasaran apa tujuan dari pembentukan grup ini. Benar-benar blur, bahkan tak ada sepatah dua patah kata pun pada kolom diskripsi. Aku bertanya pada seorang admin

"Mohon maaf, tujuan dibentuknya grup itu apa ya?"

Lalu aku diberi jawaban, tidak bisa mengerti, namun mencoba memahami bahwa segala sesuatu tidak harus sat set sat set. Dalam fikiranku, seharusnya jika ingin melakukan sebuah gebrakan, maka sudah sepatutnya dipersiapkan hal-hal dasar beserta strateginya. Misal, sebelum memulai di sosial media, alangkah lebih baik membentuk tim kerja inti. Meski sekuat apapun media sosial, hal nyata itu juga masih sangat penting. Dalam kasus ini, pembuatan grup ikatan mahasiswa tingkat desa. Bagaimana jika langkah awalnya itu, mengumpulkan atau mengundang setidaknya satu mahasiswa perwakilan masing-masing dusun. Lalu disana, sampaikanlah niat, harapan dan segala macamnya.

"Saya ingin membuat grup Ikatan Mahasiswa desa, tujuannya untuk menjadi penggerak dari karang taruna yang sedang saya coba untuk hidupkan kembali. Tentunya disini saya tidak bisa bekerja sendiri, karenanya, mari kita bentuk tim dan samakan persepsi yang selanjutnya akan kita jadikan visi misi"

Begitu kesepakatan sudah ada, baru lah sekumpulan mereka bergerak. Ingin memulai dari membuat grup chat WA, maka akan dengan mudah mengkoordinirnya. Masing-masing perwakilan dusun memasukkan teman-teman yang berkuliah ke dalam grup WA, sehingga akan dapat data valid. Berapa anggota dari dusun A, B, C, dan D, mudah dalam pengumpulan datanya. Tentu pada deskripsi grup, sudah terpampang tujuan dan visi misinya. Berembuk visi misi ? Rapat visi misi ? Tidak perlu lagi. Nanti ada yang membangkan ? Tentu tidak, karena sebelumnya juga harus dibahasakan pada undangan saat mengajak rapat para pemuda perwakilan dusun.

"Besok datang ke rumah ya, dalam rangka mengaktifkan kembali karang taruna yang sebagai penggerak utama adalah para sarjana. Jika memungkinkan, koordinasi dengan teman-teman yang ada disana"

Jadi si perwakilan dusun ini juga sudah bilang sama teman-teman yang ada didusunnya,

"Gaes, besok ada undangan rapat dari si B dalam rangka mengaktifkan kembali karang taruna. Akan menyamakan tujuan visi misi dan segala macamnya, jika ada yang ingin ikut silahkan, jika tidak ada maka tidak apa-apa, dan jika ada yang ingin disampaikan tapi berhalangan hadir, bisa titipkan usulannya sama saya untuk dibahas bersama nanti"

Dengan begitu, saat grup chat WA terbentuk, tak ada lagi yang menanyakan tujuan visi misinya apa. Melainkan akan menanyakan program-program kerjanya, kalau pun ada yang bertanya tentang tujuan dan visi misa, paling hanya menanyakan maksud dari point A, B, C apa.

_____💜______

Namun semua itu sudah terjadi, yang didahului adalah grup chat tanpa berkoordinasi lebih dulu. Berandai-andai tak akan menyelesaikan yang sudah terjadi, sekarang tugasnya adalah mencari solusi. Bagaimana caranya agar grup chat tersebut aktif, hidup, dan bermanfaat. Sebab kenapa, banyak para anggota grup bertanya dan berkata

"Tujuan grup ini apa ?"

"Visi misi grup ini apa ?"

"Ujung-ujungnya nanti grup ini akan menjadi grup terbengkalai dan mati"

"Grup apa lagi ini, sudah kebanyakan grup"

"Grup gag jelas"

Terlepas dari harapan-harapan dan angan-angan ku di atas, kita kembali ke realita, bahwa seharusnya tidak begitu seorang mahasiswa yang terhimpun dalam satu desa yang sama. Mahasiswa harus bisa melepaskan rasa kepemilikan, entah 'kepemilikan saya' atau 'kepemilikan dia'.

Berdasrkan analisis ku, di grup itu terdiri dari mahasiswa yang menganut sistem

"Kan dia jadi depan, jadi tugasnya dia"

"Kan bukan saya adminnya"

"Bukan saya yang buat grup, jadi, biarkan saja dah dia yang ngurus"

Karenanya grup sepi, mahasiswanya mungkin berfikir seperti itu. Seharusnya lepas rasa 'kepemilikan dia', misal

"Kita satu desa, sudah seharusnya saya hidupkan grupnya"

Maka dengan begitu, grup chat akan terasa  jelas sembari menunggu hal-hal yang lebih jelas lagi.

Bukan begitu ?

_____💜_____

Rabu, 26 Juli 2023

Saat Usiamu 25 Nanti

 


Apa kabar ? Ada disini yang usianya 25 tahun, atau mungkin yang sedang berjalan menuju angka itu, atau yang sama denganku, yang sudah melebihi angka itu ? 


Saat usia 25 tahun, aku lulus menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil. Saat usia 25 tahun, aku belum menikah sementara teman-teman sudah menggendong anak. Aku iri, namun seiring berjalan waktu, takdir menyibak sedikit demi sedikit kebaikan Allah yang tidak bisa aku lihat.


Saat usia belum 25 tahun, bagaimana jika aku menikah. Apakah aku bisa menjadi PNS ? Mungkin saja tidak, meski mungkin juga bisa. Namun satu yang aku sadari, kita punya porsi hidup masing-masing. Aku lulus CPNS meski jodohnya datang lebih lama, teman jodohnya datang lebih awal, namun berakhir tidak kuliah. 


Teman-teman bahagia hanya tinggal di rumah, membesarkan anak, meraup pahala. Namun aku, banting tulang menafkahi diri sendiri. Ternyata, teman-teman yang sudah menikah pun memikirkan keuangan keluarga. Saat keuangan itu drop, ia juga harus bekerja dengan ijazah seadanya. Sedang aku sudah bekerja, penghasilan stabil, sedikit tidak, bisa membantu perekonomian saat membangun rumah tangga nanti. 


Lagi, ini bukan tentang membandingkan. Ini tentang bagaimana kita harus berfikir luas, saat nanti usia sudah 25 tahun. Sebab, akan banyak penghakiman dari orang-orang tanpa gelar hukum.


"Kapan nikah?"


"Kenapa belum juga nikah?"


"Sudah sarjana kok belum kerja!"


"Sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya jadi pengangguran"


Saat usiamu 25 nanti, apapun yang terjadi, percayalah itu sudah tertakar. Sudah ada sisi baiknya, cobalah untuk menyibak tabir rahasianya. Terima, maknai.



Senin, 01 Mei 2023

FACE



Kenapa belum menikah?

Kapan akan menikah?

Temen-temannya sudah menikah semua?

Pemilih ya?

Kasihan dia, belum menikah!

Dia menikah saja dengan cowok itu!

_________💜________

Aku pernah dikenalkan pada laki-laki oleh teman kajian, aku merasa cocok dan dia pun sama. Namun ketika melihat wajahku, tiba-tiba ia berkata bahwa kita tidak cocok. Lalu pergi, dan satu tahun kemudian dia menikah.

Aku juga pernah dikenalkan pada laki-laki oleh teman kuliah, kita nyambung saat berbicara. Hanya saja tidak pernah bertemu, aku tak ingin terlalu nyaman. Belajar dari pengalaman kemarin, aku berinisiatif mengirimkannya foto. Lalu setelah itu, tidak ada chat di antara kita.

Dua kali, aku sudah tidak ingin dikenalkan meski masih banyak teman yang menawarkan. Aku akan memilih sendiri, sesuai inginku. Namun aku tak banyak bergaul, tak punya sircle teman laki-laki. Usia semakin betambah, pertanyaan 'kapan menikah' makin sering terdengar. Terlebih saat teman main terakhir juga menikah.

Bukan mati rasa, hanya malas merasa. Seperti, sudah tahu endingnya. Namun beberapa waktu lalu, seorang teman kerja meminta ijin untuk mengenalkanku pada seorang laki-laki yang berprofesi sebagai Apoteker dengan pendidikan terakhir Strata dua. Aku mencoba sekali lagi, mungkin ia merasa cocok dari biodata yang aku tulis. Tak ada yang spesial, aku menulis sejujur-jujurnya, bahkan tentang wajah. 'Aku mempunyai wajah dgn bibir yg tak rata, TIC facial dextra sebutannya'.

Setelah bertukar biodata, teman menyampaikan, ingin melihat wajah. Aku mengirimkannya, sesuai dugaan, teman berkata

"Cantik, tapi ia ingin membicarakan dulu dengan orangtuanya"

Aku tertawa, padahal itu alasan untuk menolak.

Aku memang tidak pernah bisa mendapatkan laki-laki sendiri, selalu dari teman, selalu dikenalkan. Hanya sekali, aku bisa mengenal laki-laki secara langsung. Dia teman sekolah, seorang laki-laki yang aku cinta selama masa sekolah. Terjeda selama masa perkuliahan, lalu takdir membuat rasa itu kembali, tentu dengan aku yang menghubungi lebih dulu.

Menghubunginya lagi penuh pertimbangan 

"rasa itu gag akan kembali lagi kan, gag mungkin kan" setelah yakin aku bisa mengendalikan diri, barulah aku mengirimkannya pesan singkat. 

Aku menghubunginya karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Namun ternyata salah, aku jatuh untuk kedua kalinya pada laki-laki yang sama. Ketahuilah, ini juga cinta sebelah pihak. Cinta yang juga tertolak karena wajah.

Aku mencintainya sangat dalam, hingga aku merasa, tak akan bisa melupakannya. Aku mengajaknya menikah, meski aku tahu ia tak ada rumah, aku tak masalah tinggal dengan mertua. Aku mengenal diriku, aku bisa beradaptasi, aku bisa membuat mereka nyaman dengan ku. Hingga tak masalah, jika memang harus tinggal bersama.

Dia bukan seorang sarjana, aku tetap memintanya untuk menikah denganku, ia hanya tidak kuliah tapi bukan berarti dia bodoh, lagi pula gen otak anak di ambil dari gen ibu. Meski aku tidak pintar, namun aku tidak keberatan jika nanti anak-anak ku mewariskan otak atau cara berfikirku.

Bahkan saat aku tahu dia tak mempunyai pekerjaan, aku tetap mau menikah dengannya. Aku merasa, gaji PNS bisa untuk hidup, asal jangan untuk memenuhi gaya hidup. Intinya, aku buta saat itu. Aku menerima semua kurangnya, aku menerima ia yang seorang perokok, aku menerima ia dengan rambut gondrongnya. Aku menerima ia dengan dirinya, hanya saja aku tak punya wajah yang ia cari.

Aku berfikir, aku harus melupakannya. Teman-teman juga berkata, bahwa aku harus move on. Mereka memberi saran, dengan menyibukkan diri kita bisa cepat melupakan seseorang. Memang benar, saat tugas negara begitu banyak, aku lupa. Namun saat sepi melanda, aku teringat kembali. Ingin menghubungi, atau memberi kode agar ia yang menghubungi.

Dari saran teman-teman, tak ada satu cara pun yang benar-benar bisa membuatku melupakannya. Bahkan dengan cara mencari keburukannya sekali pun, bukankah aku sudah mengatakan, aku menerima baik dan buruknya, kurang lebihnya. Sebenarnya, aku tahu satu cara move on paling cocok untuk ku, hanya saja aku tak mau melakukan dengan cara itu.

Setiap keluar, atau saat bertemu dengannya, aku merasa tidak dihargai, bahkan sebagai teman. Padahal ia yang sering berkata 

"kita temanan saja" namun nyatanya ia tak bisa memperlakukanku seperti temannya.

Aku melihat, ia memperlakukan ku seperti seorang yang malu terhadap orang lain. Ia malu bersama dengan ku, kenapa harus malu jika kita  berteman. Mau jelek atau buruk rupa, tak pernah ada teman yang malu dengan temannya.

Perlakuan seperti itu yang tidak pernah bisa aku terima, hingga akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan cara terakhir. Sebuah cara yang cocok untukku melupakan segala hal-hal tak baik yang ingin aku lupakan, salah satunya cinta dan laki-laki. Menjadi fangirl, kebetulan saat itu juga tengah viral salah satu member BTS 'Jeon Jungkook' yang membawakan main song untuk pembukaan piala dunia Qatar.

Aku mencari tahu tentang mereka, hingga aku tahu tentang fakta bahwa mereka terkenal bukan hanya karena wajah 'plastik' yang kata kebanyakan orang. Namun lebih dari itu, mereka terkenal karena perjuangannya, kerja keras dan prestasinya. Mereka mulai dari agensi atau perusahaan kecil, lalu tumbuh dan melahirkan banyak karya yang membuatku terpesona.

Kata teman "jangan jadi anak kpopers, jangan menggilai oppa-oppa, kafir."

Aku bukan kpopers, aku bukan penggemar, aku juga tak mengidolakan mereka. Aku menganggap mereka teman, apa tak boleh berteman dengan yang beda agama? Saat duduk di bangku kuliah atau saat berada di dunia kerja, kita bebas berteman dengan siapa saja, termasuk dengan mereka yang berbeda agama. Lantas sekarang, mengapa tak boleh berteman dengan BTS?

Karena gag pernah bertemu? Ini pertemanan virtual, teman online.

Sekarang, untuk dia yang pernah aku cintai sangat dalam. Untuk dia yang sempat aku terima baik buruk kurang lebihnya, sudah tidak ada apa-apa dihati, hidup, dan fikiran. Bahkan aku berfikir 

"kok bibirnya hitam, kok rambutnya gag cocok, kok kulitnya jadi gelap, kok gag bersih, kok gag cakep seperti dulu."

Memang benar quotes yang berbunyi 'bukan tampan yang membuat cinta, tapi cintalah yang membuat seseorang terlihat tampan'.

Ternyata selama ini, aku memang mencintainya dengan tulus, bukan karena fisik atau wajah. Cintaku membuat ia terlihat tampan, cintaku membuat ia terlihat sempurna. Buktinya, setelah cinta itu tak ada, ia tak terlihat tampan, ia cacat. Detik ini, jangankan buruk dan kurangnya, baik dan lebihnya saja aku tak bisa terima.

________💜________

 "Kita berteman saja"

Ya, seperti inilah aku berteman. Cuek, bukan prioritas, respect hanya ketika ingin. 

Sedikit Quotes yang aku petik dari kutipan leader BTS

"Bahkan jika kamu tidak sempurna, kamu adalah edisi terbatas" -Kim Namjoon-

Bagaimana pun keadaan wajahku, meski bibir tak rata dan simetris. Aku adalah edisi terbatas, aku limitid edition, aku satu-satunya yang Allah ciptakan seperti ini. Aku langka, dan ini bukan kekurangan, tapi keunikan. Aku unik! Ini adalah wajah yang paling pas untuk ku, sebab Allah adalah sebaik-baiknya pencipta.


______To Be Continue 💜______

Jumat, 10 Maret 2023

Flash Fiction

 


"Kencan yuk, ke perpustakaan"

Lalu dia duduk dengan bukunya, aku pun asik dengan bacaanku. Satu jam setengah tanpa obrolan, dia berkata

"Sudah selesai?"

"Belum" jawabku.

"Pinjem aja, lanjut baca dirumah"

Setelah itu, kita berjalan menuju parkiran.

"Mw kencan kemana lagi?"

"Pantai?"

"Boleh"

Sesampai disana, dia bertanya tentang buku yg aku baca.

"Buku apa yg kau baca?"

"Buku fiqih wanita"

"Bukankah itu sudah kau khatam"

"Baca ulang, agar tambah mantap. Bukankah banyak juga para ulama yg suka membaca satu buku lebih dari sekali"

"Benar, di buku Gila Baca Ala Ulama aku pernah membaca itu. Bahkan ada quotes yg aku suka, membaca satu buku sebanyak tiga kali lebih bermanfaat dari pada membaca tiga buku dengan sekali baca"

Aku tersenyum, sambil berkata 

"aku suka"

"Aku tahu" timpalnya.

"Apa yg kau tahu?"

"Kau menyukaiku"

Dari senyum, menjadi tawa. Dia memang paling hebat, dalam hal membuatku bahagia.

"Tapi bukan itu, aku suka kau yg mampu mengingat isi dari buku yg kau baca, meski kau lakukan hanya sekali"

"Itu nilai lebihku sehingga membuat lisanmu tak berat berkata 'iya' saat aku mengajakmu menikah"

Aku merangkul lengannya, menyandarkan kepalaku dibahunya. Entah kapan senja akan datang.

_________________

Selasa, 03 Januari 2023

SENJA DI HUBBULWATHAN

Bertemu kembali tanpa sengaja, setelah melewati banyak senja di tempat yang berbeda. Banyak kata yang terjalin dipertemuan pertama, salah satunya cinta.

"apa kau sudah mempunyai seseorang yang kau cintai?"

"iya"

"seorang laki-laki?"

"tentu saja"

"siapa?"

"aku tidak bisa menjelaskan detailnya, mungkin hanya inisial namanya saja"

"boleh, tidak apa-apa"

"inisial M"

"Muhammad?"

Aku terdiam

"kenapa kau tidak ingin menikah dengan ku?" lanjutnya.

"sudah berapa kali aku katakan, aku tidak menemukanmu dalam istikharahku."

"tapi aku menemukanmu"

"sudahlah Joe"

"baiklah, aku tidak ingin membuatmu terbebani dipertemuan ini. Ada hal-hal lain yang ingin kau bicarakan dengan ku?"

"Joe, jika waktu bisa berputar ke masa lalu. Kau ingin kembali ke masa yang mana?"

"aku ingin berada pada masa dimana kau pertama kali mengenal cinta"

"aku tahu arah pembicaraanmu"

"jika waktu bisa berputar ke masa lalu, kau ingin kembali ke masa yang mana?"

ia mengajukan pertanyaan yang sama padaku

"aku memang tidak ingin berada di masa ini, tapi aku juga tidak ingin kembali ke masa lalu"

"lantas?"

"aku ingin, menjadi tidak pernah dilahirkan"


Aku dan Joe, dua yang hampir menjadi satu. Kita, cinta yang terjebak pada mimpi yang berbeda. Disini bukan cinta yang salah, hanya saja waktu yang terlalu tangguh memainkan perannya. Selepas bertemu tanpa sengaja dipelataran Hubbulwathan, untuk kedua kalinya, lagi-lagi kita dipertemukan saat senja sedang indah-indahnya. Sudah menjadi kebiasaan, kita suka menghiasi pertemuan dengan obrolan.

Katanya "jika kita tak bisa memberi kenang-kenangan berupa benda, setidaknya kita bisa membuat kenangan dengan kata."

Benar, menjalin kata dengannya adalah kenangan yang tak bisa dilupakan. 

Aku: Joe, aku ingin membangun sebuah rumah.

Joe: untuk apa, bukankah kau sudah mempunyai rumah?

Aku: iya, di dunia. Tapi sepertinya aku tak punya rumah di surga, aku sedih Joe.

Joe: lantas aku harus bagaimana?

Aku: bantu aku

Joe: apa yang bisa aku bantu?

Aku: aku seorang perempuan, aku tak mengerti tentang dunia pertukangan dan bangunan.

Joe: lalu, apa kau menganggap aku mengerti?

Aku: kau arsitek

Joe: astaga, aku hampir lupa.

Aku: kau bukan hampir lupa, tapi kau memang lupa.

Joe: karena perkataanmu membuatku terjebak didalam fikiranku sendiri.

Aku: fikiran tentang apa?

Joe: fikiran tentang bagaimana jika aku tidak mempunyai tempat di surga, bagaimana jika tak ada rumahku disana. Fikiran tentang, aku terlalu sibuk mendesain rumah untuk dunia, namun tak pernah terfikir mendesain sebuah rumah mewah di surga.