Sabtu, 05 Agustus 2023

GRUP CHAT


______💜______

Sore itu, saat metik mangga di halaman rumah, HP berbunyi. Aku di undang masuk ke sebuah grup chat di WA, sebuah grup chat dengan nama 'Ikatan Mahasiswa'. Awalnya aku mengiri, bahwa grup ini sebagai inisiasi atau pembentukan kembali karang taruna yang bahkan selama aku remaja tidak pernah melihat tanda-tanda pergerakan dari karang taruna. Namun begitu melihat isinya, grup itu tidak hanya beranggotakan para pemuda yang kuliah atau yang sudah wisuda, melainkan juga mereka yang sudah berkeluarga/menikah. Hingga hilang sudah bayangan bahwa desa akan punya karang taruna aktif.

Tidak sampai di situ, aku penasaran apa tujuan dari pembentukan grup ini. Benar-benar blur, bahkan tak ada sepatah dua patah kata pun pada kolom diskripsi. Aku bertanya pada seorang admin

"Mohon maaf, tujuan dibentuknya grup itu apa ya?"

Lalu aku diberi jawaban, tidak bisa mengerti, namun mencoba memahami bahwa segala sesuatu tidak harus sat set sat set. Dalam fikiranku, seharusnya jika ingin melakukan sebuah gebrakan, maka sudah sepatutnya dipersiapkan hal-hal dasar beserta strateginya. Misal, sebelum memulai di sosial media, alangkah lebih baik membentuk tim kerja inti. Meski sekuat apapun media sosial, hal nyata itu juga masih sangat penting. Dalam kasus ini, pembuatan grup ikatan mahasiswa tingkat desa. Bagaimana jika langkah awalnya itu, mengumpulkan atau mengundang setidaknya satu mahasiswa perwakilan masing-masing dusun. Lalu disana, sampaikanlah niat, harapan dan segala macamnya.

"Saya ingin membuat grup Ikatan Mahasiswa desa, tujuannya untuk menjadi penggerak dari karang taruna yang sedang saya coba untuk hidupkan kembali. Tentunya disini saya tidak bisa bekerja sendiri, karenanya, mari kita bentuk tim dan samakan persepsi yang selanjutnya akan kita jadikan visi misi"

Begitu kesepakatan sudah ada, baru lah sekumpulan mereka bergerak. Ingin memulai dari membuat grup chat WA, maka akan dengan mudah mengkoordinirnya. Masing-masing perwakilan dusun memasukkan teman-teman yang berkuliah ke dalam grup WA, sehingga akan dapat data valid. Berapa anggota dari dusun A, B, C, dan D, mudah dalam pengumpulan datanya. Tentu pada deskripsi grup, sudah terpampang tujuan dan visi misinya. Berembuk visi misi ? Rapat visi misi ? Tidak perlu lagi. Nanti ada yang membangkan ? Tentu tidak, karena sebelumnya juga harus dibahasakan pada undangan saat mengajak rapat para pemuda perwakilan dusun.

"Besok datang ke rumah ya, dalam rangka mengaktifkan kembali karang taruna yang sebagai penggerak utama adalah para sarjana. Jika memungkinkan, koordinasi dengan teman-teman yang ada disana"

Jadi si perwakilan dusun ini juga sudah bilang sama teman-teman yang ada didusunnya,

"Gaes, besok ada undangan rapat dari si B dalam rangka mengaktifkan kembali karang taruna. Akan menyamakan tujuan visi misi dan segala macamnya, jika ada yang ingin ikut silahkan, jika tidak ada maka tidak apa-apa, dan jika ada yang ingin disampaikan tapi berhalangan hadir, bisa titipkan usulannya sama saya untuk dibahas bersama nanti"

Dengan begitu, saat grup chat WA terbentuk, tak ada lagi yang menanyakan tujuan visi misinya apa. Melainkan akan menanyakan program-program kerjanya, kalau pun ada yang bertanya tentang tujuan dan visi misa, paling hanya menanyakan maksud dari point A, B, C apa.

_____💜______

Namun semua itu sudah terjadi, yang didahului adalah grup chat tanpa berkoordinasi lebih dulu. Berandai-andai tak akan menyelesaikan yang sudah terjadi, sekarang tugasnya adalah mencari solusi. Bagaimana caranya agar grup chat tersebut aktif, hidup, dan bermanfaat. Sebab kenapa, banyak para anggota grup bertanya dan berkata

"Tujuan grup ini apa ?"

"Visi misi grup ini apa ?"

"Ujung-ujungnya nanti grup ini akan menjadi grup terbengkalai dan mati"

"Grup apa lagi ini, sudah kebanyakan grup"

"Grup gag jelas"

Terlepas dari harapan-harapan dan angan-angan ku di atas, kita kembali ke realita, bahwa seharusnya tidak begitu seorang mahasiswa yang terhimpun dalam satu desa yang sama. Mahasiswa harus bisa melepaskan rasa kepemilikan, entah 'kepemilikan saya' atau 'kepemilikan dia'.

Berdasrkan analisis ku, di grup itu terdiri dari mahasiswa yang menganut sistem

"Kan dia jadi depan, jadi tugasnya dia"

"Kan bukan saya adminnya"

"Bukan saya yang buat grup, jadi, biarkan saja dah dia yang ngurus"

Karenanya grup sepi, mahasiswanya mungkin berfikir seperti itu. Seharusnya lepas rasa 'kepemilikan dia', misal

"Kita satu desa, sudah seharusnya saya hidupkan grupnya"

Maka dengan begitu, grup chat akan terasa  jelas sembari menunggu hal-hal yang lebih jelas lagi.

Bukan begitu ?

_____💜_____

Tidak ada komentar:

Posting Komentar