Zihan POV
"Assalamu'alaikum"
sapaku lewat media sosial whatsapp
"Wa'alaikumsalam"
balasnya singkat
"Sekali
saja, bolehkah kita bertemu ?"
"Berdua
?" Ia balik bertanya
"Iya"
"Kau
perempuan bercadar, apa kata orang jika melihatmu berduaan dengan
laki-laki"
Selalu begitu jawabannya setiap
ku ajak jalan berdua, dia laki-laki yang kucintai selama delapan tahun lamanya.
Terjeda empat tahun, dan kembali menjalin komunikasi di minggu terakhir bulan
desember.
"Tak ada
yang tahu bahwa kita bukan kekasih halal"
Begitupun dengan diriku, selalu
menyanggah seperti itu.
"Allah
Maha Tahu"
Aku tidak bermaksud merendahkan
diri, menghilangkan malu sebagai perempuan bercadar. Aku hanya ingin
menuntaskan rasa, membaik lalu pergi bersama kenyataan yang ada. Ini bukan hal
baik, tak pantas untuk diturut. Tapi aku benar-benar ingin tahu, melihat dan
mendengar, apakah kita mempunyai kemungkinan untuk bersama. Ku desak ia, hingga
tersampaikanlah kalimat.
"Baiklah,
dimana ?"
"Di
pantai yang sering kau kunjungi"
Hari berlalu, waktu bertemupun
tiba. Seperti biasa, aku mengenakan pakaian hitam-hitam. Sekilas, aku nampak
bak seperti perempuan sholehah. Tapi lihatlah, aku berkhalwat di indahnya alam.
Ingkar terhadap ilmu yang di dapat !! Ku fikir aku akan tiba lebih awal,
ternyata kendarannya lebih dulu terparkir disana.
"Asaalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Ia tengah duduk seorang diri di
salah satu peranginan, debaran dahsyat. Jantung begitu cepat memompa darah,
membuatku merasa panas. Hati bersuara
"Hey,
laki-laki yang kau cinta begitu lama. Laki-laki yang kau ingin, yang kau
elu-elu dalam doa. Yang kau rundingkan dalam sidang-sidang agung di sepertiga
malam, lihatlah sekarang dia ada disampingmu"
Aku tak langsung duduk di
sebelahnya, begitu selesai ia jawab salam. Aku berkata
"Boleh
kita duduk lebih dekat dengan pantai"
Ia mengikuti mau ku, bukan kali
ini saja. Setiap hari dan dari dulu ia memang terlihat tampan, baju kemeja dan
jam tangan warna hitam, serta celana levis membuat ku merasa seperti sepasang
kekasih. Pakaian senada tanpa rencana, pemikiran bocah. Cukup lama kita duduk berdua, belum ada yang
membuka suara. Aku yang mempunyai hajat, memulai lebih dulu.
"Ada yang
ingin kukatakan"
"Itu yan g ku tunggu dari tadi, katakanlah"
"Aku
mencintaimu, apa bisa kita menikah ?"
"Maaf,
ada seseorang yang ku tunggu. Aku sudah mengikat komitmen dengannya, akan
menikah dua tahun lagi. Tidak ada kemungkinan untuk kita bersama, kau boleh
pergi jika kau ingin. Aku tak memaksamu untuk tinggal meski hanya untuk
berteman"
Patah
"Baiklah,
aku pamit"
Andai saja ia setegas itu saat
chating, mungkin aku tak akan serendah ini hanya untuk mencari sebuah
kepastian. Berapa dosa yang di sengaja hari ini ?
Menangis, tentu. Aku bersepakat
dengan hati, tak akan patah lagi. Rasa, hal yang tak bisa dikendalikan tanpa
campur tangan sang Pencipta. Kembali, berjanjilah kau akan mengangkat derajat
pakaian yang kau rendahkan.
Sesampai di rumah, aku menghapus
air mata. Berkata kepada saudara,
"Tahun
ini, Allah tak kirimkan ku jodoh lagi. Kau masih ingatkan, kemarin aku berkata
apa ?"
"Iya,
jika tahun ini kau tak menikah maka kau akan lanjut kuliah"
Aku pergi ke ibu kota, menata
asa, membuang rasa, dan memulai sesuatu yang lebih bermakna selain dari cinta.
____Part 2___
Nandra POV
Mendapat
pengakuan cinta dari seorang perempuan sudah menjadi hal biasa, ada yang ku
terima ada pula yang ku tolak. Seperti halnya hari ini, aku menolak seorang
gadis baik. Ia mencintaiku sejak kita duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, sebelum
kelulusan ia juga pernah mengatakan perasaannya. Aku mengabaikannya, menolak
untuk memberi jawaban. Tidak 'yes' tidak juga 'no', dia terlalu baik jika untuk
di tolak. Tapi untuk mencintainya aku tak bisa, dari semua segi, kita tak
memiliki kecocokan.
Aku sempat berkata padanya
"Bisa saja kita pacaran,
hanya saja aku tak mau menyakitimu. Aku mudah bosan, aku tak ingin kita menjadi
mantan. Tetap saja berteman seperti ini"
Hari ini, kubiarkan ia pergi.
Membawa semua kebaikannya, mungkin suatu saat aku akan teringat akan
kepeduliannya.
Dua puluh
empat tahun, usia yang sudah lumayan matang untuk menjalin komitmen yang
serius. Aku mengencani seorang gadis, kita sepakat untuk menikah dua tahun lagi
selepas ia kuliah. Aku setuju !! Aku ikut serta mengambil banyak peran dalam
proses kuliahnya, aku menemaninya mengerjakan tugas, mengantar dan
menjemputnya. Tak jarang, aku juga membantunya dengan sedikit materi. Meski ia
terlahir dari keluarga berada, perhatian dari seorang pacar pasti tetap ia
butuhkan. Aku ingin menjadi kekasih yang baik dan peduli !!!
Dua tahun
berlalu, ia menyandang strata satu keperawatan. Aku mengingatkan akan komitmen
kita, jawaban tak terduga keluar dari bibir indahnya
"Ibu
meminta ku untuk mengambil profesi di Jakarta"
"Tidak
apa-apa, kuliah sambil menikah lebih bagus. Aku sempat membaca postingan
tentang itu" jelas ku
"Ibu
tidak ijinkan, bisa menunggu ku setahun lagi. Hanya sampai profesi, gag bangga
nanti istrinya bergelar S.Kep., Ners"
Ia tersenyum, memelas dan
menggandeng tangan ku. Aku mengiakan, setahun itu sebentar. Penantian dua tahun
saja tak terasa. Hanya sebulan waktu bersama, lalu ia berangkat ke Jakarta
"Chat
whatsapp, chat massanger, pesan singkat, telephon, video call, voice note"
Rasanya, aku ingin menyusulnya ke
Jakarta. Meski laki-laki, tetap ada rindu di hati. Menitipkannya kepada sang
Pencipta melalui doa-doa, semoga ia bahagia dan segera kembali untuk memulai
hubungan yang abadi. Menunggunya membuat ku selalu di bully, laki-laki seusiaku
sudah menikah dan bahkan sudah mempunyai beberapa orang anak.
"Menikah
sama yang lain saja"
"Gag
laku, sendiri belum menikah. Jomblo karatan"
"Jangan
menjomblo sampai tutup usia."
Ejekan beberapa orang yang di
sebut dengan teman, mereka menganggap bahwa menikah itu adalah perlombaan. LDR,
Long Distance Relationship, entah mengapa itu membuatku semakin bijak. Aku
ingin segera mengakhiri hubungan yang di sebut pacaran ini, tak baik dalam
islam. Kami juga sekarang jarang menghubungi, ia selalu berkata
"Maaf
sedang banyak tugas, kuliah saat S.Kep berbeda dengan Ners. Lebih banyak tugas,
maklumi yaa ?"
Sebagai laki-laki, yang hanya
mengecap bangku sekolah Menengah Atas aku hanya mengiakan. Tak tahu dan tak
punya gambaran seperti apa bangku kuliah itu. Ego harus direndahkan,
"Iya gag
apa-apa, fokus aja sama kuliahnya biar cepat selesai. Hanya bisa bantu dengan
doa"
Ia balas hanya dengan emoticon
smile.
Hari itupun
tiba, hari dimana ia kembali dari ibukota. Tentu ia menghubungi ku, membertahu
jam kedatangannya. Aku mencintainya, tapi aku harus bekerja, aku tak dapat ikut
menyambut kepulangannya. Ia kata,
"Tak
masalah, semangat bekerja"
Mungkin ini yang di sebut dengan
'dewasa', saat sikap pengertian mampu kita miliki dalam sebuah hubungan.
Sepulang kerja aku menghubunginya,
"Besok
libur kerja, mau pergi jalan-jalan ?"
Mungkin saja ia lelah, atau ingin
meluangkan waktu lebih untuk keluarga. Sehingga aku tak serta merta langsung
mengajaknya, mengajukan pertanyaan agar ia tak merasa sungkan.
"Boleh,
serasa meninggalkan pulau tercinta berabad-abad lamanya. Ajak aku keliling,
dari senggigi hingga ke puncak sana."
Sesuai
rencana, aku menjemputnya di luar rumah. Ia tak pernah mempersilahkan ku masuk
bertemu orang tuanya, entah bagaimana caranya meminta izin keluar. Aku selalu
abai akan hal itu, tapi lama kelamaan membuat penasaran. Akan kutanyakan lain
kali, hari ini biarkan menjadi hari yang indah untuk rindu yang akhirnya berujung
dengan temu.
"Indah
yaaa"
Katanya membentangkan tangan
menghirup udara pagi yang masih segar
"Mau
mampir ?" Tanyaku
"Nanti
saja, di pantai perbatasan Lombok Barat dan KLU"
"Baiklah"
Ia kembali melingkarkan tangannya
dipinggangku, menyandarkan kepalanya dipunggungku.
"Mungkinkah
kita akan bersama ?"
"Kenapa
bertanya seperti itu ?"
"Hanya
ingin mendengar jawaban saja"
"Pasti
mungkin" jawabku
Kami berkendaraan cukup pelan,
benar-benar menikmati waktu sambil berjalan.
"Sebentar
lagi pembukaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), pasti izin masih
sulit"
"Tidak
apa-apa, aku cukup bahagia kita berada di pulau yang sama. Jika memang begitu,
semangat belajar"
Aku memegang tangannya yang
melingkar dipinggangku
"Terimakasih,
aku senang mendengarnya"
Hari yang indah, yang sama-sama
kita tutup dengan senyuman.
Ternyata
begini orang berpendidikan, tak berhenti belajar meski sudah menyandang gelar.
Layaknya LDR, kita teramat jarang pergi keluar. Hanya sesekali, dan singkat.
"Tes CPNS
saingannya ketat, harus benar-benar belajar jika ingin lulus. Meski memang,
penentu segalanya adalah Sang Pencipta. Tapi ikhtiar juga harus seimbang dengan
doa, bukan begitu ?" Tanyanya
Aku tersenyum mengiakan
"Bagaimana
pekerjaannya ?"
"Alhamdulillah
lancar, cukuplah untuk makan setelah nikah" jawabku
Ia pun tersenyum sambil menyesap
ice lemon tea miliknya. Hari berlalu, tes demi tes ia lewatkan. Nomor Induk
Pegawai (NIP) sudah ada di bawah namanya, beberapa bulan setelah itu ia
memintaku untuk datang kerumahnya. Tapi sebelum itu, aku terlebih dahulu
berkata kepada orang tua dan teman-teman yang hobi membully.
"Lihatlah,
aku akan menikah sebentar lagi"
Menyombongkan diri, akan melepas
masa lajang seperti bullyan mereka. Sesampai dirumahnya, ia menyambutku namun
bukan dengan wajah ceria. Setelah mengucap salam, aku bertanya
"Kenapa
?"
"Masuk
dulu" katanya
Disana ada ayah dan ibunya,
setelah ngobrol lama ayahnya pamit dan tinggal ia dengan ibunya.
PENOLAKAN !!
Mereka tak bisa menikahkan
anaknya dengan ku, meski kalimatnya halus tapi tetap menusuk. Bagaimana tidak,
harta, pendidikan, pekerjaan, semua orang tuanya rendahkan. Ia akan dijodohkan
"Lupakan,
memperbaiki keturunan itu perlu. Tapi jika dia menikah dengan mu, itu bukan
memperbaiki keturunan tapi merusak keturunan."
Orang kaya, berpendidikan, tapi
seolah lupa pada Tuhan. Mungkin tidak semua, tapi pasti ada. Anehnya ia hanya
diam, tak ada pembelaan. Aku pamit, tentu dengan hati yang teramat sangat
pahit. Disaat membayangkan akhir yang manis dari sebuah penantian, memakan
waktu, rindu dan rasa yang merongrong jiwa. Aku ingin menyelam ke dalam
hatinya, mencari tahu ada apa disana. Malamnya kami bertemu
"Kenapa
hanya diam saja"
Intonasi sudah tak selembut dulu
"Pada
akhirnya aku tak bisa menentang keinginan orang tua, secinta apapun aku"
"Bulshit,
ayo kita kawin lari. Bukankah begitu adat di pulau ini"
Ia terdiam
"Cinta,
bisa membuat perasanya melakukan apa saja. Dan kau tak berani melakukan itu,
berarti tak ada cinta disana"
Aku menunjuk dadanya tanpa
menyentuh, lalu meninggalkannya sendiri.
Baru kemarin
menyombongkan diri akan melepas masa lajang, sekarang telah dicampakkan. Malu,
jelas. Aku bermalam di rumah teman, rasanya berat untuk pulang bertemu
mereka-mereka. Hanya ibu yang kuhubungi,
"Bu,
malam ini saya gag pulang. Akan bermalam dirumah teman"
Ibu tak terlalu risau karena aku
laki-laki, berbeda dengan kakak perempuan yang di jaga sangat ketat sebelum
menikah. Pantai, pelarian yang tepat. Bagiku, ia mampu menterapi jiwa dan
membawa ketenangan.
Disana,
diayunan tua pantai ini, ada dia yang sudah lama hilang. Sosok perempuan
bercadar, dengan pakaian hitamnya dan lingkar sorban pemberianku dilehernya.
Aku tak sedekat itu dengannya untuk menyapa lebih dulu, terus ku perhatikan
dari kejauhan. Ia memasukkan sorbannya ke dalam tas punggung, berdiri lalu
pergi. Aku tak tahu, bahwa aku parkir di samping kendarannya. Ia melihat ku,
"Ndra"
sapanya
Aku berfikir ia akan acuh tak
acuh atau pura-pura tidak saling mengenal, mengingat betapa dalam luka yang ku
beri untuknya.
"Hay
Zi"
"Sedang
apa ?" Tanyanya
"Melepas
penat" jawabku
"Masih
pagi sudah penat" lanjutnya
"Penat
yang kemarin-kemarin, Zihan ngapain disini ?" Tanyaku balik
"Menikmati
keindahan tersembunyi dari pantai ini"
Aku merasa ia tersenyum dari
balik cadarnya, meski matanya tak menyipit karena kelainan syaraf wajah yang ia
derita. Hanya saja, aku merasa ia tengah tersenyum.
"Pantai
ini tak memiliki keunikan, tak memiliki nilai lebih dibanding pantai-pantai
lain yang sejajar dengannya"
"Dimana-mana
pantai itu sama, tergantung dengan siapa kita menikmati waktu dan mengukir
kenangan disana"
"Zi
?" Panggilku
"Iya
Ndra, kenapa ?"
Belum sempat aku menjawab, ia
melanjutkan kalimatnya.
"Tau
Ndra, ini kali pertama aku mendengar namaku di panggil 'Zi'"
"Maaf"
"Gpp"
"Zi
?"
"Iya,
kenapa ?"
"Boleh
kita bertemu lagi besok pagi disini ?"
Ia terdiam.
Ternyata, aku
butuh pelarian lebih dari sekedar pantai. Perasaannya yang baik, perasaannya
yang tulus, selalu memberi celah untuk aku memanfaatkannya.
Kenapa ia sapa ?
Kenapa ramah ?
Kenapa ia kembali ?
Kenapa tidak pergi saja dan
jangan saling tegur lagi ?
Pelabuhan rapuh
____Part 3___
Zihan POV
Selepas wisuda
untuk pendidikan Magister Farmasi, aku kembali ke tempat kelahiran. Membawa
serta kesuksesan yang ku rintis di ibukota, hadiah dari Sang Pencipta atas luka
yang di redam banyak sabar. Aku sempat menceritakan kisah cinta ku kepada
seorang teman, ia berkata
"Bisa
saja kau main dukun, merusak hidupnya, mengganggu dia, bukan karena cinta mu di
tolak, tapi karena rasa mu yang dimanfaatkan dengan kejamnya. Ia tak
mencintaimu, namun bukan malah meninggalkan, melainkan memberi harapan dan
angan-angan. Kau bisa menghukumnya atas dasar itu, kenapa diam saja ?"
Aku ingin merespon dengan banyak
kalimat, bahkan kata-kata caci maki. Tapi hati sudah tidak bermain dengan rasa,
ia malas. Aku hanya menanggapi
"Untuk
apa mengharap cinta dari seorang laki-laki yang dihatinya sudah ada orang lain,
obat terbaik dari sakit yang seperti ini adalah menjadi lebih dekat dengan sang
Pencipta lalu pinta agar dunia bisa menjadi kendaraan menuju surga. Fokus pada
hidup, dan sukseslah"
"Hebat !
Sabar tingkat tinggi. Memang, kadang patah hati bisa membuat seseorang lebih
semangat menjalani hidup" ucapnya
Aku hanya terdiam, dan memutuskan
untuk mengakhiri percakapan saat itu. Hingga hari ini aku masih teringat
kata-katanya.
Sabar tingkat tinggi ?
Malu, saat ada seseorang mengatakanmu
orang paling sabar padahal sejatinya diri hanya sedang 'bodo amat' untuk
hal-hal yang tak bisa dikendalikan. Tentang rasa, tentang Nandra yang tak
pernah bisa suka. Egoisnya lisan, saat berkata 'aku baik-baik saja' sedang hati
tak lagi berwarna merah merona melainkan keungu-unguan. Memar, memendam
manisnya dusta.
"Kita
hanya teman, aku tak mencintainya lagi"
Selalu seperti itu, saat ada yang
bertanya
"Ada
hubungan dengan Nandra yaa ?"
Aku berdusta, agar mereka percaya
bahwa sudah tak ada rasa untuknya. Hanya ditulisan ini dan di dalam doa aku
berani berkata, meski bibir berucap 'tak ada rasa untuknya' tapi di tengah
sakitnya hati, ia selalu menggaungkan
"Yaa
Allah, meski lisan berkata sudah menerima tapi hamba tetap berharap Kau memberi
kejutan dengan membuatnya berkata 'maukah kau menikah dengan ku'"
Aku masih menginginkannya,
mungkin akan benar-benar lupa saat menyaksikan sendiri ia berada di pelamina. Kematian
dan pernikahan, hanya itu yang bisa membuatku melupakan seseorang saat aku
sudah jatuh cinta dengannya.
Kembali, aku
disambut dengan senyum hangat keluarga, ayah, ibu, saudara, dan yang lainnya.
Selesai pendidikan, langsung bekerja, itu adalah sebuah kebanggaan. Terlebih
sekarang kau punya segalanya yang disebut dengan harta, meski tak banyak yang
tahu kau kaya. Hari kedua setelah kembali dari ibukota, aku ijin pergi
berlibur. Sebuah pantai yang akan mengingatkanku pada dua rasa, bahagia dan
luka. Delapan tahun ingin menjalin kata dengannya, di pantai ini Allah
kabulkan. Delapan tahun ingin bersama dengannya, di pantai ini pula Allah
patahkan. Dua rasa dalam waktu yang sama.
Pantai ini
masih seperti yang dulu, peranginannya, ayunannya, penjual-penjualnya. Secepat
apapun waktu berlalu, ia tak akan pernah mampu menghilangkan sebuah kenangan. Aku
rasa cukup untuk hari ini, esok lagi. Dan hari-hari selalu seperti itu,
mengunjungi pantai ini adalah bagian dari rutinitasku. Menantang takdir, mungkinkah
kita akan dipertemukan tanpa sengaja, tanpa rencana ?
Dan hari ini, saat fajar
menyingsing tinggi. Aku dikejutkan oleh sosoknya
"Ndra"
sapa ku
Sedang apa ia sepagi ini, apa ia
sudah menikah ? Ini sudah lebih dari dua tahun komitmen yang ia kata ? Mungkìn
ia tengah liburan dengan keluarga, mengingat hobinya berpiknik, membawa bekal
dari rumah. Dia benar-benar laki-laki sederhana dan unik. Terlalu asik bermain
dengan fikiran sendiri, aku tak sadar ternyata ia memanggil namaku. Dua belas
tahun, dari bangku Sekolah Menengah Atas, ini kali pertama ia memanggilku. 'Zi,
Zihan'
Tak ada diksi yang mampu
kugunakan untuk mengungkapkan bahagia hari ini, ia semakin membuatku mematung
saat berkata
"Boleh
kita bertemu lagi besok pagi disini ?"
Aku mengiyakan, tapi setelahnya
aku memberanikan diri untuk bertanya
"Sudah
menikah Ndra ?"
Ia tersenyum
"Belum"
Terlihat pahit dan getir, entah
kenapa hatiku merasa sedih melihat senyumannya yang seperti itu. Namun tak
mungkin ku korek lebih dalam, ia tak terlalu suka dengan orang asing yang ingin
mencampuri hidupnya. Aku buka siapa-siapanya, hanya mengangguk dan berkata
"Baiklah,
sampai bertemu besok"
Aku meninggalkannya dengan rasa
penasaran, ada apa dengan senyum getir itu ? Semoga besok menuai jawab. Ada
bagian dari diri sorak sorai, mendengar ia belum menikah. Serasa seperti akan
lebaran, tak sabar menunggu pagi tiba. Saat waktu subuh, aku menunaikan kewajiban
serta mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Aku membuat bekal, omurice
dan nugget ayam beserta saos-saosnya. Selalu ia tiba lebih awal, mungkin karena
rumahnya terletak dua atau tiga kilometer dari sini.
"Assalamu'alaikum"
sapaku
"Wa'alaikumsalam"
Aku tak menyia-nyiakan kesempatan
ini, aku benar-benar memperkenalkan diriku dengan tingkah laku yang baik. Semua
serba pertama kali, pertama kali ia sebut namaku, pertama kali ia ajak aku
menikmati pantai, pertama kali memberi waktu untuk berdua.
"Sudah
sarapan ?" Tanyaku
"Sudah"
jawabnya
Selalu seperti itu, singkat. Aku
bisa melihat kecanggungannya, ia nampak tak terbiasa denganku. Aku berusaha
membuat suasana menjadi biasa-biasa saja, basic ku sebagai orang pelayanan
benar-benar kumanfaatkan.
"Hmmm,
aku membuat omurice sama nugget ayam. Cobalah ?"
Lalu aku membuka dan menyodorkan
padanya
"Bagaimana
?"
"Enak,
buat sendiri ?"
Kalian tahu, rasanya bahagia
banget.
"Buat
sendiri, hanya saja nugget ayamnya di buat oleh ibu dan aku yang goreng tadi
subuh"
Entah ia rasa atau tidak, yang
jelas aku tersenyum dari balik cadar. Tak ada respon darinya, diam sambil terus
makan.
"Mau
minum apa, kopi, teh, es, atau air putih ?"
"Air
putih saja"
Semua bekal yang ku bawa ia
habiskan, lalu suasana kembali menjadi kaku. Aku memahami dirinya, tahu betul
akan menjadi kaku jika bertemu. Karena rasa paham ini, aku merendahkan ego dan
selalu berusaha mencairkan suasana.
"Ndra,
bisa bantu foto diayunan ?"
"Ayo"
Setelah mengambil spot diayunan,
lalu aku bermain air. Basah tentunya, tapi tak masalah. Owch yaa, ayunan itu
mempunyai dua ruang. Aku tak pernah menyangka ia akan melakukan hal itu, ia
berkata kepada salah seorang pengunjung yang lewat
"Bisa minta
tolong, foto kami di sini"
Kami duduk sejajar di ayunan
"Terimakasih"
Katanya kepada orang yang
memotret kami
"Kirim
foto-foto itu nanti"
Tidak hanya kata-kata, ia juga
bisa membuat suasana biasa menjadi terasa manis. Entah itu karena dirinya, atau
karena cinta yang ada di dada.
----To Be Continue---



