Aku penasaran, seperti apa isi sosial media perempuan bercadar. Malam sabtu kemarin kebetulan aku sangat suntuk, akhirnya aku melakukan hacking pada sebuah akun facebook milik perempuan bercadar. Sangat mengejutkan, dari semua akun yang pernah ku retas passwordnya akun ini yang paling bersih. Mulai dari foto-foto, dan grup-grup chating lainnya. Aku berfikir, ini hanya hacking sederhana. Semua orang pasti bisa memulihkan akun ini, jadi aku tidak akan merasa bersalah kepada perempuan bercadar yang telah kuretas akunnya. Tiga hari kemudian aku memeriksa akun itu, apakah ia sudah memulihkan akunnya atau belum. Dan ternyata ada hal menarik yang kutemui, ia mengirim pesan pada akunnya sendiri menggunakan akun facebook lain.
“assalamu’alaikum, bisa saya minta tolong kembalikan akun facebook saya. Disana sudah banyak teman-teman saya, terimakasih sebelumnya.”
Rasa penasaran tentang apa isi akun sosial media perempuan bercadar kini telah tuntas, namun ada hal lain lagi yang memancing rasa penasaran ku, seperti apa pemilik akun ini. Dia membuatku merasa seperti orang yang benar-benar jahat, akun facebooknya sudah diretas namun sopan santun tidak ia kesampingkan. Tak ingin berlama-lama, aku pun membalas pesannya.
“ijinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan dulu” pinta ku
“silahkan, jika aku mampu pasti akan ku jawab” balasnya
“nama mu siapa? alamat rumah mu dimana? kegiatan mu sekarang apa? dan tanggal lahir mu berapa?” entahlah kenapa aku ingin bertanya hal-hal seperti itu, yang jelas aku hanya ingin tahu.
“nama ku Senja Arum, aku dari Lombok Barat provinsi Nusa Tenggara barat, aku lulusan SI farmasi dan sekarang bekerja sebagai operator di salah satu Sekolah Dasar Negeri di kabupaten ku, aku bekerja disana karena STR TTK dan ijazah ku belum keluar sehingga tidak bisa melamar kerja di instansi farmasi. Umur ku 23 tahun, lahir di Mataram 16 maret 1994” perkenalan yang singkat, namun cukup untuk mewakili identitas diri.
“terimakasih, kita satu provinsi. Hanya saja aku dari luar Lombok, tapi sekarang aku lagi tinggal di Mataram karena sedang menempuh pendidikan starta satu tehnik komputer dan jaringan. Jika ingin akun facebook mu kemabli, boleh kita bertemu?” setelah pesan itu terkirim, aku baru berfikir ‘manusia macam apa aku, sudah meretas akun orang lalu memintanya untuk bertemu’ aku berniat, meski ia menolak untuk bertemu, namun aku akan tetap mengembalikan akunnya.
“kita bertemu di menara Masjid Hubbul Wathan Mataram, hari Jum’at jam 5 sore” balasnya, tak ku duga.
Hari pertemuan tiba, Jum’at sore di menara Masjid Hubbul Wathan Mataram. Aku sudah tiba di menara masjid, tiba-tiba handphone ku berbunyi “maaf, mungkin aku akan telat. Aku tidak terlalu bisa memakai motor” aku tersenyum membaca pesannya, kejujurannya bisa kurasa.
“tidak apa-apa, cukup hati-hati saja” balas ku penuh perhatian, mungkin ia disana ilfil. Tapi biarlah, ini murni dari hati.
Aku tak tahu, di Lombok Barat bagian mana rumahnya sehingga ia sangat lama. Sabar, jangan terburu-buru bisik hati pada diri. Ditengah-tengah sabar itu, datanglah seorang perempuan bercadar. Bukan hitam, tapi putih. Ia menyapa lebih dulu,
“assalamu’alaikum, apa side (panggilan halus untuk ‘kamu’ dalam bahasa sasak) ini” katanya sembari menunjukkan ponselnya, sangat butut sekali. Nokia x2, padahal sekarang jamannya smartphone. Sejenis gadged dan handphone-handphone android bermerek lainnya.
“Fajar Pratama” kata ku memperkenalkan diri tanpa ingin berjabat tangan, karena aku tahu spesies seperti ini tidak ingin disentuh oleh siap pun.
Aku berfikir ia akan langsung ke inti pertemuan, meminta kembali sandi facebooknya. Tapi aku melihat matanya menyipit, tebak ku ia pasti tengah tersenyum. Ia merentangkan tangannya, memejamkan mata dan berkata “udara sore disini sangat menyejukkan”. Aku memperhatikan setiap geraknya, hingga akhirnya ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah ku “ini senja pertama ku di menara Hubbul Wathan, mau kau temani aku menikmatinya?”
Ini antara pertanyaan atau ajakan aku tahu, yang jelas aku mengiakannya. Ku pikir perempuan bercadar itu kaku dan membosankan, tapi ia mengubah persepsiku. Perempuan bercadar itu benar-benar special, mereka harus dijaga dan dilindungi. Tak pantas mendapatkan ejekan ataupun cacian !! ditengah penantiannya akan senja ia berkata
“ini senja terindah ku, karena aku takut ketinggian sehingga aku tidak pernah bisa menikmati senja selain di pantai. Aku ingin menikmati semua senja dibanyak tempat, di pegunungan, di bukit, di menara-menara masjid dan senja-senja di tempat lain. Aku ingin keliling Lombok, keliling Indonesia bahkan keliling dunia untuk menjumpai senja” setiap akhir kalimatnya ia selalu menoleh ke arah ku dengan mata menyipit, dan sungguh itu membuat ku jatuh cinta. Bukan ingin menelanjanginya, tapi ingin menghalalkannya. Lagi-lagi matanya menyipit, karena senjanya telah tiba. Namun jauh sebelum itu, aku telah menjumpai senja ku lebih dulu. Senja Arum.
Menara Hubbul Wathan, akan menjadi kenangan yang sangat indah.
Aku jatuh cinta pada pandangan kedua namun di pertemuan pertama, pertemuan yang sangat berkesan. Dipertemuan itu ia memberitahukan alamatnya, ia tinggal di Lombok Barat bagian selatan. Katanya “dari rumah ku, kau bisa menaklukkan lautan menuju gili nanggu. Disana aku di panggil Arum, semoga kita bisa bertemu didaratan pertama aku melihat senja” ia berlalu, aku tak tahu bagaimana harus mencegahnya. Haruskah ku pegang ia? jangan, kata sisi baik ku berkata. Akhirnya aku membiarkannya pergi, alamat rumah? aku akan mencari sendiri. Gili nanggu, terletak di kecamatan Sekotong Barat. Aku menyinggahi beberapa daratan disana dan bertanya “apa ada seorang perempuan bercadar bernama Arum disini?” hasilnya nihil, besok pekan terakhir libur kuliah. Mungkin sudah saatnya menyerah, batinku. Pemikiran pesimis mulai menyergap perasaan, dan akhirnya aku memutuskan untuk berlibur di akhir pekan ini. Aku akan menjumpai senja di bukit Medang, dan bertanya “apakah keindahannya pernah dinikmati oleh seorang gadis yang bernama sama dengan dirinya, Senja Arum.”
Sore itu di bukit Medang, desain alam yang sangat sempurna. Allah memang arsitek yang luar biasa, meletakkan sesuatu tanpa sia-sia. Senja yang sangat indah, berbalut pohon kelapa dan pantai yang berbatu dengan riak yang terdengar mengalun seolah berirama. Senja akan selalu mengingatkan ku padanya, pada indah mata sipitnya, pada lembut suaranya, pada syahdu rangkaian kalimatnya.
“aku lebih senang menikmati senja dengan warna putih, karena aku ingin terlihat ceria di sendunya senja”-Senja Arum-
“Aruuuuuuuuuuuum” teriak ku
Aku hampir jatuh karena terpeleset, “hati-hati”. Arum? ternyata senja disini ini terlihat indah karena ada penikmat setianya. Aku turun secepat yang ku bisa,
“tidak apa-apa?” tanyanya saat aku berada didepannya.
Ia mengajak ku kerumahnya, kita berjalan beriringan. Ia menunduk, aku tak akan mengatakan ia telah kehilangan sesuatu, karena aku mengerti perempuan bercadarpun harus menjaga pandangannya. Agar tak terlalu kaku, aku membuka pembicaraan.
“rumah mu dimana?”
“kita hanya perlu menelusuri pesisir dan beberapa bidang tambak, rumah ku disana, yang ada peranginannya” ia menunjuk sebuah rumah yang bercat hijau.
“emmm” kata ku mengiakan
“kau sedang apa disini?” aku tersenyum, akhirnya ia penasaran juga.
“bukankah kau ingin bertemu dengan ku didaratan pertama kau melihat senja, dan aku sedang melakukan itu. Berusaha memenuhi ingin mu” semoga ia mendengarnya bukan seperti gombalan, karena ini fakta bukan rayuan.
“rasanya aku ingin menenggelamkan diri ku ke lautan ini” katanya membuat ku bingung
“kenapa?” tanyaku
“karena kau telah mencuri senja ku, kau tahu, aku sangat ingin mendaki bukit itu. Tapi karena aku takut ketinggian, jadi tak pernah bisa tergapai. Di menara Hubbul Wathan kemarin aku memberanikan diri, karena aku punya teman”
Alhamdulillah, betapa lega rasanya. Ku fikir ia ingin menenggelamkan dirinya karena ada kata-kata ku yang salah.
“aku akan menemani mu mendakinya, akan mengembalikan senja mu. Tapi berikan aku senja yang lain”
“diseluruh pesisir ini kita bisa menikmati senja, tapi senja yang paling indah di pesisir gili nanggu. Aku akan mengajak mu kesana” jawabnya berusaha menegosiasi.
“berikan aku senja yang bukan hanya bisa ku lihat, tapi juga senja yang bisa ku miliki. Senja yang nyata, ratunya para senja” mungkin ia mengerti maksud ku, ia tak menanggapi dan mengalihkan pembicaraan.
“ini rumah ku, silahkan sholat terlebih dahulu”
Setelah selesai sholat ia mempersilahkan ku duduk diperanginan depan rumahnya, suasana malam disini sangat indah.
“sebentar lagi ayah dan ibu keluar, jangan tambah dosa dengan berduaan di tengah malam yang remang-remang” ia menyadarkan ku dari lamunan akan malam ini.
Ayah, ibu? aku tak tahu harus berbicara apa. Aku ingin bertemu dengannya, bukan dengan ayah ibunya. Menghalalkannya? mungkin belum saatnya.
Warning !! 17+ :D
Mengakhiri libuaran kemarin dirumahnya, akan menjadi sebuah cerita yang sangat berharga. Orang tuanya sangat ramah, tidak mendoktrin laki-laki yang bertamu adalah calon pasangan anaknya. Ayahnya seorang pensiunan guru, dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang membuka warung didepan rumah. Kadang ia mengabaikan ku karena sedang asik mengobrol dengan orang tuanya, dan aku hanya mencuri dengar.
“ayah, anak-anak di sekolah bilang ‘tangan ibu guru lembut’”
memang tangan anak ayah lembut”
Lalu mereka tertawa berempat, ia, ayah ibunya dan satu adiknya. Keluarga yang hangat, aku hanya tersenyum membayangkan akan berkeluarga dengannya. Perempuan itu bisa kau kenali ia lebih dekat dirumahnya, seperti apa ia diluar itu hanya perlindungan diri. Karena tidak ada tempat ternyamann bagi perempuan selain dirumah.
Setelah malam itu aku kembali kerutinitas awal, menjadi seorang mahasiswa tingkat tiga. Kita semakin akrab karena sering berbincang melalui sosial media, namun ia telah membuat aturan “jangan chat jika itu hal yang tidak berguna, karena sudah pasti tidak akan ku balas. Apapun bentuknya, bagaimanapun caranya, jika hanya ada aku dan kamu tanpa ada orang lain, masuk ke kategori berkhalwat.” Aku cukup mengerti maksudnya, ia ingin menjaga diri. Aku mengirim pesan padanya jika hanya ada sesuatu yang ingin ku ketahui tentangnya.
Sedikit tentang diri ku, aku seorang laki-laki yang berumur 21 tahun. Muda, namun mempunyai wajah dewasa. Bukan hanya wajah, tapi pemikiran pun begitu. Aku mengambil jurusan tehnik computer dan jaringan karena jantung ku selalu berdebar saat melihat computer, mungkin itu yang disebut dengan minat. Aku sudah mempunyai rumah, kuliah dengan biaya sendiri, aku mendapatkan uang dengan jual beli mata uang asing. Jika boleh jujur, Allah menitipkan ku banyak rejeki. Namun aku tak ingin terlalu mencolok, takut mendekati sombong. Iblis pun terusir dari surga karena rasa sombongnya.
Lima bulan, aku tak pernah menghubunginya. Aku pernah bertanya “jika aku meminta mu menunggu enam bulan lagi, apa kau mampu?” in syaa Allah, jawaban yang sudah ku duga. Aku juga pernah bertanya, seperti apa rumah impiannya, apa hal-hal yang ingin ia kerjakan saat menikah, dan kini aku tengah membangun itu untuknya. Bulan ke enam ditahun ini, tepatnya bulan syawal. Aku datang membawa orang tua ku kerumahnya, perbincangan orang tua pun terjadi, aku hampir gagal menikah dengannya, hanya karena usia ku satu tahun dibawahnya. Dia yang sedari tadi terdiam, akhirnya mengambil suara “ayah, ibu, jika hanya karena usia bukankah itu alasan yang kurang etis. Coba kita lihat Nabi Muhammad SAW dengan ibunda Khadijah”. Lalu mereka semua terdiam, dan merestui hubungan kami.
Menikah sambil kuliah bagi ku tak ada beratnya, cukup kau mencari pasangan yang mengerti maka pernikahan, maka pernikahan impian pun tidak akan mustahil untuk kau gapai. Kami termasuk pasangan muda, sehingga belum ada banyak kerabat yang perlu di undang. Hanya kerabat orang tua dan beberapa teman dekat, namun khusus teman ku tidak aku beri tahu. Aku tidak terlalu suka memamerkan apa yang ku punya. Menikah benar-benar membuat mu merasa nyaman, serasa semuanya tergenapi. Beribadah berdua, wisata berdua, terlebih kau mempunyai teman sebagai penutup dan pembuka hari mu. Awal menikah ia pernah berkata
“akhirnya, Fajar dan Senja bisa bersama”
Dan aku menimpali
“aku tak perlu menunggu sore hanya untuk melihat senja, karena kini senja sudah berada didalam pelukan”
aku mengecup keningnya, dan memulai malam pertama. Pengantin baru mana yang ingin menunda malam indahnya, tapi tiba-tiba ia menghentikan ku
“jangan lupa baca doa dulu”
aku hampir lupa, lalu ku bacakan doa di ubun-ubunnya agar setetes keringat pun bernilai pahala. Eksekusi di mulai.
-END-
Ditulis, Ferbuari 2018



.jpg)







